Kenali Perbedaan Gejala Keracunan dan Alergi Makanan pada Anak

2 hours ago 5
Kenali Perbedaan Gejala Keracunan dan Alergi Makanan pada Anak Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026).(ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa keracunan makanan dan alergi makanan merupakan dua kondisi medis yang berbeda mendasar, meski sering kali dicampuradukkan oleh masyarakat maupun dalam pemberitaan media.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), menjelaskan bahwa perbedaan paling mendasar terletak pada penyebab dan cakupan dampaknya terhadap populasi.

"Keracunan menimpa siapa pun yang memakannya, alergi hanya menimpa orang tertentu. Karena itu, keracunan bisa menjadi wabah, sementara alergi tidak," kata Dr. Yogi dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (11/9).

Perbedaan Penyebab, Gejala, dan Pola Kejadian

Dr. Yogi memaparkan, keracunan makanan disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri, racun, virus, parasit, atau bahan kimia. Siapa saja yang mengonsumsi makanan tercemar tersebut akan mengalami gejala utama seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, demam, hingga pusing, yang muncul selang beberapa jam hingga satu sampai dua hari.

Pola keracunan dapat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) karena bersumber dari makanan tercemar yang dikonsumsi massal.

Sebaliknya, alergi makanan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh (imun) terhadap protein tertentu dalam makanan. Kondisi ini hanya menyerang individu yang memiliki sensitivitas khusus.

Gejala alergi dapat muncul sangat cepat dalam hitungan menit hingga beberapa jam, ditandai dengan gatal, bengkak pada bibir atau kelopak mata, biduran, sesak napas, hingga penurunan kesadaran. Pola alergi dipastikan tidak menular karena terbatas pada individu terkait.

Penyebab Anak dan Remaja Lebih Rentan

Dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut menyampaikan bahwa kelompok anak dan remaja jauh lebih rentan mengalami dampak fatal akibat keracunan makanan. Hal ini disebabkan oleh cadangan cairan tubuh anak yang lebih kecil, sehingga kehilangan cairan akibat muntah atau diare berdampak jauh lebih berat pada kesehatan mereka.

Selain itu, sistem imun dan saluran cerna anak yang belum matang menyebabkan jumlah kuman yang dibutuhkan untuk menimbulkan sakit jauh lebih sedikit. Faktor perilaku seperti kebiasaan jajan di luar pengawasan orang tua juga meningkatkan risiko kontaminasi. Pada anak kecil yang belum tentu bisa melaporkan gejala, kebanyakan menjadi anak pendiam dan tampak lemas. 

Mengutip data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2024, sebanyak 806 dari 1.164 kasus keracunan obat dan makanan di Indonesia bersumber dari makanan dan minuman. Sebanyak 42,96 persen dari total kasus tersebut menimpa kelompok usia remaja rentang 12 hingga 25 tahun.

(Ant/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |