Mengulik Standar Kecantikan dari Masa ke Masa, Putih Berkilau hingga Cantik Versi Diri Sendiri

4 hours ago 2

CANTIKA.COMJakarta - Ketika membicarakan standar kecantikan, makeup sering kali menjadi bagian yang paling mudah terlihat. Bentuk alis, warna bibir, bedak, hingga cara merawat kulit seolah menjadi penanda tentang seperti apa perempuan dianggap cantik pada suatu zaman. Namun, di balik perubahan tren tersebut, ada cerita yang jauh lebih panjang tentang identitas, budaya, kelas sosial, bahkan pengaruh kolonialisme.

Hal itulah yang coba ditelusuri kurator HYAS: Makeup Through the Ages, Allysha Nila, melalui pameran yang mengajak pengunjung melihat sejarah makeup Indonesia dari masa ke masa. Bagi Allysha, makeup tidak semata-mata berkaitan dengan keinginan untuk terlihat cantik, tetapi juga dapat menjadi cara seseorang menunjukkan karakter dan identitas sosialnya.

Makeup adalah penerjemah,” ujar Allysha dalam sesi kuratorial pameran saat ditemui Cantika, Jumat, 4 September 2026. 

Melalui arsip foto, buku, majalah, hingga produk makeup dari berbagai periode, kita dapat melihat bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya telah mengenal berbagai bentuk praktik kecantikan jauh sebelum industri beauty modern berkembang seperti sekarang.

Melihat Kecantikan dari Foto-Foto Kolonial

Salah satu bagian menarik dalam penelusuran Allysha adalah arsip fotografi pada masa kolonial. Foto-foto yang dibuat oleh fotografer dari Belanda, Inggris, Australia, maupun negara Barat lainnya banyak merekam kehidupan di Indonesia, mulai dari masyarakat, kota, hutan, hingga keseharian.

Namun, Allysha mengingatkan bahwa foto-foto tersebut tidak pernah benar-benar netral. Pada masa itu, pihak yang memiliki teknologi fotografi umumnya adalah orang-orang dari negara kolonial atau pendatang dari Barat. Mereka datang dengan sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Tak jarang, masyarakat dan kehidupan di Indonesia kemudian ditampilkan melalui kacamata eksotisme.

Salah satu nama yang dibahas adalah J. Cephas atau Kassian Cephas, fotografer yang dikenal sebagai salah satu pelopor fotografi pribumi di Indonesia. Karya-karyanya menjadi penting karena memberikan kesempatan untuk melihat masyarakat Jawa melalui perspektif yang berbeda dibandingkan banyak foto kolonial lainnya.

Menariknya, dari foto-foto tersebut kita juga bisa menemukan satu hal yang mungkin terlihat sederhana tetapi memiliki cerita tersendiri, makeup.

Pada sejumlah potret perempuan Indonesia, misalnya, tampak penggunaan riasan pada bagian alis dan wajah. Artinya, praktik mempercantik diri bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika industri kosmetik modern berkembang. Makeup telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam berbagai bentuk. “Jadi, makeup-nya ada di alisnya, di gambar. Mereka pakai makeup juga,” kata Allysha.

Namun, ia kembali mengingatkan bahwa penggunaan makeup tidak bisa begitu saja diterjemahkan dengan standar kecantikan masa kini. Pada setiap periode, riasan memiliki fungsi dan makna yang berbeda.

Makeup dapat menjadi penanda karakter, status sosial, identitas, atau bagian dari kebutuhan tertentu. Begitu pula dengan perawatan kulit yang tidak selalu dilakukan semata-mata untuk mencapai standar “cantik”, melainkan juga memiliki fungsi perlindungan dan perawatan tubuh.

Dengan kata lain, beauty standard tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berhubungan dengan konteks masyarakat yang membentuknya.

Ilustrasi perempuan yang tersenyum. Foto: Magnific.com/benzoix

Ketika Buku Mulai Membicarakan Perempuan dan Kecantikan

Memasuki periode setelah kemerdekaan, jejak perubahan standar kecantikan dapat ditelusuri melalui buku dan berbagai publikasi yang berkembang di Indonesia. Salah satu yang menarik perhatian Allysha adalah Sarinah, karya Soekarno yang pertama kali terbit pada 1947. Buku tersebut tidak hanya membahas persoalan perempuan dalam konteks sosial dan politik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana gagasan tentang perempuan, kecantikan, dan identitas pada masa itu turut dibicarakan.

Dari sini terlihat bahwa pembahasan mengenai kecantikan tidak pernah benar-benar terpisah dari kondisi sosial perempuan Indonesia. Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai seseorang yang harus terlihat cantik. Ada ekspektasi mengenai bagaimana perempuan seharusnya bersikap, menjalankan peran sosial, hingga memandang dirinya sendiri.

Pada periode berikutnya, muncul pula berbagai buku dan majalah yang secara lebih spesifik membahas kecantikan dan cara perempuan merawat dirinya. Isinya tidak hanya tentang bagaimana memperoleh penampilan tertentu, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang seharusnya membawa dirinya.

Tahun 1960-an dan Wajah Kecantikan Indonesia

Memasuki era 1960-an, pembicaraan mengenai kecantikan kembali berkelindan dengan identitas nasional. Salah satu contoh yang ditampilkan dalam pameran adalah Viva Cosmetics, brand kosmetik Indonesia yang mulai berkembang pada periode tersebut. Kehadiran brand lokal menunjukkan bahwa kecantikan tidak selalu harus merujuk pada produk atau standar yang berasal dari Barat. Ada upaya untuk membangun wajah kecantikan yang lebih dekat dengan perempuan Indonesia.

Hal serupa dapat dilihat melalui perjalanan Martha Tilaar. Filosofi kecantikan yang dikembangkan Martha Tilaar tidak hanya berbicara tentang kosmetik, tetapi juga mengangkat kekayaan budaya Indonesia sebagai bagian dari identitas kecantikan.

Produk, bahan, warna, hingga inspirasi budaya menjadi bagian dari cara industri kecantikan lokal memperkenalkan perempuan Indonesia kepada dirinya sendiri. Pada titik ini, makeup menjadi lebih dari sekadar alat untuk mengikuti tren. Ia menjadi medium untuk mengatakan: seperti inilah wajah kecantikan Indonesia.

Dari Cantik Secara Fisik hingga Menunjukkan Identitas

Perjalanan standar kecantikan tersebut kemudian menjadi semakin kompleks ketika media berkembang. Majalah perempuan menjadi salah satu ruang penting yang memperkenalkan berbagai gambaran tentang perempuan ideal. Dari halaman-halaman majalah, pembaca dapat menemukan referensi mengenai makeup, gaya rambut, pakaian, hingga cara merawat diri.

Namun, di saat yang sama, media juga ikut membentuk standar tertentu. Apa yang sering ditampilkan sebagai cantik perlahan dapat dianggap sebagai sesuatu yang ideal. Warna kulit, bentuk wajah, bentuk tubuh, hingga gaya rias tertentu dapat menjadi acuan tanpa disadari.

Di sinilah pentingnya membaca arsip kecantikan secara kritis. Sebab, seperti halnya fotografi kolonial, majalah dan media juga memiliki perspektif. Tidak ada representasi kecantikan yang sepenuhnya netral.

Apa yang kita lihat sebagai “cantik” hari ini merupakan hasil dari banyak lapisan sejarah budaya lokal, kolonialisme, perkembangan industri, media, kelas sosial, hingga globalisasi. Sampai di masa kini, saat perempuan merayakan cantik versi diri mereka masing-masing. 

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |