Jalur Maut Curug Cileat Subang, Tewaskan Dua Wisatawan

3 hours ago 1

LOKASI wisata Curug Cileat di Kabupaten Subang memiliki pesona empat air terjun yang memikat ratusan pengunjung saat akhir pekan. Walau begitu, sebagian jalur aksesnya yang diapit tebing dan jurang merupakan area berbahaya. Kejadian terbaru pada Jumat, 15 Mei 2026, longsor menewaskan dua orang pelancong setelah mereka terseret lalu tertimbun material gerakan tanah.

Tempat wisata itu dikelola bersama Perhutani dengan desa serta masyarakat setempat yang menghuni Kampung Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Menurut warga yang ikut mengelola, Endang Alfajri, destinasi air terjun itu dibuka sejak 2000-an.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sepanjang jalur akses Curug Cileat, dari arah masuk atau posko ada curug atau air terjun yang dinamakan Citorog, Cimuncang, Cimuncang Pasir, dan terkahir Curug Cileat. “Lama perjalanan 1-2 jam berjalan kaki sekitar 3,2 kilometer,” kata Endang, Ahad, 17 Mei 2026.  

Endang mengatakan pada kondisi cuaca mendung atau hujan pengelola akan menutup akses masuk. Saat musim hujan lokasi wisata itu sempat ditutup sementara selama sepekan.

Harga tiket masuk Rp 10 ribu per orang ditambah biaya parkir sepeda motor Rp 10 ribu, dan mobil Rp 20 ribu. Pengunjung antara lain berdatangan dari sekitar Subang, Bandung, Karawang. Jam buka normal mulai pukul 06.00 – 14.00 WIB kalau cuaca cerah. Pengunjung disarankan masuk pagi supaya tidak kepanasan dan kelelahan.

Menurut warga lainnya yang menjaga parkir, Muhammad Yusuf, potensi bahaya di trek seperti yang sering terjadi adalah batu jatuh. Monyet liar juga perlu diwaspadai karena bisa membuat batu berjatuhan. Lokasi rawan itu berada di antara air terjun pertama dan kedua. “Kami selalu mengingatkan hal itu ke pengunjung walau ada yang tidak memperhatikan,” ujarnya. Pada titik tertentu yang rawan longsor juga dipasang rambu peringatan.   

Pada hari kejadian, Jumat 15 Mei 2026, cuaca yang semula cerah berubah mendung, lalu hujan deras disertai angin kencang. Begitu mendengar kabar ada pengunjung yang terjebak longsor, Yusuf bergegas ke lokasi sambil membawa radio komunikasi, pacul, dan parang. Warga lain mengikuti.

“Lokasinya di area yang landai sebelum air terjun terakhir. Mereka mau pulang,” kata Yusuf. Di perjalanan Yusuf menggali informasi dari ketiga rekan korban yang selamat dan minta pertolongan ke warga.

Sore itu sekitar pukul 15.00, menurut Yusuf, sekitar 50 warga langsung mencari korban di lokasi longsor secara manual. Beberapa petunjuk posisi korban diketahui dari temuan sepatu, parfum, dan ponsel. Namun begitu, hingga pukul 22.00 mereka belum dapat menemukan korban yang diketahui bernama Alda Apriliani, berusia 22 tahun, warga Cikampek; dan Winda Limbong, berumur 20 tahun, dari Karawang, Jawa Barat.  

Kedua korban baru berhasil ditemukan Sabtu siang, 16 Mei 2026, dalam posisi yang berdekatan di kedalaman sekitar dua meter.  Mereka terbawa longsor dari tebing yang memotong lintasan pengunjung hingga ke dalam jurang mendekati aliran sungai. “Kalau longsor yang menggerus wisatawan ini baru pertama kali terjadi,” kata Yusuf. 

Sementara itu, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Bandung Ade Dian Permana mengatakan ketiga rekan korban langsung menyelamatkan diri begitu mendengar suara gemuruh. “Namun dua korban lainnya diduga tidak sempat menghindar sehingga tertimbun material longsor,” ujar Ade dalam keterangannya, 16 Mei 2026. Berdasarkan informasi yang diterima SAR, kejadian longsor dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan di sekitar lokasi.

Setelah peristiwa itu, menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Subang Udin Jazudin, untuk sementara waktu kunjungan ke lokasi wisata Curug Cileat ditutup. “Kami perlu koordinasi dengan beberapa pihak dan hasil kajian,” katanya Ahad, 17 Mei 2026. Sepengetahuannya, longsor yang memakan korban jiwa ini baru pertama kali terjadi.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |