Feri Amsari Dilaporkan ke Polda Metro atas Dugaan Berita Bohong

3 hours ago 3

SESEORANG yang mengatasnamakan diri dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Tani Nusantara, Minta Ito Simamora, melaporkan pakar hukum tata negara Universitas Andalas, Feri Amsari, ke Polda Metro Jaya. Ito melaporkan Feri atas dugaan penyebaran berita bohong terkait pernyataannya dalam acara halal bihalal para pengamat.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Budi Hermanto, mengatakan pelapor menyampaikan laporan tersebut pada Jumat, 17 April 2026. “Pada hari ini kami menerima laporan dari Ibu MIS,” ujarnya saat ditemui wartawan pada Jumat.

Budi mengatakan Ito melaporkan dugaan pelanggaran Pasal 264 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Polisi mencatat laporan tersebut dengan nomor LP/B/2692/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 17 April 2026.

Ito Simamora mengaku resah atas pernyataan Feri yang menyebut program swasembada pangan sebagai program yang gagal. Ia menilai pernyataan Feri dalam acara halal bihalal pengamat tersebut berpotensi memicu perpecahan di antara petani dan pedagang di Tanah Air. “Saat Feri Amsari mengatakan tidak swasembada, hal itu sangat meresahkan para petani,” ujarnya.

Ito juga menyerahkan sejumlah barang bukti berupa tangkapan layar media sosial dan beberapa video yang memuat pernyataan Feri tentang swasembada pangan. Ia turut menyerahkan perbandingan data dari Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Setelah melaporkan Feri, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai Tani Merdeka Indonesia menggelar demonstrasi di depan Markas Polda Metro Jaya. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut polisi segera mengusut laporan dugaan penyebaran berita bohong oleh Feri.

Feri Amsari belum merespons pesan yang dikirimkan Tempo terkait laporan yang menyeret namanya tersebut. Dalam acara bertajuk “Sebelum Pengamat Ditertibkan”, Feri menyatakan Indonesia belum mencapai swasembada pangan. Ia menegaskan, jika pemerintah menyatakan Indonesia telah swasembada, maka pemerintah harus membuktikannya dengan data. “Kenapa dari tahun 2024 sampai 2025 kita masih impor beras 5,4 juta ton, tiba-tiba 2026 menjadi nol? Jawab dulu data itu,” kata dia dalam forum tersebut, seperti dikutip dari akun Instagram @2045TV.

Menurut Feri, swasembada dapat terwujud jika jumlah sawah bertambah dan teknologi pertanian semakin maju. Namun, berdasarkan data yang ia miliki, jumlah sawah tidak bertambah. “Atau karena teknologi penanaman di sawah yang lebih canggih. Pertanyaan saya, kampung mana di Indonesia yang menanam lebih canggih dari Jepang? Kita mau tahu itu. Tidak ada data itu. Presiden membohongi publik secara terang-terangan,” ujarnya.

Pilihan Editor: Jalan Terjal Pemakzulan Konstitusional Prabowo Gibran

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |