Publik Amerika Serikat Kian Jenuh terhadap konflik Iran

2 hours ago 2

PAKAR Amerika Serikat dari Universitas Indonesia, Suzie Sudarman mengatakan kejenuhan publik Amerika Serikat terhadap konflik dengan Iran dinilai kian menguat. "Hal ini berpotensi menjadi tekanan politik bagi Presiden Donald Trump, terutama di tengah tren penurunan dukungan domestik," katanya seperti dilansir Antara.

Menurut Suzie, kebuntuan dalam proses negosiasi membuka ruang bagi Washington untuk kembali mempertimbangkan opsi militer. “AS bisa saja menyerang Iran, tetapi yang menanggung biaya (perang) tentu rakyatnya, yang sudah jenuh dengan perilaku Donald Trump,” ujarnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menilai, dalam berbagai skenario konflik, Iran masih memiliki kapasitas perlawanan yang signifikan, terlebih jika mendapat dukungan dari kekuatan besar seperti Cina dan Rusia. Dalam situasi demikian, perang tidak lagi menjadi instrumen efektif untuk mengonsolidasikan dukungan politik domestik.

Suzie juga menyoroti dinamika di dalam basis pendukung Trump. Kelompok Make America Great Again disebut mulai terfragmentasi dan tidak sepenuhnya mendukung eskalasi konflik. “Unsur nasionalisme AS yang disuarakan kelompok MAGA terpecah, mereka tidak rela AS ditunggangi kaum Zionis,” katanya.

Di sisi lain, tekanan fiskal akibat biaya perang dinilai semakin sulit dijustifikasi pemerintah. Menteri Pertahanan Pete Hegseth disebut menghadapi kesulitan saat dimintai penjelasan oleh anggota Kongres terkait pembiayaan konflik Iran dalam forum dengar pendapat.

Meski demikian, Suzie menilai Trump masih memiliki ruang manuver politik, terutama dengan dukungan Partai Republik di Kongres. Dalam sistem konstitusi AS, kewenangan menyatakan perang berada di tangan legislatif, termasuk melalui mekanisme War Powers Resolution yang memungkinkan pembatasan tindakan militer presiden.

“Trump juga akan mempertimbangkan langkah lebih lanjut dengan mengukur masih setiakah Partai Republik untuk tetap mendukungnya,” ujar Suzie.

Ia menambahkan, kekhawatiran Partai Republik terhadap potensi kekalahan dalam pemilu sela berpeluang membuat mereka tetap berada di belakang Trump, termasuk dalam menolak penggunaan War Powers Resolution untuk menghentikan operasi militer.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menggelar perundingan awal di Islamabad pada 11–12 April 2026. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Sejumlah isu krusial masih menjadi penghambat, termasuk persoalan Selat Hormuz, blokade terhadap pelabuhan Iran, serta hak Teheran dalam program pengayaan uranium.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |