Trump Desak Jepang Bantu Perang Iran, Takaichi Tertekan

7 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan akan menekan Jepang untuk ikut membantu dalam konflik melawan Iran saat bertemu Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Gedung Putih, Kamis (19/3).

Pertemuan yang semula dijadwalkan untuk memperkuat hubungan keamanan dan ekonomi kedua negara itu kini berubah menjadi sensitif, seiring meningkatnya tekanan Washington terhadap sekutu-sekutunya terkait dukungan dalam perang.

Trump sebelumnya mengkritik para sekutu karena dinilai memberikan dukungan terbatas terhadap kampanye militer AS-Israel. Meski demikian, ia tetap mendorong bantuan tambahan, terutama pengerahan kapal untuk membersihkan ranjau dan mengawal tanker di Selat Hormuz yang sebagian besar ditutup Iran akibat konflik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, Takaichi menghadapi tekanan domestik. Meski berupaya menggeser Jepang dari konstitusi pasifis pasca-Perang Dunia II, perang Iran tidak populer di dalam negeri. Hingga kini, Tokyo belum menawarkan bantuan militer langsung di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya di parlemen Jepang awal pekan ini, Senin (16/3), Takaichi mengatakan negaranya belum menerima permintaan resmi dari AS.

"Kami belum menerima permintaan resmi dari Amerika Serikat, namun sedang mengkaji kemungkinan langkah yang bisa diambil dalam batas konstitusi," ujar Takaichi, mengutip Reuters.

Sejumlah sekutu AS seperti Jerman, Italia, dan Spanyol bahkan telah menolak terlibat dalam misi di Teluk, yang memicu kemarahan Trump.

Analis dari Asia Group, Chris Johnstone, menyebut kunjungan ini menjadi situasi sulit bagi Takaichi.

"Ini tiba-tiba menjadi kunjungan yang sangat rumit bagi Takaichi," ujar Chris.

"Ia berharap bisa menjadi suara terakhir yang memengaruhi pendekatan Trump terhadap China, namun kini justru menjadi sekutu pertama yang harus merespons permintaan bantuan di Timur Tengah," tambahnya.

Selain isu Iran, Jepang juga memperkirakan Trump akan meminta kerja sama dalam produksi atau pengembangan rudal untuk menggantikan stok amunisi AS yang menipis akibat perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina.

Di tengah tekanan tersebut, Jepang masih mempertimbangkan respons yang akan diberikan.

Meski demikian, Tokyo memiliki hubungan diplomatik dengan Iran, yang berpotensi membuka jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik, meski upaya sebelumnya pada 2019 gagal.

Dalam pertemuan itu, Takaichi juga diperkirakan akan menyampaikan rencana Jepang bergabung dalam inisiatif pertahanan rudal 'Golden Dome' milik AS.

Sementara itu, pejabat Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin juga akan membahas implementasi perjanjian dagang 2025, energi, keamanan rantai pasok, serta kerja sama di bidang sains, teknologi, dan pertahanan.

Di sisi ekonomi, Takaichi diperkirakan akan mengumumkan gelombang baru investasi Jepang untuk proyek-proyek di AS yang disetujui Trump. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen investasi besar senilai US$550 miliar atau sekitar Rp9.345 triliun (asumsi kurs Rp16.990 per dolar AS) yang sebelumnya dijanjikan Tokyo guna mendapatkan keringanan tarif dari Washington tahun lalu.

Menurut sumber yang mengetahui rencana pertemuan tersebut, Jepang berpotensi menambah sekitar US$60 miliar atau setara Rp1.019 triliun dalam tahap kedua investasi, yang akan difokuskan pada sektor mineral kritis dan energi. Sebelumnya, Jepang telah lebih dulu berkomitmen pada tiga proyek dengan total nilai mencapai US$36 miliar (Rp611 triliun).

(lau/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |