PENYIDIK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Muara Enim, Edison, dalam operasi tangkap tangan atau OTT di wilayah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada Senin, 8 Juni 2026. Operasi senyap itu diduga berkaitan dengan dugaan penerimaan para penyelenggara negara dari pihak swasta.
Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan lembaganya menjaring sepuluh orang dalam OTT yang digelar di Kabupaten Muara Enim dan Jakarta. "Lima orang dari unsur Pemkab Muara Enim, salah satunya bupati. Kemudian lima orang lainnya dari pihak swasta," ucap Budi lewat keterangan tertulisnya, Senin.
Profil Bupati Edison
Berdasarkan laman resmi Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Muara Enim, Edison lahir di Banuayu, 6 Maret 1968. Ia merupakan lulusan magister hukum di Universitas Sriwijaya pada 2003. Sebelum memperoleh gelar magister, Edison merupakan lulusan sarjana hukum di Universitas Sumatera Utara pada 1992. Tak hanya karir pendidikan, Edison turut mendapatkan dua penghargaan Satya Lencana dari Karya Satya pada 2010 dan 2017.
Mengutip akun Instagram @humaspimpinan_muaraenim, Edison telah malang melintang memimpin kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia tercatat beberapa kali menjabat sebagai kepala kantor BPN di berbagai wilayah seperti Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Musi Rawas, hingga Kepala Kantor BPN Kota Palembang.
Edison juga turut menjadi pengurus organisasi keagamaan yakni pembina pengurus cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Muara Enim, serta pengurus dan pembina bidang organisasi dan keagamaan.
Edison mulai menjajaki karir politik dengan bergabung ke Partai NasDem. Ia menjajal kemampuan politiknya dengan mencalonkan diri sebagai calon Bupati Muara Enim dalam kontestasi pilkada pada 2024. Edison berpasangan dengan Sumarni sebagai calon Wakil Bupati Muara Enim dan memenangkan pilkada dengan perolehan suara sebanyak 114.258.
Harta kekayaan Edison
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan Edison pada 2025, ia mempunyai harta kekayaan sebanyak Rp 16 miliar. Edison memiliki tanah dan bangunan senilai Rp 14 miliar yang tersebar di Kota Palembang, Banyuasin, serta Prabumulih.
Selain itu, Edison juga memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp 505 juta yang terdiri kendaraan roda empat jenis Toyota Alphard 2010 serta Toyota Fortuner 2010. Edison turut memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 705 juta.



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)











