Cerita di Balik Bubble Dress Eileen Gu di Met Gala 2026, Terdiri dari 15 Ribu Gelembung

3 hours ago 4

CANTIKA.COMJakarta - Penampilan atlet ski es, Eileen Gu di Met Gala 2026 bukan sekadar fashion statement, tetapi wujud eksperimen seni, sains, dan tubuh manusia dalam satu panggung. Mengusung dress code “Fashion Is Art”, malam itu dipenuhi interpretasi historis dan artistik. Namun Gu justru melangkah lebih jauh: kembali ke titik paling awal kehidupan, bahkan sebelum seni dan tubuh manusia didefinisikan seperti sekarang.

Di balik tampilan spektakulernya, ada kolaborasi visioner antara desainer Iris van Herpen dan duo seniman AA Murakami (Azusa Murakami dan Alexander Groves). Bersama, mereka menciptakan gaun bernama Airo—sebuah karya couture yang tidak hanya dikenakan, tetapi juga “hidup”.

Inspirasi utamanya berasal dari teori ilmiah tentang vesikel, gelembung kecil yang diyakini sebagai asal mula kehidupan di bumi. Konsep ini diterjemahkan ke dalam desain yang merefleksikan tubuh manusia bukan dari sisi luar, melainkan dari perspektif atomik bahwa sebagian besar tubuh kita sebenarnya adalah ruang kosong. Ide ini menjadikan gaun tersebut terasa sekaligus nyata dan surealis.

Secara visual, gaun ini memikat dengan 15.000 gelembung kaca berwarna transparan yang dirangkai satu per satu secara manual. Namun keajaibannya tidak berhenti di sana. Di balik siluetnya yang ringan, tersembunyi sistem teknologi kompleks—mulai dari mikroprosesor hingga pompa udara—yang memungkinkan gelembung asli keluar secara konstan. Saat Eileen Gu berjalan di karpet merah, dua hingga lima gelembung dilepaskan setiap detik, menciptakan ilusi bergerak yang magis, seolah ia berjalan di antara dimensi lain.

Bagi Gu, tampilan ini punya makna personal yang dalam. Sebagai atlet free ski yang terbiasa “melayang” di udara, gaun ini merepresentasikan momen ketika waktu terasa melambat—sebuah pertemuan antara gerakan dan keheningan. Lebih dari itu, ia juga menjadi simbol redefinisi perempuan dalam dunia olahraga ekstrem yang selama ini didominasi laki-laki.

Proses di balik gaun ini pun tak kalah mengesankan. Dibutuhkan sekitar 15 minggu pengembangan dan lebih dari 2.500 jam kerja oleh tim lintas disiplin—mulai dari haute couture, teknik, hingga desain komputasi. Meski terlihat ringan dan effortless, konstruksi di dalamnya merupakan salah satu yang paling kompleks dalam karier van Herpen.

Melalui karya ini, van Herpen kembali menegaskan posisinya sebagai pionir yang mengaburkan batas antara mode dan teknologi. Ia tidak hanya menciptakan busana, tetapi juga pengalaman—mengajak publik melihat tubuh manusia dari sudut pandang baru: ilmiah, filosofis, dan artistik sekaligus.

Sementara itu, AA Murakami—duo seniman yang berbasis di Tokyo dan London, Azusa Murakami dan Alexander Groves—sering menggunakan seni dan sains dalam praktik mereka, yang telah menghasilkan karya yang dipamerkan di Venice Biennale dan dalam koleksi permanen MoMA dan Centre Pompidou. 

Beberapa bulan mendatang mereka akan berpameran di Belanda, Venesia, dan Seoul serta di Art Basel Swiss. Pasangan ini bekerja sama erat dengan Iris van Herpen dan ateliernya untuk mengkonseptualisasikan dan membuat gaun Gu.

“Selain menjadi mahakarya sejati dalam mode, desain, dan inovasi material, gaun ini merayakan seni gerak, alam, dan tubuh,” lanjut Gu. “Bagi saya, sebagai atlet free ski, elemen-elemen ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, dan karena itu gaun ini adalah perwujudan paling murni dari seni saya.”

Gaun Eileen Gu di Met Gala 2026 bukan hanya menjelma estetika, tetapi perayaan gerak, alam, dan eksistensi manusia sebuah pengingat bahwa fashion, di tangan yang tepat, bisa menjadi bahasa untuk menjelaskan hal-hal paling mendasar tentang kehidupan itu sendiri.

ECKA PRAMITA | VOGUE

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |