Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta membagikan masker kepada warga yang berolahraga saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (6/9/2026)(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
PAPARAN abu vulkanik tidak hanya memicu gangguan pernapasan dan mata, tetapi juga berisiko tinggi merusak kesehatan kulit akibat sifat materialnya yang tajam dan abrasif. Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE, memberikan panduan mengenai jenis pakaian serta perawatan kulit yang tepat untuk meminimalkan dampak buruk abu vulkanik.
Spesialis kulit lulusan Universitas Harvard tersebut mengimbau masyarakat untuk mengenakan pakaian yang menutupi seluruh permukaan tubuh secara maksimal ketika berada di luar ruangan atau saat membersihkan lingkungan yang terpapar abu.
"Gunakan pakaian yang dapat meminimalkan permukaan kulit yang terbuka, seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan sepatu tertutup. Pakaian tertutup sangat penting terutama ketika membersihkan area yang banyak tertutup abu," kata Arini dikutip dari Antara, Senin (7/9).
Rekomendasi ini sejalan dengan panduan United States Geological Survey (USGS) yang menekankan penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang guna mencegah kontak langsung partikel silika dengan jaringan kulit.
Hindari Menggosok di Atas Kulit Berabu
Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) ini menegaskan bahwa penggunaan tabir surya (sunscreen) tetap krusial. Kehadiran partikel abu di atmosfer tidak serta-merta menghilangkan radiasi sinar ultraviolet (UV).
Arini menganjurkan penggunaan sunscreen broad-spectrum dengan proteksi minimal SPF 30 pada kulit yang telah dibersihkan dan dikeringkan sebelum beraktivitas. Namun, ia memberi catatan keras mengenai tata cara pengolesan ulang (reapply) sunscreen di area terbuka.
"Yang penting, jangan mengoleskan ulang sunscreen dengan cara menggosoknya di atas kulit yang sudah dipenuhi abu, karena abu dapat ikut bergesekan dengan kulit. Bila kulit sudah banyak terkena abu, sebaiknya bilas atau bersihkan secara lembut terlebih dahulu, keringkan, baru aplikasikan kembali sunscreen," tegas Arini.
Perhatian Khusus Kelompok Rentan
Arini menambahkan, dalam kondisi hujan abu tebal, tindakan membatasi aktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela, serta memakai pakaian tertutup dan topi merupakan prioritas proteksi yang jauh lebih efektif ketimbang terus menambah lapisan sunscreen.
Perhatian ekstra wajib diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu yang memiliki riwayat penyakit kulit eksim atau kulit yang sangat sensitif.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila setelah terpapar abu muncul gejala seperti kemerahan berat, pembengkakan, rasa terbakar yang kuat, atau luka lepuh pada permukaan kulit.
"Dan tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah," pungkasnya. (Ant/P-4)




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)
