Apa Saja Pemicu Lesunya Neraca Perdagangan Indonesia

5 hours ago 3

MENTERI Perdagangan Budi Santoso menyatakan neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif dari Januari hingga April 2026 surplus senilai US$ 5,64 miliar. “Namun, nilai surplus Januari-April 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama untuk 2025 yang mencapai US$ 11,07 miliar,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Rabu, 3 Juni 2026.

Budi mengatakan, neraca perdagangan pada Januari-April 2026 terdiri dari surplus nonmigas sebesar US$ 14,16 miliar dan defisit migas sebesar US$ 8,52 miliar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tiga komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar selama Januari-April 2026 adalah lemak dan minyak hewani atau nabati senilai US$ 11,71 miliar, bahan bakar mineral US$ 8,34 miliar, serta besi dan baja US$ 5,71 miliar. 

Sementara itu, penyebab defisit perdagangan terbesar adalah mesin dan peralatan mekanis sebesar US$ 9,87 miliar, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik US$ 4,95 miliar, serta plastik dan barang dari plastik US$ 2,80 miliar.

Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia pada Januari-April 2026 dengan nilai US$ 6,81 miliar. Kemudian disusul India US$ 4,44 miliar dan Filipina US$ 2,77 miliar. 

Sementara itu, defisit nonmigas terdalam terjadi dengan Cina sebesar US$ 8,03 miliar, disusul Australia US$ 3,05 miliar, dan Argentina US$ 0,73 miliar.

Adapun neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat surplus sebesar US$ 0,09 miliar. Dengan catatan tersebut, Indonesia mempertahankan tren surplus neraca perdagangan untuk 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Budi mengatakan, surplus neraca perdagangan pada bulan keempat ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$ 3,53 miliar. Pada periode yang sama, sektor migas defisit sebesar US$ 3,44 miliar. 

Pada April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 25,30 miliar. Nilai ini tumbuh 12,32 persen dibandingkan Maret 2026 atau naik 21,98 persen dibandingkan April 2025. Peningkatan ekspor bulanan didorong kenaikan ekspor nonmigas sebesar 13,66 persen, sedangkan ekspor migas turun 9,81 persen.

Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada April 2026 adalah kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44 persen. Kemudian tembakau dan rokok meningkat 43,49 persen, disusul kayu dan barang dari kayu 40,91 persen.

Kemudian, lemak dan minyak hewani atau nabati juga naik hingga 38,71 persen serta mesin dan peralatan mekanis meningkat 37,26 persen.

Budi mengatakan, ekspor nonmigas pada April 2026 dipengaruhi peningkatan permintaan negara-negara mitra dagang utama. Tiga negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan tertinggi pada April 2026 adalah Uni Emirat Arab dengan kenaikan 305,21 persen, Afrika Selatan 288,40 persen, dan Belgia 117,84 persen.

Sementara itu, ekspor sektor pertanian turun 26,27 persen. Budi mengatakan, kakao dan olahannya serta kopi, teh, dan rempah-rempah menjadi komoditas pertanian dengan penurunan terdalam. Kakao dan olahannya defisit 36,33 persen sedangkan kopi, teh, dan rempah-rempah defisit 33,48 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (CtC). Selain pertanian, sektor pertambangan dan lainnya pun turun 8,44 persen secara CtC.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |