PEMERINTAH Uni Emirat Arab (UEA) menepis laporan yang menyebut negara itu akan bergabung dalam konflik Timur Tengah demi membuka kembali Selat Hormuz. Bantahan ini disampaikan menyusul meningkatnya spekulasi soal keterlibatan militer negara Teluk tersebut.
Dilansir Anadolu, seorang pejabat UEA dalam pernyataan resmi mengatakan laporan terbaru yang menyebut adanya perubahan sikap UEA adalah menyesatkan. "UEA mempertahankan posisi defensif yang berfokus pada perlindungan kedaulatan, rakyat, dan infrastrukturnya, serta mempertahankan hak untuk membela diri sebagai respons atas serangan yang melanggar hukum dan tanpa provokasi,” kata pejabat itu pada Rabu 1 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
UEA Respons Laporan Media Internasional
Bantahan tersebut muncul setelah laporan dari The Wall Street Journal yang menyebut UEA 'bersedia bergabung dalam pertempuran' mendukung Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz seperti dilansir NDTV.
Laporan itu juga menyebut diplomat UEA melobi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mengesahkan resolusi yang memungkinkan pembukaan selat dengan kekuatan militer. Selain itu, UEA dikabarkan mendorong pembentukan koalisi bersama Amerika Serikat serta kekuatan militer di Eropa dan Asia. Namun, pemerintah UEA menegaskan tetap berkomitmen pada upaya kolektif internasional yang bertujuan menjaga keamanan maritim dan memastikan kelancaran arus perdagangan di Selat Hormuz.
Pentingnya Selat Hormuz bagi Ekonomi Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 juta barel minyak, atau hampir 20 persen pasokan global, melewati jalur ini setiap hari. Gangguan terhadap selat tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga minyak, terganggunya pengiriman, dan meningkatnya risiko kerusakan ekonomi global.
Dalam pernyataannya, pemerintah UEA menegaskan agar jalur air strategis seperti ini tidak boleh mengalami gangguan atau tekanan dari negara mana pun. "Terutama dengan cara yang mengancam stabilitas ekonomi global dan keamanan internasional,” katanya.
Gangguan di Selat Hormuz terjadi sejak awal Maret 2026, setelah Iran membatasi akses sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Negara-negara Teluk, termasuk UEA, sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak dan impor kebutuhan pokok.







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491263/original/038261600_1770089716-wehrmann_j.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)





