Diplomat PBB Mengklaim Ada Skenario Serangan Nuklir ke Iran

12 hours ago 2

SEORANG diplomat berpangkat tinggi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mohamad Safa mundur dari jabatannya setelah menuduh bahwa organisasi internasional tersebut sedang mempersiapkan skenario yang melibatkan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.

Mohamad Safa yang menjabat sebagai Perwakilan Tetap Organisasi Visi Patriotik (PVA) untuk PBB selama hampir 12 tahun, mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat, 27 Maret 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Klaim Kebocoran Informasi Internal

Menurut laporan Middle East Eye, Safa menyatakan pengunduran dirinya dilakukan untuk membocorkan informasi yang ia nilai krusial. PVA merupakan organisasi non-pemerintah yang memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Ecosoc).

Ia menuding sejumlah pejabat senior di PBB tidak lagi bekerja untuk kepentingan lembaga tersebut, melainkan melayani kepentingan lobi tertentu. “Saya tidak yakin orang memahami betapa seriusnya situasi ini, karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran. Saya mengorbankan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menghentikan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau saksi atas kejahatan terhadap kemanusiaan ini,” kata Safa.

Soroti Dampak Kemanusiaan di Teheran

Dalam unggahan di media sosial X pada 29 Maret, Safa menyertakan foto Teheran dan menyoroti potensi dampak kemanusiaan jika serangan terjadi. “Ini adalah gambar Teheran. Bagi kalian yang tidak berpendidikan, tidak pernah bepergian, tidak pernah mengabdi, para pendukung perang yang bernafsu membombardirnya. Ini bukan gurun dengan populasi rendah,” tulisnya.

“Ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan. Orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi. Kalian sakit jika menginginkan perang. Teheran adalah kota dengan hampir 10 juta penduduk. Bayangkan jika Washington, Berlin, Paris, London, atau kota lain dibom dengan senjata nuklir,” ujarnya.

WHO Siapkan Skenario Terburuk

Pernyataan Safa muncul di tengah kekhawatiran global yang meningkat. Dilansir Politico, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tengah menyiapkan langkah menghadapi kemungkinan terburuk jika konflik meningkat.

Direktur regional WHO, Hanan Balkhy, mengatakan bahwa skenario terburuk adalah insiden nuklir, dan itu yang paling kami khawatirkan. Ia menegaskan bahwa dampak dari insiden tersebut dapat berlangsung selama puluhan tahun, tidak hanya bagi kawasan tetapi juga komunitas internasional. WHO, kata dia, tengah mempersiapkan skenario nuklir dalam arti luas, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir maupun penggunaan senjata nuklir.

Peringatan IAEA dan Respons Iran

Peringatan juga disampaikan mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Mohamed ElBaradei. Ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan penggunaan senjata nuklir.

“Apakah saya bisa seratus persen menyingkirkannya? Tidak. Apakah saya berdoa setiap malam agar itu tidak terjadi? Ya,” kata ElBaradei. Di tengah situasi tersebut, sejumlah politisi Iran mulai mendorong pemerintah untuk keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengatakan bahwa keanggotaan dalam perjanjian itu tidak memberi manfaat baginya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |