China respons usulan agar pengembangan AI diperlambat

4 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengomentari usulan sejumlah pelaku industri di bidang kecerdasan buatan (AI) seperti Dario Amodei, Sam Altman, dan Elon Musk yang meminta agar perusahaan-perusahaan memperlambat pengembangan teknologi AI.

"AI merupakan teknologi yang sangat penting bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. Semua pihak harus bersama-sama mendorong pengembangan AI yang terbuka dan inklusif demi kebaikan dan kepentingan bersama," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (14/9).

CEO Anthropic Dario Amodei pada Sabtu (13/9) menerbitkan esai berjudul ""We Must Pace the Frontier" yang menyerukan kepada industri untuk memperlambat pengembangan AI "frontier" (model AI tingkat lanjut). Ia menyatakan bahwa meskipun hal itu sulit dilakukan, "kita berutang kepada umat manusia untuk mencobanya."

Amodei menyoroti dua faktor pemicu untuk "memperlambat laju pengembangan AI". Pertama, "recursive self-improvement" (RSI) yaitu kemampuan AI menciptakan AI lain.

Kedua, insiden baru-baru ini di mana agen OpenAI dan Hugging Face yaitu situs yang digunakan pengembang untuk menyimpan dan berbagi kode di mana sekumpulan (swarm) AI melancarkan serangan siber yang tidak terkait dan mencoba membobol sistem yang melakukan penilaian terhadap mereka sehingga menunjukkan potensi AI dalam menimbulkan "kerusakan katastropik" jika terus berkembang tanpa adanya mekanisme pengaman (guardrails).

"Tindakan menyebarkan ketakutan, konfrontasi, dan persaingan yang tidak sehat hanya akan menghambat upaya mewujudkan tata kelola AI global yang baik, yang pada akhirnya tidak menguntungkan siapa pun," tambah Guo Jiakun.

Amodei meyakini bahwa dalam kurun waktu 6-12 bulan ke depan, agen AI yang lebih canggih berpotensi menciptakan "botnet" dan mengambil alih seluruh internet hingga menyebabkan kerugian hingga ratusan miliar dolar.

Amodei yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden di OpenAI, mengusulkan "rencana tiga langkah" untuk mengatur laju pengembangan AI, yang mencakup pengujian keamanan yang lebih ketat, evaluasi independen terhadap model AI canggih, koordinasi antarperusahaan AI terkemuka, serta peningkatan kerja sama internasional.

Pernyataan Amodei itu diungkapkan saat Anthropic bersiap untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang rencananya bernilai 2 triliun dolar AS.

Anthropic sendiri adalah perusahaan riset dan keamanan AI yang berbasis di AS, didirikan pada 2021. Produk paling dikenal dari Anthropic adalah Claude, model AI generatif yang dirancang membantu bisnis, organisasi nirlaba, dan komunitas sipil.

Namun Anthropic dan Claude disebut digunakan Departemen Pertahanan AS dalam operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari 2026 lalu. Minat publik terhadap Claude pun melonjak, pernah membuatnya sebagai aplikasi terfavorit untuk diunduh di App Store.

Pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk pun setuju dengan pendapat Amodei itu dengan mengatakan bahwa "Dario benar". Musk menyebut sudah lama menyuarakan peringatan keras mengenai AI dan harus sangat berhati-hati dengan AI. Potensinya lebih berbahaya dari pada senjata nuklir.​​​​​​​

Musk termasuk pihak yang mendukung upaya organisasi nirlaba "Future of Life Institute" pada 2023 untuk menghentikan pengembangan AI selama enam bulan guna memberikan waktu bagi penerapan langkah-langkah pengamanan (safety guardrails).

Sedangkan CEO OpenAI Sam Altman dengan model terkenalnya Chat GPT, juga sependapat dengan Amodei dengan menyatakan "Kita perlu mengatur laju pengembangan AI tingkat lanjut (frontier AI)". Ia menyatakan bahwa OpenAI berniat mengadopsi gagasan yang diusulkan oleh Anthropic dengan berkomitmen melibatkan evaluator independen yang memiliki akses setara dengan karyawan serta menunda rencana IPO OpenAI demi menangani kekhawatiran terkait aspek keamanan.

Altman telah memperingatkan mengenai risiko serupa jauh sebelumnya yaitu dalam satu esai pada 2015 berjudul "Machine Intelligence, part 1", ia menyebutkan bahwa "pengembangan kecerdasan mesin yang melampaui kemampuan manusia kemungkinan merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup umat manusia".

Demis Hassabis, salah satu pendiri sekaligus pimpinan Google DeepMind, juga berkomentar soal rincian mengenai pelambatan pengembangan AI secara kolektif masih perlu dimatangkan, tapi arah langkah tersebut sudah tepat untuk menghadapi momen krusial.

Pada awal Agustus, pemerintah AS menerapkan proses tinjauan keamanan sukarela bagi model AI canggih sebelum dirilis, tapi parameter program tersebut masih belum jelas.

Sedangkan China sebagai kompetitor utama AS pada Juli 2026 lalu telah menginisiasi pembentukan Organisasi Kerjasama Kecerdasan Artifisial Global (World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO) yang ditandatangani oleh 29 negara termasuk Indonesia untuk membentuk kerangka tata kelola AI global sehingga AI dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Tahun 2026 di China sendiri disebut sebagai tahun pertama penerapan agen AI (AI Agent), di mana AI beralih dari sekadar kemampuan berkomunikasi menjadi produktivitas nyata, yaitu mengerjakan tugas secara mandiri.

Industri AI di China diperkirakan akan terus tumbuh dengan cepat, dengan adopsi AI di perusahaan-perusahaan besar diperkirakan mencapai lebih dari 80 persen, yang menunjukkan bahwa komersialisasi dan penerapan massal menjadi arah utama pengembangan AI di negara tersebut.

Baca juga: Presiden Afrika Selatan serukan pengawasan AI independen BRICS

Baca juga: CEO Anthropic ungkap tiga langkah untuk perlambat pengembangan AI

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |