Jakarta, CNN Indonesia --
Kantor Perdana Menteri Israel mengeklaim PM Benjamin Netanyahu sempat mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) diam-diam untuk bertemu Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) di awal Operasi Roaring Lion ke Iran berlangsung.
Operasi Roaring Lion merupakan operasi militer Israel yang bergabung dengan AS untuk melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu dan memicu perang meluas di Timur Tengah hingga hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan itu menjadi pertemuan pertama yang diumumkan secara terbuka oleh Israel terhadap negara Arab terutama UEA sejak penandatanganan Abraham Accords pada 2020.
"Kunjungan ini menghasilkan terobosan bersejarah dalam hubungan antara Israel dan UEA," kata Kantor Perdana Menteri Israel pada Rabu (13/5).
Dikutip Jerusalem Post, bos badan intelijen Israel Mossad David Barnea dan Kepala Shin Bet David Zini juga mengunjungi UEA pada beberapa kesempatan selama Operasi Roaring Lion untuk melakukan koordinasi terkait perang.
Konfirmasi lain mengenai kerja sama Israel-UEA selama perang juga datang dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee. Pekan lalu, Huckabee mengatakan Israel telah mengirim baterai pertahanan udara Iron Dome ke UEA untuk membantu melindungi negara itu dari serangan balasan Iran.
Menurut laporan The Wall Street Journal, UEA juga disebut berada di balik sejumlah serangan terbaru terhadap aset-aset Iran, termasuk serangan terhadap kilang di Pulau Lavan pada awal April.
Namun, UEA membantah semua laporan itu, termasuk kunjungan Netanyahu ke Abu Dhabi.
Pada Rabu malam, Kementerian Luar Negeri UEA merilis pernyataan berisikan bantahan kunjungan Netanyahu maupun pejabat militer Israel ke negara tersebut.
"Uni Emirat Arab membantah laporan yang beredar mengenai dugaan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke UEA, atau penerimaan delegasi militer Israel di negara ini," kata kementerian luar negeri UEA dalam sebuah pernyataan.
"Setiap klaim mengenai kunjungan atau pengaturan yang tidak diumumkan secara resmi adalah tidak berdasar kecuali dikeluarkan oleh otoritas resmi terkait di UEA," tambah pernyataan Kemlu UEA tersebut seperti dikutip AFP.
Kemlu UEA juga meminta media untuk tidak menyebarkan "informasi yang tidak terdokumentasi" atau menggunakannya "untuk membangun kesan politik".
Sementara itu, mantan juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Ziv Agmon, yang mengundurkan diri pada Maret lalu, membantah penyangkalan UEA.
Ia mengatakan dirinya hadir dalam kunjungan Netanyahu ke UEA tersebut dan sang PM Israel "disambut dengan penghormatan kerajaan".
"Sebagai seseorang yang mengenal UEA dengan baik dan pernah tinggal di sana dalam waktu lama, serta seseorang yang mendampingi perdana menteri dalam perjalanan bersejarah yang sangat rahasia hingga hari ini, saya dapat mengatakan bahwa PM disambut di Abu Dhabi dengan penghormatan kerajaan," tulis Agmon di Facebook.
"MBZ, keluarganya, dan para pejabat lainnya menyambut kami dan senang melihat perdana menteri Israel berada di tanah mereka. MBZ sangat menghormati PM, bahkan secara pribadi mengantar PM dengan mobil pribadinya dari pesawat menuju istana," tambahnya.
Menurut Agmon, hal-hal yang disepakati Netanyahu dalam "kunjungan luar biasa ini" akan dibicarakan selama beberapa generasi mendatang karena merupakan terobosan besar.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
3




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)













