WISMA Habibie & Ainun yang dibuka untuk umum mengajak pengunjung untuk mengenal lebih dekat dengan Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie. Mulai dari perpustakaan ikonik dengan ukiran dan tangga melingkar, ruang persemayaman hingga area pendopo.
Seperti tur sejarah pada umumnya, pengunjung diajak menyusuri setiap sudut rumah yang berlokasi di Jalan Patra Kuningan XIII No 3, 5, dan 7 Jakarta Selatan itu. Namun titik awal tur bisa berbeda-beda.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Misalnya, saat Tempo berkunjung, pada Senin, 30 Maret 2025, diawal dari perpustakaan yang menyimpan sekitar 5.000 buku koleksi Habibie. Lalu bergeser ke area ruang Bhineka Tunggal Ika yang dihiasi panel budaya yang mewakili lima pulau terbesar di Indonesia, Jawa, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan Papua.
Setelah taman intelektual, ruang tamu dan rapat, serta ruang persemayaman yang hanya boleh dilihat dari dekat, tur berakhir di area pendopo. Satria Habibie, salah satu duta keluarga untuk Wisma Habibie Ainun itu menceritakan, awalnya ruang ini adalah lapangan bulu tangkis di luar ruangan.
Tempat itu juga digunakan untuk ibadah salat dan pengajian. Pada satu masa, hujan deras melanda, tenda-tenda yang digunakan roboh. "Eyang merasa sedih tidak bisa memuliakan tamu-tamunya, setelah kejadian itu eyang berpikir langsung membuat aula ini," kata Satria, yang merupakan cucu Junus Effendi Habibie, adik B.J Habibie.
Ruangan itu dihiasi dengan pilar-pilar dengan ukiran bermotif masjid. Sedangkan di bagian atapnya dihiasi dengan ukiran bunga truntum kesukaan istri Habibie, Hasri Ainun Besari. Dulu, kata Satria, ruangan itu menjadi ruang kerja Habibie ketika menjabat sebagai presiden. Ada dua meja ukiran kembar di ruangan itu. Salah satunya dipindah ke ruangan depan.
Baca juga: Warisan Pemikiran Budaya B.J. Habibie di Wisma Habibie Ainun
Makana rumahan
Kini, ruangan tersebut digunakan untuk ruang makan. Pengunjung dapat merasakan pengalaman bersantap lewat program Habibie Legacy Experience. Makanan yang dihidangkan adalah makanan favorit Habibie dan Ainun.
Uniknya, makanan favorit mereka adalah masakan rumahan seperti yang biasa disantap kebanyakan masyarakat Indonesia..Seperti sayur lodeh, sayur asem, tumisan kangkung, serta lauk pauk seperti tahu, tempe, ayam, dan ikan goreng. "Enggak boleh terlalu mewah, yang sederhana," kata Satiyah, yang bekerja di rumah itu sejak tahun 1987.
Sayur lodeh, kata dia, menu wajib yang harus tersedia untuk keluarga atau tamu. Resep sayur lodeh berasal dari Ainun lalu disesuaikan dengan cara memasaknya. Selain itu, dia juga membuat sambal dua macam karena pasangan itu memiliki cita rasa yang berbeda. "Pak Habibie cenderung asin dan gurih, kalau bu Ainun sukanya manis," ujar perempuan 55 tahun itu.
Dia juga yang menyiapkan menu sarapan, seperti roti dengan butter atau telur ceplok, bubur ayam dan bubur Manado khusus hari Jumat. Setelah Habibie dan Ainun berpulang, Satiyah masih bekerja di rumah itu. Kini, dia memasak untuk putra mereka, Ilham Habibie. Tak hanya untuk keluarga, dia juga menyiapkan hidangan untuk tamu-tamu dan pengunjung yang datang. "Pernah hampir untuk 70-75 tamu," katanya.
Bekerja puluhan tahun, Satiyah, yang juga istri asisten pribadi Habibie, merasakan banyak momen berkesan dengan pasangan itu. Dia menganggap Ainun seperti ibunya sendiri, karena telah mengajarkan banyak hal dan menjadi tempatnya bercerita. Sedangkan dengan Habibie, ada pesan yang selalu diingat, "Resep itu jangan dikasih orang, enggak boleh."
Resep modifikasi
Sebab itu, dalam program ini, Satiyah hanya mengirimkan makanan-makanan favorit Habibie dan Ainun untuk dimodifikasi oleh Plataran Catering Service.
Hasilnya, seperti beberapa menu yang disajikan siang itu, Sayur Lodeh Kenangan Ainun, hidangan utama berupa Nasi Liwet Manunggal dengan pelengkap berupa Ayam Semur si Gula Jawa, Sate Domba Gulai Kota Kembang, dan Iga Sapi Saus Soto Betawi, serta hidangan penutup Strudel Apel Pelukan Jerman yang dilengkapi dengan es krim salted caramel.
Chef Reiyan Trisandra, corporate chef Plataran Indonesia, mengatakan setelah Satiyah mengirimkan contoh makanan-makanan favorit itu, dia mempelajari bahan-bahan yang digunakan. "Saya bedah lagi, pelajari lagi bahannya," katanya.
Lalu memodifikasinya dengan teknik memasak khusus sehingga dari masakan rumahan menjadi hidangan ala fine dining. Menurut Chef Reiyan, hidangan yang disajikan memang tidak hanya untuk dinikmai secara keseluruhan tapi juga untuk menghidupkan lagi kisah dan memori pasangan tersebut.
Sayur Lodeh Kenangan Ainun terinspirasi dari sayur lodeh favorit Ainun. Disajikan di dalam batok kelapa, hidangan itu dbuat mirip dengan kesukaan Ainun yang pantang menggunakan santan, Chef Reiyan menambahkan air kelapa dan krimer sehingga menonjolkan rasa gurih. "Air kelapa-nya buat dasar sayur lodeh, ditambah krimer, rasanya seperi pakai santan" ujarnya.
Ayam Goreng si Gula Jawa berupa ayam goreng tepung yang dikombinasi dengan saur semur dengan citasa rasa rempah dan kayu manis. Iga Saus Soto Betawi juga terinspirasi dari kesukaan Habibie menyantap Soto Betawi. Jadi potongan iga sapi saijkan dengan saus yang terinspirasii Soto Betawi. Baik potongan ayam dan iga sapi dimasak dengan metode brasing, dimasak perlahan sehingga empuk dan bumbunya meresap.
Sedangkan hidangan penutup merupakan perpaduan antara hidangan Jerman dengan sentuhan tradisional. Hasilnya campuran potongan apel yang dikaramelisasi lalu dibungkus dengan adonan pancake yang tidak terlalu tebal. Disajikan dengan es krim salted caramel dan serpihan kacang-kacanganan, menjadi hidangan penutup yang manis dan gurih. Sesuai dengan cita rasa favorit pasangan Habibie dan Ainun.
Head of Sales & Operation Wisma Habibie Ainun Wulan Agustien menambahkan, pilihan menu khusus itu berasal dari keluarga dan hanya bisa dihidangkan di rumah ini. "Kami ingin melestarikan menu signature dari Eyang Habibie & Ainun, dan untuk melengkapi historical tour yg hanya ada di Wisma Habibie dan Ainun," ujarnya kepada Tempo.
Selama ini, program Habibie Legacy Experience hanya untuk klien atau korporat. Namun, kata Wulan, tidak menutup kemungkinan program ini juga dapat dinikmati pengunjung umum.
Salah satu pengunjung, Rizkya Fajarni Bahar, 29 tahun, dari Jakarta, mengatakan wawasannya tentang sosok Habibie kian bertambah. Tidak hanya mengenalnya sebagai negarawan tapi juga juga kehidupan sehari-hari Habibie di rumah, kesederhanaan dan kebersamaannya. "Selain makanan rumahan, aku baru tahu sayur lodeh bisa menggunakan krimer dan gula pasir," katanya.







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491263/original/038261600_1770089716-wehrmann_j.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)






