Tim Film Pesta Babi Hormati Laporan Mama Yasinta ke Polisi

8 hours ago 4

TIM kolaborasi pembuat film Pesta Babi menyatakan menghormati keputusan Yasinta Moiwend atau Mama Yasinta mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta dan mempersoalkan film Pesta Babi. Para pembuat film itu terdiri dari Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc.

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam memproduksi film ini menyatakan Mama Yasinta Moiwend adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk diri dan komunitasnya, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter ini berlangsung.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Karena itu, mereka meminta publik tidak menyudutkan keputusan Mama Yasinta tersebut. “Kami meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” tulis tim kolaborasi pembuat film Pesta Babi dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 30 Mei 2026. 

Mama Yasinta adalah tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan dari Suku Marind-Anim, Merauke, Papua Selatan yang muncul dalam film Pesta Babi dan posternya. Perempuan paruh baya ini mendapat penghargaan S.K. Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen karena memperjuangkan hak masyarakat adat dalam mempertahankan tanah ulayatnya dari proyek food estate.

Menurut keterangan tertulis dari tim kolaborasi pembuat film Pesta Babi, sejak video pengakuan  keberatan Mama Yasinta atas penggunaan wajahnya dalam film Pesta Babi tersebar pada 23 Mei lalu, Mama Yasinta belum dapat dihubungi atau ditemui langsung. 

Tim produksi mengaku hingga saat ini masih berupaya membuka jalan komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya. “Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua,” tulisnya. 

Adapun dalam video keberatan yang tersebar pada 23 Mei lalu itu, Yasinta mengaku kecewa wajahnya ditampilkan dalam film dan digunakan dalam poster promosi film tersebut. Ia juga menyatakan jika dia sudah mengambil keputusan bekerja di perusahaan untuk merenovasi rumahnya. 

Menurut dia, ia sudah tidak bergabung dengan lembaga bantuan hukum atau LBH Papua Pusaka yang kerap mengadvokasi perjuangan masyarakat adat.

Menurut pengakuannya, Yasinta bersama masyarakat suku Marind lain diajak pria berama Aris untuk menolak pembukaan lahan di Papua. Ia mengklaim, tidak menyangka partisipasinya menjadi viral dan menjadi aset untuk film Pesta Babi.

"Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH,” kata Yasinta dalam keterangan tertulis, Ahad, 24 Mei 2026, dilansir dari Antara.

Pada Jumat, 29 Mei 2026, Yasinta mendatangi kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya untuk membicarakan soal film dokumenter Pesta Babi yang menampilkan dirinya. Menurut dia, keberadaannya di film Pesta Babi dilakukan tanpa izin. “Kenapa wajah saya ditampilkan di depan banyak orang tanpa seizin dari saya?” tutur Yasinta. 

Pengakuan Mama Yasinta tersebut menjadi perbincangan di tengah derasnya represi pemutaran film Pesta Babi. Sejumlah warganet berkomentar bahwa pengakuan Mama Yasinta dibuat ketika berada di bawah tekanan. 

Sementara itu, menanggapi kemunculan video pengakuan Yasinta, sutradara film Pesta Babi, Dhandy Laksono, menyatakan ia berhak membuat keputusan apa pun. “Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan,” kata dia lewat unggahan di Instagramnya pada Senin, 25 Mei 2026. Tempo telah diizinkan untuk mengutipnya.

Amelia Rahima Sari berkontribusi dalam penulisan artikel ini. 
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |