Seringai Singgung Pemerkosaan 1998 di Soundrenaline 2026

11 hours ago 3

BAND heavy metal asal Jakarta, Seringai, mengguncang Taman Kota Peruri Stage di hari pertama Soundrenaline Sana Sini di Jakarta pada Sabtu, 18 Juli 2026. Bermain selama satu jam mulai pukul 18.00 hingga 19.00 WIB, mereka banyak memainkan lagu-lagu dari album terbarunya bertajuk IV: Anastasis.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Selamat malam Soundrenaline! Terima kasih sudah beraku sopan, faktor umur kali ya, tapi. sama saya juga. Tahun ini saya berusia 52 tahun. Kami baru saja merilis album IV: Anastasis, sepeninggalan almarhum Ricky Siahaan dan sekarang bergabung dua gitaris Angga Kusuma dan Darma Respati,” kata vokalis Arian Arifin.

Band yang kini beranggotakan Arian Arifin pada vokal, Sammy Bramantyo sebagai pemain bas, dan Edy Khemod penabuh drum tampil energik di atas panggung. Dua lagu dari album terbaru seperti “Melunaskan Dendam” dan “Membungkam 98” secara berurutan dibawakan.

“Lagu ini tentang bagaimana rezim sekarang membungkam sejarah ‘65 dulu dan kita dibungkam soal ‘98 juga. Tapi gue yakin masih ada orang di sini yang meneruskan cerita ini. Lagu ini spesifik tentang pemerkosaan massal ‘98 yang dianggap seorang menteri kejadian itu tak pernah ada,” tutur Arian.

Kemudian Seringai membawakan lagu berjudul “Sejati” sebagai refleksi pertemanan seiring bertambahnya usia. “Semakin dewasa lingkungan pertemanan kita, yang paling dekat, semakin kecil. Maka mari menormalisasikan tak lagi menemani orang-orang yang toxic,” ujar Arian. Saat distorsi gitar berpadu dengan ketukan drum bertempo cepat, penonton pun satu persatu berjingkrakan hingga membentuk circle pit.

Saat hendak membawakan lagu bertajuk “Tragedi”, Arian menyinggung kondisi sosial di mana masyarakat saling berkonflik horizontal. “Belakangan ini ada usaha untuk membuat konflik horizontal antar rakyat, itu upaya menyembunyikan kebobrokan rezim ini. Mereka memakai narasi penyimpangan, segala macam, dari dulu juga begitu. Masyarakat selalu dibentrokkan satu sama lain,” ucapnya.

Setelah lagu selesai, Seringai melanjutkan dengan lagu “Pulang” yang membicarakan perihal kesehatan mental yang dialami individu. “Ternyata gue sempat depresi tapi tidak kelihatan dan ternyata itu banyak sekali orang merasakan hal yang sama, mungkin karena tekanan lingkungan, sosial, diri sendiri, hingga luka lama yang mungkin bisa dikomunikasikan kepada pertemanan kalian yang paling dekat,” ujar Arian.

Aksi panggung berlanjut saat Arian menyerukan kepada penonton untuk mengangkat tangan kiri. Lalu intro “Individu Merdeka” pun bergema dan membuat penonton kembali bernyanyi hingga circle pit. Aksi panggung selanjutnya berjudul “Sang Lelaki” yang masuk dalam album baru mereka. “Lagu baru ini sebetulnya sebuah lagu lama dan pernah dirilis dalam bentuk fisik vinyl 7 inchi. Lagu ini tentang kekerasan verbal,” katanya.

Aksi panggung band yang telah terbentuk sejak 2002 itu pun ditutup dengan lagu pamungkas nan populer bertajuk “Dilarang di Bandung”. Namun ketika lagu itu selesai dibawakan, Seringai melanjutkan memainkan lagu “Selamanya” sebagai penyempurna penampilannya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |