Luna Maya Ambil Peran Ganda di Film Zona Merah

2 hours ago 1

AKTRIS Luna Maya resmi bergabung dengan film terbaru berjudul Zona Merah. Film yang diadaptasi dari serial berjudul sama ini menjanjikan skala produksi yang lebih masif untuk versi layar lebar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tidak hanya sebagai pemeran, Luna Maya juga mengambil peran di balik layar sebagai produser eksekutif Zona Merah. Ia mengungkapkan atusiasmenya dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 1 April 2026.

Batal Hiatus

Keterlibatan Luna dalam proyek ini bermula dari kekagumannya terhadap konsep yang diangkat. Sebagai penggemar berat sub-genre undead, ia mengaku terpikat sejak awal melihat pengembangan kekayaan intelektual (Intellectual Property atau IP) film ini. Ketertarikan itu membuat Luna memutuskan untuk mengawal sisi produksi, meski sebenarnya ia sempat merencanakan untuk istirahat sejenak dari hiruk-pikuk industri hiburan tahun ini.

"Jujur sebenarnya awalnya masuk ke proyek ini sebagai executive producer. Enggak berharap diajak main sebenarnya, karena memang saya tertarik banget dengan filmnya. Saya pikir ini salah satu IP besar yang saya percaya banget. Padahal tahun ini rencananya mau hiatus, tapi karena ini saya enggak bisa tolak," ujar Luna Maya.

Dari Meja Produksi ke Depan Kamera

Keputusan Luna untuk akhirnya ikut berakting muncul secara tak terduga. Tim produksi menawarkan sebuah peran kecil yang dirasa sangat cocok untuknya. Tanpa ragu, Luna menerima tawaran tersebut demi menuntaskan rasa penasarannya merasakan sensasai berada di dalam semesta kiamat zombie. Ia bahkan berseloroh bahwa dirinya tidak keberatan jika harus memerankan sosok zombie sekalipun, asalkan bisa terlibat dalam visualisasi dunia yang mencekam tersebut.

Namun, Luna menegaskan bahwa fokus utamanya tetap pada pengembangan cerita dan kualitas produksi. Menurutnya, daya tarik utama Zona Merah bukan sekadar pada teror monsternya, melainkan pada kedalaman karakter di dalamnya.

Luna menilai penonton akan diajak masuk ke dalam situasi dilematis yang emosional, di mana para penyintas harus memilih antara bertahan hidup atau merelakan sesuatu yang berharga. Hal inilah yang ia anggap sebagai elemen pembeda dari film horor pada umumnya.

"Kalau cerita zombie atau horor secara struktur mungkin mirip-mirip ya, ada virus lalu terjadi kekacauan. Tapi yang menarik adalah bagaimana karakter itu membawa cerita menjadi engaging. Di sini karakternya sangat kuat, bagaimana mereka bertahan hidup dan mencari jati diri di tengah situasi yang di luar nalar," ungkapnya.

Ambisi 'Train to Busan' Versi Indonesia

Optimisme Luna semakin diperkuat dengan kehadiran deretan pemeran berbakat lainnya seperti Aghniny Haque, Maria Theodore, Andri Mashadi, Bryan Domani, Shindy Huang, dan Myesha Lin. Di bawah arahan sutradara Sidharta Tata dan Fajar Martha Lingga, Luna meyakini bahwa Zona Merah akan menjadi paket komplit yang memenuhi ekspektasi pencinta film nasional.

Menutup sesi wawancara, Luna menaruh harapan besar agar film ini mampu menjadi tonggak sejarah baru bagi sinema Indonesia, setara dengan pencapaian film-film bertema serupa dari mancanegara.

"Kalau Korea punya Train to Busan, Indonesia harus punya Zona Merah. Saya percaya di tangan Tata dan Fajar, ini akan menjadi film yang paling ditunggu-tunggu dan memberikan pengalaman sinematik yang wah bagi penonton," ujarnya.

ANDARA ANGESTI

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |