AS Setujui Jual Senjata Hampir 2 Miliar USD ke Arab Saudi

6 hours ago 5

AMERIKA Serikat menyetujui penjualan senjata senilai AS$ 1,96 miliar atau sekitar Rp 35 triliun kepada Arab Saudi. Persetujuan yang diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Rabu, 16 Juli, itu ditujukan untuk memperkuat pertahanan udara Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah.

Dilansir Al Jazeera, persetujuan melalui skema Foreign Military Sales tersebut diberikan ketika konflik di kawasan terus memanas, termasuk meningkatnya konfrontasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut penjualan itu sejalan dengan kepentingan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Washington.

“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang menjadi kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Ditujukan untuk Perkuat Pertahanan Udara

Menurut laporan TRT World, paket penjualan tersebut mencakup hingga 20 ribu Advanced Precision Kill Weapon Systems (APKWS) beserta hulu ledaknya. Berdasarkan keterangan Angkatan Laut Amerika Serikat, APKWS merupakan sistem senjata presisi yang relatif murah untuk menghancurkan sasaran dengan meminimalkan kerusakan di area sekitar saat pertempuran jarak dekat.

Selain APKWS, Arab Saudi juga akan memperoleh peluncur, hulu ledak berdaya ledak tinggi (high explosive warheads), motor roket, serta sejumlah perlengkapan pertahanan lainnya. Kontraktor utama dalam transaksi ini adalah BAE Systems yang berbasis di Nashua, New Jersey.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut paket senjata tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara Arab Saudi menghadapi ancaman yang terus berkembang, termasuk serangan pesawat nirawak dari kelompok proksi di kawasan. Sistem itu juga diharapkan mengurangi ketergantungan Riyadh terhadap rudal Patriot yang berbiaya lebih mahal.

“Penjualan yang diusulkan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk menangkal ancaman saat ini maupun di masa depan dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan Amerika Serikat dan pasukan regional maupun NATO,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri.

Washington juga memastikan transaksi tersebut tidak akan mempengaruhi kesiapan militernya. “Penjualan yang diusulkan ini tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesiapan pertahanan Amerika Serikat.”

Konflik Kawasan Memanas

Persetujuan penjualan senjata itu diumumkan ketika Arab Saudi kembali menghadapi ancaman eskalasi dengan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Kelompok tersebut menembakkan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi bagian Selatan pada Senin 13 Juli 2026.

Serangan itu terjadi setelah Bandara Sanaa dihantam serangan udara yang memaksa sebuah pesawat yang mengangkut delegasi Houthi, yang baru kembali dari pemakaman pemimpin tertinggi Iran mengalihkan penerbangannya. Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut.

Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, pada Kamis memperingatkan seluruh fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi akan menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak kelompoknya apabila Riyadh ikut terlibat dan memilih meningkatkan eskalasi konflik.

Persetujuan penjualan senjata itu juga muncul ketika gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai runtuh. Washington meningkatkan serangannya setelah memberlakukan blokade laut terhadap Iran.

Pilihan Editor: Trump: Cina Sepakat Tak Pasok Senjata ke Iran

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |