Apel Siaga Pilah Sampah di Bali, Gubernur Koster: Sampah Selesai dari Hulu

4 hours ago 6

INFO TEMPO - Apel Siaga Pilah Sampah berlangsung di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar, Bali, pada Selasa, 7 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan menggelorakan semangat warga Bali dalam mengatasi persoalan sampah.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, Gubernur Bali Wayan Koster, dan pimpinan daerah lainnya. Mereka memukul kulkul atau kentongan untuk menandai gerakan pilah sampah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pada kesempatan itu, Wamen Hanif menyerahkan penghargaan pada 10 desa dan desa adat di Bali yang dinilai berhasil menerapkan pemilahan sampah dari sumber. Masing-masing desa mendapatkan peralatan untuk mempermudah pembuatan sampah organik menjadi kompos. Wamen Hanif juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Bali beserta warganya.

"Berdasarkan angka kerentanan pangan nasional yang dikeluarkan oleh Badan Pangan Nasional, Provinsi Bali masuk dalam tiga terbaik -bersama dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, yang memiliki ketahanan pangan yang paling tangguh di seluruh Indonesia," kata dia. "Dengan indeks 79,89, tentu ini makna kerja keras yang serius dari Bapak Gubernur, jajaran, wali kota, dan para bupati untuk menghadirkan ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan."

Yang juga membanggakan, menurut Hanif, Badung menjadi kabupaten dengan ketahanan pangan nasional terbaik di Bali. "Bali memiliki ketahanan pangan menyeluruh pada delapan kabupaten dan satu kota. Upaya menghadirkan kedaulatan pangan yang demikian masif, kemudian mampu dihadirkan di tengah-tengah kita," ujarnya.

Tak hanya keunggulan, Hanif menyampaikan tantangan besar yang dihadapi Bali saat ini, yaitu persoalan sampah yang mencapai sekitar 3.500 ton per hari dari jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa. Pada April 2025, Hanif melanjutkan, Bali telah mendeklarasikan sebagai daerah Bebas Sampah. Kemudian 10 Juni 2026 membuat deklarasi untuk percepatan pengelolaan sampah bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan seluruh kepala daerah di Bali.

"Hari ini kita melangkah lebih jauh lagi melalui Gerakan Pilah Sampah se-Bali," ucap Hanif. Mengacu pada data yang dimilikinya, Bali merupakan provinsi yang paling masif melakukan aksi pilah sampah di Indonesia, terutama Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Hanif juga mengingatkan pentingnya percepatan pengurangan sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), khususnya TPA Suwung yang pernah mengalami kebakaran pada 2023.

Bali, menurut dia, adalah wajah Indonesia karena menjadi destinasi wisata dunia. Dengan demikian, kondisi Bali yang bersih dari sampah tidak bisa ditawar lagi. Hanif mentargetkan masalah sampah di Bali tuntas pada Desember 2026 melalui gerakan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS).

Sementara itu, Gubernur Wayan Koster menegaskan kunci utama dalam menuntaskan persoalan sampah adalah penyelesaian langsung sejak dari hulu atau sumbernya. Karena itu, dia menekankan, setiap produksi sampah harus habis di lokasi asalnya.

"Mulai dari lingkup rumah tangga, desa/kelurahan, desa adat, pasar, hotel, restoran, kafe, rumah ibadah, sekolah, hingga perkantoran," kata Koster. "Langkah paling awal dan paling menentukan dari rantai pengelolaan tersebut adalah memilah sampah."

Memilah sampah bukan sekadar memisahkan organik dan non-organik, melainkan wujud nyata dari kesadaran, tanggung jawab, dan budaya baru bagi krama Bali dalam menjaga alam dan budaya Bali beserta isinya. Melalui gerakan pilah sampah ini, sistem pengelolaan menjadi lebih bernilai guna karena sampah organik dapat langsung diolah menjadi pupuk yang menyuburkan tanah pertanian. "Ini sejalan dengan napas Kementerian Koordinator Bidang Pangan," ucapnya. Adapun sampah non-organik dapat didaur ulang supaya memiliki nilai ekonomis tinggi sekaligus mencegah pencemaran lingkungan. 

Gubernur Koster mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat komitmen, kolaborasi, dan semangat gotong royong. Sinergi besar ini diharapkan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, krama banjar, pegiat lingkungan, sektor swasta, TNI, Polri, hingga para pelajar sebagai generasi penerus yang memegang peran penting dalam membangun budaya bersih sejak dini. (*)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |