Mojtaba Khamenei Larang Keras Uranium Iran Dibawa ke Luar Negeri

18 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei disebut telah menginstruksikan agar uranium-uranium Iran yang telah diperkaya tak boleh dikirim ke luar negeri.

Dua sumber senior Iran mengatakan hal itu saat negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sedang diperjuangkan para mediator.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam pemerintahan, adalah bahwa uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini," kata salah satu dari dua sumber kepada Reuters.

Menurut kedua sumber, para pejabat tinggi Iran percaya bahwa pengiriman uranium ke luar negeri akan membuat Iran lebih rentan terhadap serangan di masa depan oleh AS dan Israel.

Uranium Iran merupakan salah satu topik panas negosiasi yang masih menemui kebuntuan. AS ingin memusnahkan material tersebut karena was-was Iran bakal memakainya untuk memproduksi senjata nuklir.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memprediksi uranium Iran sudah diperkaya hingga 60 persen, nyaris mencapai tingkat produksi senjata nuklir di 90 persen.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis (21/5) menegaskan tak akan mengizinkan Iran menyimpan uranium yang telah diperkaya.

"Kami akan mendapatkannya. Kami tidak membutuhkannya, kami tidak menginginkannya. Kami mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya. Kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Para pejabat Israel juga mengatakan kepada Reuters bahwa Trump telah meyakinkan Tel Aviv akan mengirim uranium Iran yang diperkaya tinggi ke luar Teheran.

Kendati begitu, Iran sejak awal hanya bersedia mengurangi tingkat pengayaan uranium alih-alih menyerahkannya kepada pihak asing.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menanggapi laporan Reuters ini dengan menegaskan Trump "sudah menjelaskan dengan jelas batasan-batasan Amerika Serikat dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika."

Kementerian Luar Negeri Iran sementara itu menolak berkomentar.

AS dan Iran saat ini masih terikat gencatan senjata yang rapuh sejak berlaku pada 8 April lalu. Kedua negara sudah melakukan beberapa putaran perundingan damai namun belum membuahkan hasil.

Blokade Iran di Selat Hormuz masih berlaku, begitu pula blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Menurut dua sumber Iran, Teheran curiga bahwa jeda dalam pertempuran ini merupakan tipu daya Washington untuk menciptakan rasa aman sebelum melanjutkan serangan.

Kedua sumber mengatakan AS dan Iran sudah mulai mempersempit perbedaan pandangan. Akan tetapi, perpecahan lebih dalam tetap ada terkait program nuklir Iran, termasuk nasib uranium yang diperkaya dan tuntutan Iran atas hak melakukan pengayaan.

(blq/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |