Guru Besar UGM Minta Publik Tetap Waspada COVID-19 Cicada

6 hours ago 2

VARIAN baru Covid-19 yang dijuluki Cicada memicu kekhawatiran global. Namun hingga kini, varian tersebut belum terdeteksi di Indonesia. Di tengah situasi yang relatif terkendali, pakar mikrobiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan publik untuk tetap tenang tanpa mengendurkan kewaspadaan.

Guru Besar Departemen Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Tri Wibawa, menyebut data sementara tidak menunjukkan bahwa varian ini lebih ganas dibandingkan pendahulunya. Varian yang merupakan turunan dari SARS-CoV-2 ini pertama kali dilaporkan muncul di Afrika Selatan pada November 2024.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Setelah sempat tidak terdeteksi, varian tersebut kembali muncul dan hingga Februari 2026 telah dilaporkan menyebar ke sedikitnya 23 negara. Meski demikian, otoritas kesehatan di Indonesia belum menemukan kasus varian ini di dalam negeri. “Belum ada indikasi bahwa varian Cicada lebih berbahaya daripada strain sebelumnya,” kata Tri pada Jumat, 10  April. 2026.

Menurut dia, dari sisi klinis tidak ada perbedaan signifikan. Gejala yang muncul masih serupa dengan Covid-19 pada umumnya, mulai dari ringan seperti flu hingga berat, tergantung kondisi kesehatan dan imunitas pasien.

Dalam konteks pelindungan, Tri menambahkan, vaksinasi tetap menjadi faktor penting. Dia menyatakan, meski mutasi virus dapat memengaruhi tingkat efektivitas vaksin, individu yang sudah divaksin atau pernah terinfeksi memiliki respons imun yang lebih siap dibandingkan yang belum.

Namun, Tri mengingatkan bahwa potensi ancaman justru meningkat ketika masyarakat mulai lengah. Ia menekankan pentingnya menjaga disiplin terhadap langkah pencegahan dasar. “Tidak ada langkah khusus menghadapi Cicada. Prinsipnya tetap sama: vaksinasi, pola hidup sehat, menjaga kebersihan, dan menghindari aktivitas saat sakit,” ujarnya.

Selain itu, upaya antisipasi juga perlu diperkuat melalui deteksi dini dan kesiapsiagaan sistem kesehatan. Pemerintah dan fasilitas layanan kesehatan didorong untuk menjaga kapasitas surveilans, termasuk pemantauan varian melalui pemeriksaan laboratorium.

Sejauh ini, Indonesia masih berada dalam posisi aman. Namun pengalaman pandemi sebelumnya menunjukkan bahwa penyebaran varian baru dapat berlangsung cepat. Karena itu, ketenangan publik perlu diimbangi dengan kewaspadaan yang konsisten.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |