INFO CANTIKA.COM - Ketua Dekranasda Kabupaten Tanah Laut Dian Rahmat meraih penghargaan Apresiasi Swara Cantika 2026 untuk kategori Pelopor dan Penggerak Ruang Publik di Bidang Inovasi Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Ketegori ini mengapresiasi para pemimpin perempuan di ranah publik yang berani membuka akses pendidikan, kesehatan, dan pemulihan lingkungan demi kesejahteraan warga. "Syukur alhamdulillah, Masya Allah, tabarakallah. Penghargaan ini bukan untuk saya semata, tapi untuk semua perempuan yang terlibat sebagai penggerak ekonomi keluarga, bahkan penggerak ekonomi Kabupaten Tanah Laut, baik itu UMKM, Industri Kecil Menengah, dan semua wanita yang terlibat di dalamnya," kata Dian setelah mendapatkan penghargaan tersebut pada Kamis 17 September 2026.
Dian Rahmat berinisiatif membantu meningkatkan kemajuan UMKM di daerahnya melalui kain sasirangan khas Tanah Laut. Produk kerajinan tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya daerah kepada pasar yang lebih luas.
Melalui program inkubasi perajin, Dian dan pemerintah daerah Tanah Laut berupaya meningkatkan nilai produk sekaligus membuka pasar yang lebih luas, termasuk hingga Eropa. Dian mengatakan program inkubasi dilakukan untuk mendampingi perajin dari berbagai aspek, mulai dari administrasi, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga pengembangan produk. “Pendampingan itu diharapkan bisa menuju kemandirian secara berbagai aspek dari yang mereka perlukan,” kata Dian.
Menurut Dian, terdapat sekitar 50-60 perajin sasirangan di Tanah Laut. Sekitar 40 di antaranya masih aktif, dengan sebagian besar merupakan perempuan. Adapun dalam program inkubasi yang berjalan saat ini terdapat 20 perajin, termasuk perajin sasirangan dan purun. Purun adalah sejenis tumbuhan rumput liar. Melalui tangan ahli, purun dianyam dan menjadi aneka tas dan kerajinan lainnya.
Mengembangkan Motif Sasirangan dengan Teknologi
Upaya meningkatkan nilai sasirangan juga dilakukan melalui pengembangan motif. Selama ini, sebagian perajin masih membuat motif secara manual dengan menggambar langsung.
Cara tersebut tetap menjadi bagian dari kekayaan tradisi sasirangan. Namun, Dian melihat teknologi digital dapat membantu perajin mengeksplorasi lebih banyak desain sekaligus mengikuti perkembangan selera pasar. “Dengan digital mereka bisa membuat berbagai macam motif tanpa harus memikirkan misalnya yang lebih ngelimet,” katanya.
Tanah Laut sendiri memiliki sejumlah motif sasirangan yang menjadi ciri khas daerah, di antaranya motif Tijang Mas, Tubuh, dan Angkrek Bulan. Motif tersebut menjadi pembeda di tengah banyaknya kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan yang juga memiliki produk sasirangan. Dengan teknologi digital, pengembangan motif tidak hanya diarahkan untuk mengikuti tren, tetapi juga memperluas kemungkinan desain tanpa meninggalkan identitas lokal.
Sasirangan Menembus Belgia
Dian mengatakan timnya sempat berupaya untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual sasirangan mulai membuka akses pasar di luar negeri. Tahun lalu, perajin dari Tanah Laut mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belgia untuk menampilkan produk mereka. Respons masyarakat setempat, menurut Dian, cukup baik. Bahkan, sejumlah pengunjung melakukan pemesanan kain sasirangan langsung dari Tanah Laut. “Antusias warga lokal di sana dengan hasil-hasil wastra dari Kabupaten Tanah Laut itu sangat membanggakan buat kita di daerah,” ujarnya.
Kerja sama tersebut berlanjut pada tahun ini melalui Indonesian Creative Week Belgium. Pemerintah Kabupaten Tanah Laut juga menjalin hubungan dengan desainer lokal dan sekolah mode di Belgia untuk memperkenalkan sasirangan.
Bagi Dian, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menjembatani perajin dengan pasar yang lebih luas. “Ini salah satu usaha kami juga, perpanjangan tangan dari Pemerintahan Kabupaten Tanah Laut melalui Dekranasda untuk bisa menjembatani antara para perajin UMKM dan IKM ini agar lebih mandiri dan berdampak nyata bagi perekonomian daerah,” katanya.
Dengan demikian, pengembangan sasirangan Tanah Laut tidak berhenti pada mempertahankan kain tradisional. Pendampingan usaha, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan motif, hingga membuka akses pasar internasional menjadi bagian dari strategi untuk menaikkan nilai ekonomi produk sekaligus memperluas pengenalan sasirangan khas Tanah Laut.
Dian berharap Apresiasi Swara Cantika 2026 ini bisa meningkatkan daya para perempuan Tanah Laut di segala bidang. "Semoga perempuan di Kabupaten Tanah Laut, makin berdaya, dan makin mandiri di segala bidang," katanya. (*)
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.


















































