Ini Biaya Kapal Lewat Selat Hormuz yang Dipatok Iran

11 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi episentrum dalam upaya penyelesaian perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran.

Selat Hormuz yang saat ini berada dalam 'penguasaan' Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam proposal perdamaian, Iran mengajukan syarat pengendalian Selat Hormuz kemungkinan tarif hingga US$2 juta (sekitar Rp34,19 miliar). Namun, hal tersebut belum diakui AS.

Sejak diserang AS-Israel pada akhir Februari lalu hingga kini, Iran membatasi lintasan kapal dan mewajibkan koordinasi militer.

Bahkan, sebagian kapal harus membayar biaya untuk mendapatkan jalur aman. Rencana pungutan Iran menuai penolakan internasional karena dinilai melanggar hukum laut (Unclos). Namun, operator kapal diperkirakan tetap mematuhi demi keselamatan.

Mengutip dari Strait Times, berdasarkan laporan terbaru Llyod yang tertera di situs Kemendag China mengatakan kapal-kapal sudah membayar US$2 juta untuk melewati Selat Hormuz.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam pelayaran dunia, karena jalur perairan itu dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Sebelumnya, selama krisis, hanya kapal-kapal dari negara tertentu yang diizinkan melintas, termasuk China. Sementara kapal negara lain harus membayar biaya--yang dilaporkan dalam mata uang Yuan.

Perkembangan terbaru, AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan itu tercapai saat konflik memasuki hari ke-40. Perundingan lanjutan menuju perdamaian dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Jumat (10/4) mendatang.

Namun, Berdasarkan data pelacakan kapal, sangat sedikit kapal yang melewati jalur itu sejak AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, pada Selasa (7/4).

Data dari perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan hanya lima kapal yang melintas pada Rabu, turun dari 11 kapal sehari sebelumnya. Sementara itu, tujuh kapal tercatat melintasi selat pada Kamis.

"Meskipun beberapa pergerakan kapal telah dilanjutkan, lalu lintas sangat terbatas, pemilik kapal akan tetap berhati-hati, dan kapasitas transit yang aman diperkirakan akan tetap terbatas maksimal 10 hingga 15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan, tanpa mempertimbangkan biaya tol," ujar analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, pada Kamis (9/4), dikutip Al Jazeera.

Selain itu, menurut data dari Lloyd's List Intelligence, lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker yang masih berada di Teluk akibat penyumbatan selat itu.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menuding Iran tidak menjalankan komitmennya dalam membuka "jalur aman" selama masa gencatan senjata.

"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan membiarkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki," tulis Trump di media sosial.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai AS justru tidak menghormati kesepakatan.

Ia juga memperingatkan Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau membiarkan konflik berlanjut, merujuk pada serangan Israel di Lebanon.

"Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon," kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial.

(kid/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |