Puluhan warga AS dan Kanada masuk dalam daftar ratusan wisatawan yang hilang akibat banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet. Lebih dari 150 orang tewas.(AFP)
PULUHAN warga negara Serikat Amerika Serikat (AS) dan Kanada masuk dalam daftar ratusan orang yang hilang menyusul bencana banjir bandang dan tanah longsor di dekat perbatasan Nepal-Tibet. Pihak berwenang Nepal mengonfirmasi sejauh ini lebih dari 150 orang dilaporkan tewas akibat musibah tersebut.
Menurut Kepolisian Nepal, lebih dari 500 wisatawan dilaporkan hilang, termasuk 466 warga negara asing dari 28 negara. Rincian korban hilang mencakup 54 orang dari AS, 24 warga Kanada, lebih dari 100 orang dari India, 33 dari Inggris, serta lebih dari 100 warga Nepal.
Kementerian Luar Negeri AS menyatakan mengetahui adanya warga Amerika yang terdampak banjir pada Rabu, tetapi tidak membeberkan perincian angka demi alasan privasi. Juru bicara kementerian menyebut Kedutaan Besar AS di Nepal bekerja sama erat dengan otoritas dan agen perjalanan lokal untuk membantu warga negara terdampak.
"Kami sangat sedih atas hilangnya nyawa secara tragis dan kehancuran yang disebabkan oleh banjir Bhote Koshi yang melanda distrik Rasuwa dan komunitas di hilir," tulis Kedubes AS dalam pernyataan di media sosial. "Kami menyampaikan belasungkawa tulus kami kepada keluarga dan orang-orang tercinta dari mereka yang kehilangan nyawa."
Pemerintah Kanada juga memantau ketat perkembangan bencana tersebut. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengimbau warganya di wilayah terdampak untuk mendaftar pada layanan pendaftaran warga di luar negeri demi mempermudah bantuan darurat.
"Seiring berlanjutnya upaya penyelamatan, Kanada siap memberikan dukungan," tulis Carney di media sosial X.
Global Affairs Canada mencatat sekitar 820 warga Kanada terdaftar berada di Nepal dan lima orang di Wilayah Otonomi Tibet, Tiongkok, meski angka ini merupakan estimasi awal karena sifat pendaftaran yang sukarela. "Departemen menyadari adanya warga Kanada yang terdampak oleh banjir ini," tulis pihak kementerian.
Sementara itu, media pemerintah Tiongkok melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang hilang di wilayah Tibet. Rekaman CCTV setempat memperlihatkan gelombang air bercampur lumpur menghantam bangunan di pos perbatasan.
Laporan awal Nepal sempat menduga bencana ini dipicu oleh gempa bumi. Namun, Survei Geologi AS (USGS) menjelaskan bahwa analisis lanjutan menunjukkan energi seismik justru dihasilkan oleh tanah longsor itu sendiri. Longsor atau gletser yang runtuh dapat dipicu oleh ketidakstabilan tanah akibat air hujan maupun lelehan es.
Dampak banjir bandang ini menghancurkan seluruh permukiman di sekitarnya. Pejabat pemerintah memperkirakan kerusakan jalan dan jembatan mencapai lebih dari 15 miliar rupee Nepal (sekitar 98,33 juta dolar AS).
Presiden Nepal Ram Chandra Paudel menyerukan tindakan cepat kepada seluruh pihak terkait untuk mempercepat evakuasi. "Saya mengimbau semua orang untuk tetap waspada dan aktif terlibat dalam koordinasi serta kerja sama yang diperlukan di wilayah pesisir bagian bawah," tegas Paudel. (BBC/Z-2)







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)










