PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran telah menyetujui untuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis, 16 April, di tengah negosiasi untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Dilansir TRT World, Trump mengatakan kedua negara kini berada di ambang kesepakatan. “Kami sangat dekat untuk membuat kesepakatan dengan Iran,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Kami harus memastikan bahwa Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir. Mereka sepenuhnya setuju dengan itu. Mereka telah menyetujui hampir semuanya,” katanya menambahkan.
Trump juga menyebut Iran telah sepakat menyerahkan stok uranium yang diperkaya. “Mereka telah setuju untuk menyerahkan kembali ‘debu nuklir’ kepada kami,” kata Trump, merujuk pada istilah yang ia gunakan untuk uranium yang menurut Amerika Serikat dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Tekanan Militer dan Blokade
Menurut laporan Arab News, Amerika Serikat sebelumnya mengancam akan melanjutkan serangan udara dan mempertahankan blokade laut terhadap Iran jika Teheran menolak kesepakatan.
"Jika Iran membuat pilihan yang salah, maka mereka akan menghadapi blokade dan bom yang dijatuhkan ke infrastruktur, listrik, dan energi," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah menghentikan aktivitas perdagangan laut Iran. Mereka menyebut telah memutar balik 13 kapal yang mencoba keluar dari pelabuhan Iran. Selain itu, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap sektor minyak Iran. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan sanksi tersebut menargetkan elit rezim.
Sebagai respons, Iran memperingatkan akan membalas tekanan tersebut. Kepala pusat komando militer Iran, Ali Abdollahi, menyatakan pasukannya tidak akan mengizinkan ekspor maupun impor berlangsung di Teluk Arab, Laut Oman, dan Laut Merah jika tekanan berlanjut.
Perundingan dan Peran Pakistan
Upaya diplomatik terus berjalan dengan Pakistan sebagai mediator. Trump menyatakan kemungkinan akan datang ke Islamabad untuk menandatangani kesepakatan. “Saya mungkin akan pergi, ya. Jika kesepakatan ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi,” ujarnya.
Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya memimpin putaran pertama perundingan di Pakistan, namun belum menghasilkan kesepakatan. Pemerintah AS menyebut pembicaraan lanjutan kemungkinan kembali digelar di negara tersebut.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Teheran secara hati-hati optimistis terhadap proses negosiasi dan berharap menghasilkan kesepakatan yang bermakna.
Di tengah negosiasi, Trump juga mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Libanon yang mulai berlaku pada Kamis. Kesepakatan ini terjadi beberapa hari setelah gencatan senjata terpisah antara Amerika Serikat dan Iran.


















































