Viktor Orban Kalah Pemilu, Lengser usai 16 Tahun Pimpin Hungaria

8 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban kalah dalam pemilihan umum (pemilu) untuk pertama kalinya dalam 16 tahun.

Hasil hitung sementara pemungutan suara pada Minggu (12/4) menunjukkan kekalahan telak Orban atas rivalnya Peter Magyar, yang partainya meraup suara mayoritas.

Dilansir dari BBC, Orban telah mengakui kekalahan ini dalam pidato kepada para pendukungnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hasil pemilu ini jelas dan menyakitkan," kata Orban.

Magyar, dalam kesempatan terpisah, juga mengaku telah menerima telepon dari Orban dan menerima ucapan selamat dari sang PM.

"Viktor Orban baru saja menelepon saya dan mengucapkan selamat atas kemenangan kami," ujar pemimpin oposisi Hungaria tersebut.

Kekalahan Orban ini menjadi yang pertama sejak ia berkuasa pada 2010 lalu. Selama beberapa tahun terakhir, pamor PM 62 tahun tersebut meredup imbas stagnasi ekonomi dan melonjaknya biaya hidup, ditambah laporan tentang oligarki yang dekat dengan pemerintah yang mengumpulkan lebih banyak kekayaan.

Jajak pendapat di Hungaria telah menunjukkan Partai Fidesz pimpinan Orban tertinggal dari partai oposisi tengah-kanan pimpinan Magyar, Tisza, dengan selisih 7-9 persen. Tisza memperoleh elektabilitas sekitar 38-41 persen.

Hasil penghitungan suara sementara itu menunjukkan Tisza berpeluang meraih 138 kursi, lima kursi lebih banyak dari ambang batas 133 kursi. Kesimpulan ini diambil berdasarkan 96,37 persen suara yang telah masuk.

Hasil pemilu Hungaria ini menjadi salah satu sorotan dunia karena dinilai bisa mengguncang Rusia selaku negara sekutu. Hasil pemilu ini juga bisa mengirimkan gelombang kejut ke kalangan sayap kanan di seluruh Barat, termasuk Amerika Serikat khususnya Presiden Donald Trump.

Orban yang merupakan nasionalis euroskeptis dipandang sudah menciptakan model "demokrasi illiberal" dan dinilai sebagai cetak biru gerakan Make America Great Again (MAGA) Trump dan para pengagumnya di Eropa.

Trump berulang kali memuji dan mendukung Orban. Ia memandang Orban sebagai pembawa obor bagi sayap kanan Kristen nasionalis.

Masa jabatan Orban selama 16 tahun sementara itu juga menjadikannya sebagai kepala negara terlama di Uni Eropa. Hungaria adalah anggota Uni Eropa dan NATO. Tapi, Orban dekat dengan Rusia, khususnya Presiden Vladimir Putin.

Hubungan dekatnya dengan Putin telah membentuk keputusan Hungaria dalam memveto puluhan miliar euro bantuan Eropa untuk Ukraina. Sikap ini yang menyebabkan Hungaria kerap berselisih dengan negara-negara Eropa.

(blq/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |