50 Tahun HIPPI, Pengusaha Indonesia Diminta Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri

6 hours ago 3
50 Tahun HIPPI, Pengusaha Indonesia Diminta Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri Ilustrasi(Dok Istimewa)

Memasuki usia 50 tahun, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) dinilai perlu menjadikan momentum setengah abad sebagai refleksi terhadap posisi pengusaha pribumi dalam struktur ekonomi nasional. Ketua Umum HIPPI Jakarta Selatan Azka Aufary Ramli mengatakan, perjuangan pengusaha pribumi hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan ketika HIPPI didirikan pada 17 Agustus 1976.

Jika lima dekade pertama banyak berbicara mengenai eksistensi dan kesempatan bagi pengusaha pribumi, menurut Azka, lima dekade berikutnya harus diarahkan pada peningkatan daya saing, penguasaan rantai nilai, regenerasi pengusaha, serta kemampuan menjadi pemain utama dalam perekonomian nasional.

“Lima puluh tahun HIPPI bukan sekadar momentum untuk melihat sejarah. Kita perlu bertanya: setelah 50 tahun, sudah sejauh mana pengusaha pribumi menjadi pemain utama dalam perekonomian Indonesia?”,papar Azka dalam keterangannya hari ini.

Azka menilai Indonesia sebenarnya memiliki basis kewirausahaan yang sangat besar. Namun tantangan utamanya bukan hanya menambah jumlah pengusaha, melainkan memastikan semakin banyak usaha mikro dan kecil mampu naik kelas menjadi usaha menengah, berkembang menjadi industri, menciptakan merek nasional, menguasai teknologi, serta masuk ke rantai pasok perusahaan besar.

Jangan Hanya Menjadi Pasar

Di tengah derasnya investasi, digitalisasi dan kompetisi global, Azka mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk, teknologi, modal dan perusahaan dari luar. Investasi asing tetap dibutuhkan untuk menciptakan pertumbuhan, transfer teknologi dan lapangan pekerjaan. Namun investasi tersebut harus mampu menciptakan efek berganda bagi pengusaha nasional.

“Kita terbuka terhadap investasi dan kolaborasi global. Tetapi pertanyaannya, berapa banyak pengusaha Indonesia yang ikut masuk ke dalam rantai pasoknya? Berapa banyak teknologi yang kita kuasai? Berapa banyak perusahaan lokal yang kemudian tumbuh menjadi pemain besar?” tukas Azka.

Menurutnya, semangat ekonomi kebangsaan bukan berarti menutup Indonesia dari dunia, melainkan memastikan keterbukaan ekonomi juga memperbesar kapasitas pengusaha nasional.

Makna Baru

Azka juga menilai istilah pengusaha pribumi perlu ditempatkan dalam konteks Indonesia modern secara inklusif dan progresif.

Semangat tersebut bukan mengenai membangun sekat berdasarkan suku, ras maupun latar belakang, melainkan keberpihakan terhadap kemandirian ekonomi bangsa, penguatan pengusaha lokal, pemerataan kesempatan berusaha dan peningkatan kepemilikan aset produktif oleh masyarakat Indonesia.

“Makna pribumi hari ini bukan tentang siapa yang harus disingkirkan, tetapi siapa yang perlu diperkuat. Semakin banyak anak bangsa harus mampu memiliki perusahaan, merek, teknologi, jaringan distribusi dan aset produktif di negaranya sendiri.”tegasnya.

Karena itu, keberpihakan terhadap pengusaha nasional menurut Azka tidak boleh berhenti pada proteksi. Pengusaha juga harus berani meningkatkan profesionalisme, tata kelola, produktivitas, inovasi dan kualitas sumber daya manusia.

Memasuki lima dekade berikutnya, HIPPI perlu mengambil peran lebih besar dalam menjembatani UMKM dengan perusahaan besar, pengusaha dengan pembiayaan, kampus dengan industri, pemerintah dengan dunia usaha, serta pengusaha Indonesia dengan pasar internasional.

Azka menilai program pengembangan pengusaha juga perlu semakin diarahkan kepada sektor-sektor bernilai tambah tinggi, mulai dari manufaktur, teknologi, energi, ekonomi digital, industri kreatif, jasa profesional hingga sektor-sektor ekonomi baru.

“Kita jangan bangga hanya karena memiliki jutaan UMKM. Kita harus bangga ketika semakin banyak UMKM naik kelas, menjadi perusahaan menengah, masuk industri, melakukan ekspor, menciptakan inovasi dan membuka lapangan pekerjaan berkualitas.”

Menuju Satu Abad

Bagi HIPPI Jakarta Selatan, perjalanan menuju satu abad HIPPI harus dibangun di atas tiga agenda utama: regenerasi, kolaborasi dan naik kelas.

Generasi baru pengusaha Indonesia harus dipersiapkan bukan hanya menjadi pedagang atau pengguna teknologi, tetapi menjadi industrialist, innovator, investor dan job creator yang memiliki kemampuan bersaing secara regional maupun global.

“Generasi pendiri HIPPI telah memperjuangkan ruang bagi pengusaha pribumi. Tugas generasi kami adalah mengubah ruang tersebut menjadi kapasitas, daya saing dan kekuatan ekonomi nyata.”

Azka menegaskan bahwa ukuran keberhasilan HIPPI ke depan bukan semata-mata besarnya organisasi, tetapi seberapa besar kontribusinya melahirkan pengusaha Indonesia yang semakin kuat dan berkelanjutan.

“Lima puluh tahun pertama adalah perjuangan membangun eksistensi. Lima puluh tahun berikutnya harus menjadi perjuangan membangun daya saing. Pengusaha Indonesia jangan hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Kita harus menjadi pemain, pemilik inovasi, pencipta lapangan kerja dan bagian utama dari kekuatan ekonomi Indonesia," pungkas Azka.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |