Aktivis Korban Serangan Air Keras di Babel Alami Infeksi

7 hours ago 2

TIM medis Rumah Sakit Bhakti Timah (RSBT) Kota Pangkalpinang memutuskan Muhammad Rosidi, korban serangan air keras, harus menjalani operasi debridement untuk mengangkat jaringan mati atau rusak di kulit akibat infeksi.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) RSBT Derry Afrian mengatakan tim medis menjadwalkan pelaksanaan operasi terhadap Rosidi pada Kamis, 9 April 2026. Saat ini sedang menjalani rawat inap dan diminta menjalani puasa.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Operasi yang dilakukan masuk kategori operasi besar karena akan ada pengangkatan sel kulit mati dan pembersihan sisa air keras yang diduga masih ada. Operasi akan dilakukan langsung oleh dokter spesialis bedah RSBT dokter Hanno Ryanda," ujar Derry kepada wartawan, Rabu, 8 April 2026.

Derry menuturkan penanganan medis terhadap Rosidi sudah disiapkan oleh tim medis setelah menerima laporan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI kemarin

"Tim LPSK menghubungi kami kemarin memberitahukan soal ini. Hari ini yang bersangkutan langsung kami arahkan ke klinik prioritas untuk menjalani serangkaian pemeriksaan," ujar dia.

Menurut Derry, hasil pemeriksaan awal terhadap luka-luka yang dialami Rosidi ditemukan adanya sejumlah infeksi dan jaringan kulit mati. Hal itulah, kata dia, yang menjadi dasar tim medis memutuskan untuk dilakukan tindakan operasi. 

"Kondisi luka dengan infeksi itu sekitar 40 persen. Kalau ini tidak diangkat dan dibersihkan, nanti akan menjadi infeksi berat. Korban sepertinya mengira luka bakar yang dialami sama dengan luka bakar akibat api atau air panas sehingga hanya rawat jalan. Padahal luka akibat air keras jauh lebih berbahaya kalau dibiarkan," ujar dia.

Untuk biaya penanganan medis, Derry menyebutkan LPSK akan menjadi pihak yang melakukan penjaminan. Tim medis RSBT, kata dia, hanya fokus pada penanganan korban agar dapat ditangani dengan baik dan luka yang ditimbulkan secepatnya bisa pulih.

"Soal biaya yang ditimbulkan itu LPSK semua dan sudah disampaikan kita sehingga tidak ada persoalan. Kita hanya fokus untuk penanganan medisnya. Insya Allah besok semuanya sudah siap dan kita berharap bisa berjalan sukses," ujar dia.

Sementara Rosidi mengaku sudah siap menjalani operasi debridement hingga proses pemulihan karena masih mengalami nyeri di sejumlah luka di tubuhnya. "Sebagian masih ada yang bernanah. Ini nyeri dan perih sekali sehingga saya harus minum obat untuk meredakan nyeri. Kalau luka yang sudah mengering dan menghitam masih terasa gatal," ujar dia.

Teror yang diterima Rosidi diduga karena dia acap mengkritik penambangan timah ilegal. Aktivis lingkungan dari Bangka Belitung itu disiram air keras ketika hendak berdiskusi dengan rekannya di sebuah warung kopi pada 17 Februari 2026. Rosidi mengalami luka bakar di tangan, kaki, dan selangkangan.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |