BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan dinamika atmosfer masih mendukung peningkatan suplai uap air dan pertumbuhan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi, seperti permukaan suhu permukaan laut yang hangat di sebagian perairan barat Indonesia dan potensi pembentukan daerah belokan angin meskipun tidak konsisten.
Selain itu, gelombang atmosfer tipe Kelvin diprediksi juga akan aktif. “Kondisi labilitas atmosfer masih diprakirakan bervariasi pada kategori ringan hingga kuat yang mendukung peningkatan potensi pembentukan awan konvektif pada skala lokal,” kata Alita Nuraeni, prakirawan cuaca dari Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, lewat keterangan tertulis, Ahad 12 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pada kurun sepekan, 13-19 April 2026, BMKG memprediksi tidak setiap hari akan turun hujan lebat di wilayah Jawa Barat. Potensi hujan sedang hingga lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang pada skala lokal, Senin, 13 April, diprediksi akan meliputi Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang. Kemudian area Bandung Raya, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Kabupaten Tasikmalaya.
Pada Selasa kondisi yang sama diperkirakan meliputi Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cianjur, Sukabumi, Garut, Kota Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.
Potensi hujan sedang hingga lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang pada Rabu diperkirakan meliputi Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, area Bandung Raya, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, dan Pangandaran.
Sementara pada Kamis kondisi yang sama diperkirakan meliputi Kabupaten Bogor, Depok, Purwakarta, Subang, Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Majalengka, dan Kuningan. BMKG mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, pohon tumbang, banjir, tanah longsor.
Sebelumnya, pada Jumat, 10 April, puluhan rumah warga mengalami kerusakan setelah angin kencang menerpa sejumlah daerah di Kabupaten Bandung. Berdasarkan catatan laporan petugas BPBD Kabupaten Bandung, angin kencang menjelang waktu sore hari yang menumbangkan pepohonan tersebar di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang; Desa Baros, Kecamatan Arjasari; kemudian di Desa Lebakwangi. Sementara di Desa Mangunjawa, Mekarjaya, dan Batukarut, pohon tumbang menimpa atap-atap rumah warga hingga ambruk.
Sementara tiupan angin kencang hingga merusak atap rumah warga terjadi antara lain di Kompleks Nuansa Ciherang, Desa Tanjungsari, serta kerusakan 20 rumah di Desa Bojong Kunci, Kecamatan Pameungpeuk.
Sedangkan angin kencang di Desa Babakan, Kecamatan Ciparay, merusak 26 rumah. Selain itu, wilayah lain yang diguyur hujan lebat berdampak seperti hujan es di Majalengka, longsor di Ciamis, hujan dan angin kencang di Subang menumbangkan pohon, begitu pula di Bogor.
Menurut prakirawan cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat Mirnawati Zulaikha, rangkaian bencana di Jawa Barat pada 10 April 2026 secara visual berkorelasi dengan munculnya sel-sel awan konvektif atau cumulonimbus. “Kondisi persistensi awan pun dan hujan selama 2-3 hari berturut-turut menjadi penyebab utama penjenuhan tanah untuk kejadian longsor di Ciamis dan banjir genangan di Bandung,” katanya.









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)






