Dunhuang (ANTARA) - Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herry Jogaswara mendorong kolaborasi penelitian antara lembaganya dengan lembaga sejenis di China khususnya bidang ilmu sosial.
"Tentu, kami sangat mendorong kolaborasi. Semua 'platform di organisasi riset kami merupakan 'platform'' terbuka, artinya Anda dapat mengajukan kerja sama kapan saja dan kami sangat antusias untuk melakukan penelitian kolaborasi dan kami juga dapat mendukung dari sisi fasilitas," kata Herry di Dunhuang, provinsi Gansu, pada Kamis.
Herry menyampaikan hal tersebut dalam acara "Dialogue on China-ASEAN Cultural Heritage" yang diselenggarakan China International Communications Group (CICG) bersama dengan pemerintah kota Gansu yang dihadiri sekitar 150 orang dari kalangan peneliti, pembuat kebijakan, media hingga "content creator" baik dari China, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Filipina dan Kamboja.
"Kami juga menyadari tantangan antara pendekatan STEM yaitu sains, teknologi, teknik, dan matematika karena biasanya sudah ada begitu banyak pola riset dalam bidang tersebut tapi dalam bidang riset ilmu sosial seperti kami, menurut saya risetnya masih sangat sedikit," ungkap Herry.
Sebagai bagian dari rumpun ilmu SHAPE (social sciences, humanities, arts, religion, and economy), Herry menyebut peneliti di BRIN mencoba mencari cara bagaimana riset dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang baru bagi industri.
"Salah satu produknya kami sebut '101 Ideas for Creative Industry'. Dalam produk ini, kami mengompilasi berbagai jenis riset menjadi satu buku yang saat ini masih berbentuk buku digital dan dapat diakses secara gratis," ungkap Herry.
Buku tersebut, menurut Herry, dapat menjadi upaya menggunakan pendekatan "storytelling" atau penceritaan dalam riset serta bagaimana mengambil hasil riset dan mengembangkannya menjadi produk kreatif.
"Dalam kenyataannya, hal itu tidak mudah. Sebab, seperti kita ketahui, riset memiliki etika. Di sisi lain, ekonomi kreatif juga memiliki berbagai regulasi lain. Namun, kami berusaha sebaik mungkin untuk menghubungkan riset dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi," jelas Herry.
Selain itu Herry mengatakan di BRIN punya pendanaan bersama dengan akademisi melalui model kerja sama yang disebut "no money cross borders".
"Dalam konsep 'no money cross borders', BRIN atau Indonesia menyediakan beberapa hibah bagi peneliti Indonesia di Indonesia. Sementara itu, biaya dan pengaturan lainnya dilakukan melalui mekanisme yang berbeda," ungkap Herry.
BRIN, menurut Herry juga terus berinvestasi dalam infrastruktur riset dan terus mengembangkan lebih banyak platform riset.
"Kami mulai memiliki nota kesepahaman dengan Universitas Shandong untuk membentuk apa yang kami sebut sebagai 'sister laboratory' artinya kami dapat saling bertukar laboratorium untuk melakukan riset yang berkaitan dengan arkeologi, bahasa, dan sastra," tambah Herry.
Ia pun berharap acara tersebut dapat mendorong lebih banyak berdialog antara negara-negara Asia Tenggara dan China.
Sedangkan Ketua Aliansi Warisan Budaya Asia Tenggara Ivan Anthony Henares mengatakan China adalah mitra penting dalam melestarikan warisan budaya.
"Banyak hal yang dapat kami pelajari dari pengalaman China mulai dari konservasi ilmiah dan inovasi digital, hingga interpretasi ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, Asia Tenggara menawarkan pengalaman berharga dalam konservasi yang dipimpin organisasi sipil dan pengelolaan bentang alam yang beragam secara budaya," kata Ivan.
Organisasinya adalah asosiasi dari kelompok sipil untuk pelestarian budaya asal 9 negara Asia Tenggara (kecuali Brunei).
"Pada akhirnya, warisan bukan sekadar tentang melestarikan monumen atau tradisi," ungkap Ivan.
Robot android menari dalam acara "Dialogue on China-ASEAN Cultural Heritage" di kota Dunhuang, provinsi Gansu, Kamis (2/7) (ANTARA/Desca Lidya Natalia)Sedangkan Wakil Direktur China International Communications Group Yu Yingfu mengatakan tahun 2026 menandai lima tahun terjalinnya hubungan kemitraan strategis komprehensif antara China dan ASEAN.
"Selama ini, kerja sama kedua pihak di berbagai bidang terus meningkat, sementara pertukaran antarmasyarakat dan budaya semakin erat. Di dalamnya, warisan budaya sebagai mata rantai penting yang menghubungkan masa lalu dan masa depan untuk mempererat persahabatan kita," kata Yifung.
Dalam penjelasannya ia mengajukan tiga usulan yaitu pertama, menghimpun konsensus kerja sama dan memperkuat fondasi bersama dalam jaringan warisan budaya.
"Dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir. Pertukaran dan dialog antarperadaban juga menghadapi peluang serta tantangan baru. Karena itu, kita perlu secara aktif mendorong aksi perlindungan warisan budaya Asia agar terus berkembang secara mendalam," kata Yifung.
Kedua, menggali nilai zaman yang terkandung dalam warisan budaya sehingga membuka jalur baru bagi kerja sama industri, serta mendorong keterhubungan antara warisan budaya dengan teknologi, media, dan industri kebudayaan.
Sedangkan ketiga, mendorong para pemuda untuk saling berkomunikasi dalam pertukaran budaya internasional.
"Dalam kegiatan ini akan secara resmi diluncurkan program peningkatan kemampuan pemasyarakatan warisan budaya, dengan sasaran utama para pemuda ASEAN. Kami mengundang para pemuda dari berbagai negara untuk secara langsung merasakan upaya perlindungan warisan budaya di China," tambah Yifung.
Program tersebut mengundang para pemuda, akademisi muda, media, dan pelajar dari China serta ASEAN untuk pelatihan daring maupun luring tentang cara membuat produk kreatif dari warisan budaya, mengelola bisnis, dan menghubungkannya dengan industri.
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)












:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)