Timur Tengah di titik panas baru

2 days ago 8

Jakarta (ANTARA) - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat-Israel versus Iran akhirnya mencapai titik kritis pada Sabtu, 28 Februari, ketika AS secara resmi melancarkan serangan ke negara tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman langsung dari rezim Iran.

Sebelumnya pada hari itu, Israel telah melancarkan serangan preemptif terhadap Iran, menyusul serangan pertama ke Iran pada Juni 2025. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, serta ke fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Serangan AS-Israel menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa, termasuk gugurnya sang Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah. Ia menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah menjabat sebagai presiden dari 1981 hingga 1989.

Diplomasi mandek

Menjelang 'hari eksekusi', tepatnya 26 Februari, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi mengatakan delegasi Iran dan AS menyelesaikan putaran baru perundingan di Jenewa "setelah kemajuan yang signifikan dalam negosiasi".

Pertemuan itu menandai putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS di bawah mediasi Oman. Delegasi Iran dipimpin Menlu Seyed Abbas Araghchi, sementara utusan khusus kepresidenan AS, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, mewakili Washington dalam negosiasi tersebut.

Tentu saja perjumpaan itu dinilai menjadi sinyal positif sekaligus angin segar untuk menjauh dari opsi perang. Namun sayang, keputusan Trump untuk menyerang Iran mengagetkan sebagian besar orang sekaligus menjadi pemicu langsung eskalasi.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinannya bahwa serangan terhadap Iran menunjukkan peluang diplomasi dari perundingan nuklir yang berjalan telah "disia-siakan".

Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai Iran di Markas PBB New York, Sabtu, Guterres menyoroti serangan AS-Israel terjadi setelah putaran ketiga perundingan tak langsung antara AS dan Iran yang ditengahi Oman.

"Saya sangat menyesalkan peluang diplomasi ini telah disia-siakan," katanya.

Kronologi eskalasi

Serangan AS-Israel melalui udara dan laut akhir pekan lalu menghantam sejumlah sasaran di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran dan Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Media lokal Iran, yang mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyebutkan bahwa sekitar 160 orang tewas dalam serangan AS di lembaga pendidikan tersebut.

Tak tinggal diam. Iran pun langsung mengirim serangan balasan untuk AS-Israel dengan menggempur semua fasilitas utama AS dan Israel di kawasan termasuk di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan dimulainya "operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran" menyusul kematian syahid Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Gelombang baru serangan rudal telah diluncurkan Iran terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

IRGC menyampaikan bahwa serangan tersebut diarahkan ke 27 titik, antara lain pangkalan udara Tel Nof di Israel tengah, markas besar angkatan darat Israel, dan sebuah kompleks industri militer di Tel Aviv.

"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkan sirene alarm di Israel dan pangkalan AS menjadi hening, dan kami akan melancarkan tahapan balas dendam yang keras melalui serangan yang bertahap," demikian pernyataan IRGC.

Konflik AS-Israel versus Iran masih bergulir. Kawasan Timur Tengah masih membara. Masih berdarah. Menurut Palang Merah Iran (IRCS) pada Sabtu, sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya mengalami luka-luka di Iran akibat serangan AS.

Sementara itu, IRGC pada Ahad mengatakan sedikitnya 560 personel militer AS tewas dan luka-luka dalam serangan Iran ke pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah.

Tak hanya korban jiwa dan infrastruktur, serangan saat ini di kawasan juga mengganggu penerbangan dan aktivitas ekonomi di banyak negara. Perbatasan Palestina juga ditutup selama serangan berlangsung. Tetangga terkena imbasnya atas apa yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Di sejumlah negara kawasan, yang menjadi basis pangkalan AS dan tak luput dari serangan Iran, juga melaporkan adanya korban.

Merespons situasi saat ini, sejumlah kedutaan asing/organisasi internasional di Iran dan negara kawasan mengeluarkan imbauan bagi warga negaranya untuk mengambil langkah penyelamatan diri jika terjadi eskalasi konflik. Penetapan level siaga III itu untuk merespons adanya eskalasi militer antara AS-Israel dan Iran.

Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari Sabtu lalu juga menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup di tengah situasi memanas di kawasan. "Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," katanya.

Respons dunia
Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Iran di Markas PBB New York, Sabtu, Guterres mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di Timur Tengah, dengan semua pihak berkonflik hendaknya kembali ke meja perundingan.

"Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Jika tidak, yang terjadi adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan," katanya.

Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menuntut AS dan Israel segera menghentikan tindakan agresif mereka terhadap Iran. Ia menilai tindakan tersebut merupakan "aksi agresi bersenjata tanpa provokasi" yang melanggar Piagam PBB dan hukum internasional dan berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan ekonomi yang serius di kawasan.

Seruan serupa juga disampaikan China, yang mengaku sangat prihatin atas serangan militer AS-Israel terhadap Iran, menambahkan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati.

Sementara itu, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Pemerintah Indonesia menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

Indonesia menyeru semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi sambil menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

Dampak global

Serangan AS-Israel versus Iran dipastikan berdampak besar bagi roda ekonomi dunia. Dengan Selat Hormuz ditutup, potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) sudah di depan mata. Kenaikan harga kebutuhan pokok pun pada akhirnya tak bisa terhindarkan.

Diketahui bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran yang paling penting bagi lalu lintas pasokan minyak dunia, di mana sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian dunia atau sekitar 20 juta barel melewati jalur tersebut. Gejolak pasar juga mulai terlihat dengan melemahnya harga saham akibat eskalasi di Kawasan.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii menilai bahwa eskalasi konflik AS-Israel versus Iran akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, terlihat dari berlanjutnya serangan AS–Israel dan serangan balasan Iran yang menjangkau negara-negara tetangga tempat pangkalan AS berada.

"Mengingat perang ini bukan mandat PBB, maka de-eskalasi akan terjadi manakala pihak yang berkonflik mencapai titik temu," katanya.

Ia mengatakan negara-negara Timur Tengah tampaknya tidak dalam posisi berkonflik dengan Iran. "Meski ruang udara dan wilayah darat mereka terdampak, negara-negara kawasan cenderung memilih pendekatan diplomatik daripada terlibat konflik langsung dengan Iran. Belum ada urgensi bagi negara Timur Tengah untuk berperang dengan Iran," katanya.

Syaroni juga mengatakan bahwa wafatnya Ayatollah Ali Khameini menyisakan kekosongan kepemimpinan nasional bagi Iran, namun hal itu tidak otomatis menghentikan jalannya pemerintahan karena selama ini Ayatollah berperan sebagai Wilayatul Fakih yang fungsinya memberi arahan dan nasehat, bukan eksekutor.

"Iran memiliki sistem dan mereka punya pengalaman kehilangan tokoh. Jadi menurut saya Iran akan tetap sama, politik luar negerinya tetap persisten seperti sedia kala," ucapnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Sekjen PBB dan Dewan Keamanan PBB memiliki kewenangan untuk dapat mendorong gencatan senjata. Namun, karena konflik ini bukan mandat mereka, tekanan justru lebih efektif datang dari aktor domestik di Amerika Serikat untuk menghentikan perang. Jika AS menghentikan dukungannya, Israel diyakini akan mengikuti arah kebijakan AS.

Ia menambahkan bahwa eskalasi kawasan Timur Tengah dipastikan berimbas terhadap suplai energi global, di mana akan terjadi kenaikan harga minyak dunia dan lalu lintas penerbangan rute Timur Tengah menghadapi gangguan. "Dari sisi geopolitik negara-negara akan mulai berfikir untuk memperkuat diri di bidang pertahanan," katanya.

Baca juga: Indef: Konflik AS-Israel dan Iran dorong kenaikan biaya logistik RI

Baca juga: Inggris bersiap evakuasi 94.000 warganya dari Timur Tengah

Baca juga: Kembali terdengar dentuman di Abu Dhabi, Dubes RI imbau WNI berlindung

Editor: Sri Haryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |