Tokyo (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (16/3) mengatakan ingin menunda kunjungan ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping selama “sekitar satu bulan” akibat perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
“Kami sedang mengupayakannya sekarang,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval. “Saya ingin sekali pergi ke China, tetapi karena perang ini, saya ingin berada di sini. Saya harus berada di sini.”
Trump, yang dijadwalkan mengunjungi ibu kota China pada 31 Maret--2 April, juga mengatakan, “Saya menantikan untuk bertemu dengannya. Kami memiliki hubungan yang sangat baik,” merujuk pada Xi, di tengah upaya Presiden AS mendorong negara-negara Asia dan Eropa untuk membantu mengamankan Selat Hormuz yang sebagian besar tertutup bagi pelayaran selama sekitar dua pekan.
Ia mengatakan AS telah meminta China untuk menunda pertemuannya dengan Xi.
Pada Selasa, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian hanya menyampaikan dalam konferensi pers bahwa Beijing dan Washington “terus menjaga komunikasi” terkait waktu kunjungan Trump.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan bahwa perjalanan Trump ke China dapat dijadwalkan ulang, dengan alasan kebutuhan untuk fokus pada perang AS-Israel melawan Iran.
“Sebagai panglima tertinggi, prioritas utamanya saat ini adalah memastikan keberhasilan berkelanjutan dari operasi ini, Epic Fury. Jadi, kami akan memberi informasi terbaru mengenai tanggalnya sesegera mungkin,” katanya terkait agresi militer terhadap Iran yang diluncurkan kedua negara pada 28 Februari.
Tetap di Washington
Setelah pertemuan dengan pejabat ekonomi tinggi China di Paris, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan dalam konferensi pers bahwa Trump ingin tetap berada di Washington “untuk mengoordinasikan upaya perang.”
“Melakukan perjalanan ke luar negeri pada saat seperti ini mungkin bukan pilihan yang optimal,” tambahnya.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan dalam wawancara dengan Financial Times bahwa ia dapat menunda pertemuannya dengan Xi jika China tidak merespons permintaannya untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan.
Dengan Iran yang pada dasarnya menutup selat tersebut, Trump meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah, termasuk Jepang dan Korea Selatan, untuk mengirim kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran penting itu.
Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, Trump kembali menyerukan dukungan untuk membantu membuka kembali selat tersebut - yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia - dan mengeklaim bahwa “banyak negara telah mengatakan kepada saya bahwa mereka sedang dalam perjalanan. Beberapa sangat antusias, dan beberapa tidak.”
Ia menegaskan bahwa tingkat antusiasme sebelum perang berakhir menjadi perhatian baginya, namun tidak merinci negara mana yang menunjukkan antusiasme dan mana yang tidak.
Trump juga mengeluhkan bahwa beberapa sekutu AS enggan terlibat, meskipun AS telah membantu mereka selama “bertahun-tahun.”
Trump dijadwalkan menjamu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih pada Kamis (19/3), yang berpotensi menempatkannya dalam posisi sulit.
Belum ada kepastian
Seiring perang memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda segera berakhir, prospek kunjungan pertama Trump ke China pada masa jabatan keduanya menjadi semakin tidak pasti.
Meski demikian, pejabat ekonomi tinggi kedua negara menggelar pembicaraan selama dua hari hingga Senin untuk mempersiapkan pertemuan puncak dan sepakat menjaga komunikasi yang erat.
Berbicara di Paris, Bessent menyiratkan bahwa pembahasan mereka terutama berfokus pada isu perdagangan, termasuk penjelasan kebijakan tarif baru pemerintahan Trump kepada delegasi China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri He Lifeng.
Menurut media resmi China, Beijing menentang penyelidikan perdagangan baru AS yang dapat berujung pada penerapan kembali tarif tinggi pada akhir tahun ini.
Setelah Mahkamah Agung pada Februari memutuskan bahwa Trump tidak dapat menggunakan undang-undang darurat era 1970-an untuk memberlakukan tarif besar tanpa persetujuan Kongres, pemerintahannya kini berupaya menggantinya dengan tarif baru melalui kerangka hukum yang berbeda.
Pekan lalu, pemerintah AS membuka penyelidikan berdasarkan Section 301 dari Trade Act 1974 terhadap China dan sejumlah negara lain terkait dugaan praktik kelebihan kapasitas industri dan kerja paksa.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, yang turut dalam pembicaraan dua hari tersebut, mengatakan mereka juga membahas kemungkinan pembentukan mekanisme untuk mendorong perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia, yang dapat disebut sebagai “Dewan Perdagangan AS-China.”
Sejak tahun lalu, Bessent dan He telah memimpin beberapa putaran negosiasi perdagangan di kota-kota Eropa dan Asia, termasuk Jenewa, Stockholm, dan Kuala Lumpur.
Rangkaian pembicaraan tersebut turut mempersiapkan pertemuan Trump dengan Xi pada akhir Oktober di Korea Selatan, di mana kedua presiden menyepakati gencatan senjata selama satu tahun dalam perang dagang antara kedua negara.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: China jawab Trump soal bantu pulihkan lalu lintas di Selat Hormuz
Baca juga: China sebut pemilihan pemimpin tertinggi Iran sesuai konstitusi
Penerjemah: Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486410/original/015853500_1769586166-Pesib_Kurzawa.jpg)









