Separuh terbuka, separuh tak pasti, menyusuri sisi Oman di Selat Hormuz

18 hours ago 3

Khasab (ANTARA) - Di tengah kebuntuan berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, saya melakukan perjalanan ke Khasab, sebuah kota pesisir di Oman yang terletak di pantai selatan selat tersebut.

Perjalanan saya lakukan pada hari kedua setelah Washington dan Teheran mencapai nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dan berkomitmen untuk membuka kembali selat itu. Namun, ketidakpastian seputar nasib jalur pelayaran strategis itu kembali mencuat keesokan harinya, ketika militer Iran, dengan menyebut pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Lebanon, menyatakan menutup kembali selat tersebut. Sementara itu, Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS menyatakan lalu lintas kapal melalui selat tersebut tetap berjalan.

Saat kami berkendara keluar dari Dubai, melintasi wilayah utara Uni Emirat Arab (UEA), dan memasuki Kegubernuran Musandam di Oman, jalan pesisir berkelok-kelok melewati pegunungan batu kapur sebelum akhirnya terbuka ke arah laut.

Setelah hampir empat jam, kami akhirnya tiba di Khasab. Musim panas menyelimuti kota kecil itu dengan tenang. Dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, sebagian besar jalanan tampak sepi, kecuali truk kontainer yang sesekali lewat, melaju perlahan di sepanjang jalur pesisir tersebut.

Dari titik pandang yang tinggi, perairan di selatan Selat Hormuz tampak membentang hingga ke cakrawala. Di sebelah utara, di seberang selat itu, terletak wilayah Iran.

Bahkan pada hari-hari yang cerah, selubung kabut tipis kerap menyelimuti selat tersebut, mengaburkan pemandangan pantai di seberangnya.

Di sebuah teluk kecil di sepanjang pantai Khasab, puluhan kapal kargo kecil masih berlabuh di lepas pantai, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan yang dicatat rekan-rekan saya saat berkunjung pada akhir Mei lalu.

"Sebagian besar kapal di sini mengangkut kargo antara UEA dan Iran," kata Bader, seorang warga setempat.

Beberapa di antaranya telah kembali beroperasi dalam beberapa hari terakhir, sementara yang lain masih menunggu sinyal dari pelabuhan-pelabuhan Iran.

Namun, pemulihan tersebut masih rapuh. Media Iran, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi negara tersebut, melaporkan pada Minggu (21/6) bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz kecuali perang di Lebanon berakhir.

Kapal-kapal yang lebih besar berlayar lebih jauh ke utara, lebih dekat ke jalur pelayaran utama, sehingga jauh dari jangkauan pandangan publik, imbuh Bader.

Sebagai jalur pelayaran strategis namun sempit yang dilalui sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dan gas alam cair harian dunia, Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap negara itu pada 28 Februari. Washington memberlakukan blokade laut terhadap Iran sejak 13 April untuk menekan Teheran agar membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Sebelum krisis, sekitar 130 kapal melintasi selat tersebut setiap hari, menurut data pelacakan maritim. Selama konflik, lalu lintas kapal turun, menjadi kurang dari 10 kapal per hari.

Gangguan ini menyebabkan harga minyak global melonjak, yang kian memperparah tekanan ekonomi dan politik yang dihadapi pemerintah AS di dalam negeri.

Bagi penduduk di sisi Oman selat tersebut, dampaknya terasa pada penghasilan harian mereka.

Terkenal karena gurunnya yang menakjubkan, Musandam telah lama menarik pengunjung yang mencari suasana yang lebih tenang di kawasan Teluk. Para wisatawan biasanya menjelajahi teluk-teluk kecilnya dengan menaiki perahu dhow kayu tradisional dan berlayar ke perairan terbuka untuk menyaksikan lumba-lumba.

Seorang kapten kapal mengatakan kepada saya bahwa konflik telah memberikan pukulan berat bagi pariwisata lokal. Semua orang berharap stabilitas kembali pulih, dan wisatawan kembali berdatangan,"ujarnya.

Seiring waktu, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Data pelayaran menunjukkan peningkatan lalu lintas di selat tersebut sejak ditandatanganinya MoU AS-Iran, meskipun masih jauh di bawah level sebelum konflik. Perusahaan pelacakan maritim Kpler mencatat setidaknya terdapat 36 kapal pengangkut komoditas pada Senin (22/6).

Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini menunjukkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. ANTARA/Xinhua/Wen Xinnian

Namun, pemulihan tersebut masih rapuh. Media Iran, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi negara tersebut, melaporkan pada Minggu (21/6) bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz kecuali perang di Lebanon berakhir

Pada Minggu yang sama, perwakilan AS dan Iran menggelar putaran terbaru negosiasi mereka di Swiss, dengan Pakistan dan Qatar berperan sebagai mediator.

Setelah pembicaraan yang panjang, para mediator menggambarkan adanya kemajuan menggembirakan, termasuk pembentukan saluran komunikasi untuk menjamin jalur aman bagi kapal-kapal komersial melalui selat tersebut, serta dekonfliksi untuk mengakhiri operasi militer di Lebanon.

Di Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump pada Senin menyatakan Selat Hormuz sepenuhnya terbuka, meski pernyataan ini belum dikonfirmasi oleh Iran.

Saat saya meninggalkan pesisir tersebut setelah malam tiba, perairan di lepas pantai Khasab dihiasi cahaya kapal-kapal yang berlabuh. Cahayanya seolah menggantung di antara laut dan langit.

Di seberang perairan yang diselimuti kabut, jalur pelayaran di kejauhan mulai tampak dalam pandangan mata, meskipun tetap samar.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |