MENTERI Perdagangan Budi Santoso menyatakan kinerja ekspor Indonesia tetap menunjukkan tren positif meski situasi geopolitik global tengah bergejolak, khususnya akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Budi, ketegangan yang dipicu oleh serangan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, terhadap Iran memang memberi tekanan terhadap perdagangan global, termasuk Indonesia. Selain itu, meningkatnya kebijakan proteksionisme di berbagai negara turut menjadi tantangan bagi kinerja ekspor nasional.
“Di tengah ketidakpastian global, kinerja ekspor kita justru menunjukkan resiliensi yang cukup kuat,” ujar Budi saat peluncuran Program Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor yang dipusatkan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Kamis, 2 April 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada awal April, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2026 mencapai US$ 44,32 miliar atau naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Budi menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa peluang pasar global bagi produk Indonesia masih terbuka lebar. "Meski begitu, pemerintah tetap mewaspadai dampak lanjutan dari konflik geopolitik, terutama terhadap stabilitas rantai pasok dan permintaan pasar," katanya.
Ia mengungkapkan, kawasan Timur Tengah saat ini menyumbang sekitar 3,49 persen terhadap total ekspor Indonesia, dengan nilai mencapai sekitar US$ 9,87 miliar. Angka tersebut dinilai cukup signifikan sehingga perlu dijaga agar tidak tergerus oleh eskalasi konflik.
Untuk merespons kondisi tersebut, Budi mengatakan Kementerian Perdagangan menyiapkan sejumlah langkah. Salah satu fokus utama adalah mempercepat diversifikasi pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu.
Menurut Budi, strategi diversifikasi memang bukan hal baru, tetapi menjadi semakin relevan di tengah krisis global yang dapat mengubah peta perdagangan secara cepat. Ia mencontohkan situasi pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu rantai pasok global dan membuka peluang bagi negara lain untuk mengisi kekosongan pasar.
Selain itu, pemerintah berupaya mengoptimalkan berbagai perjanjian dagang yang telah dimiliki Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menekan hambatan tarif maupun non-tarif, sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional.
“Ketika terjadi disrupsi global, selalu ada peluang baru. Yang penting adalah bagaimana kita bisa bergerak cepat untuk memanfaatkan momentum tersebut,” kata Budi.
Dengan kombinasi strategi diversifikasi pasar dan optimalisasi kerja sama dagang, pemerintah optimistis kinerja ekspor Indonesia dapat terus terjaga, bahkan meningkat, di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491263/original/038261600_1770089716-wehrmann_j.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)





