Jangan Lewatkan Momen Bercinta Kilat, Bisa Terbayang Seharian

4 hours ago 2

CANTIKA.COMJakarta - Setelah seharian bekerja, banyak pasangan menghadapi dilema yang sama: memilih tidur lebih cepat atau meluangkan waktu untuk bercinta. Tak sedikit yang akhirnya memilih langsung memejamkan mata dibanding memulai sesi intim yang dianggap memakan waktu dan tenaga. Sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa delapan dari sepuluh orang lebih memilih tidur nyenyak daripada berhubungan seks.

Namun, siapa bilang keintiman harus selalu berlangsung lama? Di tengah kesibukan dan tuntutan hidup modern, konsep seks kilat atau quickie justru mulai dipandang sebagai solusi realistis bagi banyak pasangan. Hubungan seksual yang berlangsung singkat, sekitar 3 hingga 13 menit sebelum bekerja misalnya, ternyata dinilai cukup memuaskan oleh banyak pasangan menurut survei terhadap terapis seks di Amerika Serikat dan Kanada.

Selama ini quickie sering dianggap sebagai bentuk seks yang kurang romantis atau kurang memuaskan, terutama bagi perempuan. Padahal, hubungan intim yang singkat memiliki sejumlah keuntungan. Selain tidak mengganggu waktu tidur, quickie juga lebih mudah disisipkan di tengah rutinitas yang padat. Bagi pasangan yang memiliki anak kecil, sesi singkat bahkan terasa lebih realistis dibanding harus mencari waktu luang selama hampir satu jam.

Benarkah Perempuan Selalu Membutuhkan Foreplay yang Lama?

Salah satu alasan mengapa quickie kerap dipandang sebelah mata adalah anggapan bahwa perempuan membutuhkan foreplay panjang sebelum bisa menikmati hubungan seksual. Namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu benar.

Dalam studi mengenai masturbasi, perempuan rata-rata membutuhkan waktu kurang dari empat menit untuk mencapai orgasme, tidak jauh berbeda dengan laki-laki yang membutuhkan sekitar dua hingga tiga menit. Temuan ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan sebenarnya mampu merespons rangsangan dengan cepat jika mendapatkan stimulasi yang sesuai.

Beberapa ahli seks juga berpendapat bahwa masalahnya bukan terletak pada lamanya waktu yang dibutuhkan perempuan untuk terangsang, melainkan pada jenis stimulasi yang diterima. Dengan kata lain, kualitas pengalaman seksual sering kali lebih penting dibanding durasinya.

Ketika Hasrat Datang Belakangan

Menariknya, banyak perempuan mengaku tidak selalu merasa "mood" sebelum berhubungan seks. Namun sebuah penelitian terhadap ibu bekerja menemukan bahwa meski setengah dari responden awalnya tidak merasakan dorongan seksual yang kuat, hampir semuanya menikmati aktivitas tersebut setelah benar-benar melakukannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keinginan seksual tidak selalu harus muncul terlebih dahulu. Dalam banyak kasus, tubuh justru merespons setelah aktivitas intim dimulai. Mirip seperti olahraga, seseorang mungkin enggan memulainya, tetapi merasa lebih baik setelah menjalaninya.

Karena itu, quickie sering kali membantu pasangan keluar dari tekanan untuk menciptakan momen yang sempurna. Tidak perlu menunggu suasana ideal atau energi yang melimpah. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk saling terhubung.

Keintiman Tidak Harus Selalu Berujung Orgasme

Quickie juga membuka ruang bagi pasangan untuk mendefinisikan ulang makna hubungan seksual. Seks tidak selalu identik dengan penetrasi atau orgasme. Seks oral, stimulasi manual, hingga masturbasi bersama dapat menjadi bentuk keintiman yang sama-sama memuaskan.

Bagi perempuan, mengenali tubuh sendiri melalui masturbasi juga dapat membantu memahami jenis stimulasi yang paling efektif. Pengetahuan ini memudahkan komunikasi dengan pasangan sehingga waktu yang singkat tetap bisa memberikan kepuasan maksimal.

Meski tidak selalu berakhir dengan orgasme, quickie tetap menawarkan manfaat emosional dan fisik. Banyak perempuan melaporkan merasa lebih berenergi, percaya diri, bersemangat, dan memiliki suasana hati yang lebih baik setelah melakukan hubungan intim singkat.

Hubungan yang Sehat Tidak Diukur dari Lamanya Bercinta

Pada akhirnya, kualitas hubungan seksual tidak ditentukan oleh berapa lama pasangan menghabiskan waktu di atas ranjang. Sentuhan fisik, pelukan, dan momen kedekatan yang singkat sekalipun tetap mampu meningkatkan hormon oksitosin yang berperan dalam mempererat ikatan emosional.

Selain menjaga keintiman, aktivitas seksual yang dilakukan secara rutin juga dikaitkan dengan penurunan stres, kualitas tidur yang lebih baik, hingga peningkatan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, quickie dapat menjadi alternatif yang sehat bagi pasangan yang ingin tetap terhubung tanpa harus mengorbankan waktu istirahat mereka.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, mungkin sudah saatnya pasangan berhenti mengukur kualitas seks dari durasi. Sebab terkadang, beberapa menit yang penuh koneksi justru lebih berarti daripada sesi panjang yang terasa seperti kewajiban.

YOUR TANGO | ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |