Trump Sebut NATO 'Penakut' Gara-gara Kurang Dukungan Perang Lawan Iran

7 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam sekutu NATO buntut kurangnya dukungan mereka terhadap perang AS-Israel melawan Iran.

Pasalnya, Selat Hormuz tetap tertutup dan belum terlihat akhir dari konflik tersebut.

"Negara-negara NATO adalah 'penakut'," kata Trump di akun Truth Social miliknya seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (21/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecaman Trump ini muncul setelah pada Jumat NATO mengumumkan bahwa mereka 'menyesuaikan' misinya di Irak, setelah para pejabat di negara itu mengatakan pasukan non-tempur telah ditarik sementara karena perang Iran.

"Kami dapat mengkonfirmasi bahwa kami sedang menyesuaikan posisi kami dalam konteks misi NATO di Irak," ujar Juru Bicara Aliansi Allison Hart kepada AFP dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan, Jenderal Angkatan Udara AS Alexus Grynkewich selaku komandan sekutu tertinggi NATO di Eropa, mengkonfirmasi relokasi seluruh personel misi NATO di Irak ke Eropa.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Republik Irak dan semua Sekutu yang telah membantu relokasi personel NATO dari Irak dengan aman," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan setelah KTT Uni Eropa selama dua hari di Brussels disebutkan bahwa membela hukum internasional dan mempromosikan de-eskalasi adalah 'yang terbaik yang dapat kita lakukan'.

"Saya belum mendengar siapa pun di sini yang menyatakan keinginan untuk memasuki konflik ini - justru sebaliknya," ucap dia.

Tak Ada Konsensus untuk Harga Minyak

Pertemuan pemerintah Eropa di Brussels didominasi dampak dari perang melawan Iran, khususnya di pasar energi.

Melaporkan dari Brussels, Step Vaessen dari Al Jazeera, mengatakan bahwa Uni Eropa sebenarnya belum mencapai konsensus apa pun tentang langkah-langkah yang akan diambil oleh badan tersebut secara keseluruhan.

"Hal ini terjadi di tengah pengumuman Bank Sentral Eropa bahwa mereka akan memangkas perkiraan pertumbuhan dan telah menaikkan prediksi inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Jadi, yang dapat kita harapkan, terutama di Uni Eropa, adalah biaya energi yang sangat tinggi," ujarnya.

"Para pemimpin membahas panjang lebar tentang reformasi sistem perdagangan energi... tetapi konsensus umum adalah bahwa tidak ada kesepakatan," tambahnya.

(dis/sfr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |