Ilustrasi(Doc Asian cancer hospital)
SEBUAH tim peneliti internasional dengan keterlibatan ilmuwan dari Taiwan menemukan mekanisme baru yang digunakan kanker paru-paru untuk melemahkan sistem kekebalan tubuh. Studi tersebut mengungkap bahwa tumor paru-paru dapat mengaktifkan saraf sensorik di sekitarnya untuk menghambat respons imun, sehingga membuka peluang pendekatan baru dalam pengobatan kanker.
Penelitian berjudul “Nociceptive innervation limits tertiary lymphoid structures to promote lung cancer” itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell pada pertengahan Mei. Studi ini melibatkan peneliti dari Francis Crick Institute Inggris, Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH), Harvard Medical School, dan Columbia University.
Kepala Departemen Bedah NTUH, Chen Jin-shing, mengatakan temuan tersebut memperlihatkan adanya hubungan erat antara sistem saraf dan sistem imun dalam perkembangan kanker paru-paru. Menurutnya, penelitian ini membuka kemungkinan pengobatan dengan cara memblokir sinyal saraf yang membantu pertumbuhan tumor.
“Memutus aliran listrik” yang dimaksud merujuk pada upaya menghentikan komunikasi saraf yang dimanfaatkan kanker untuk bertahan dan berkembang.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mempelajari adenokarsinoma paru-paru, jenis kanker yang menyumbang lebih dari 70 persen kasus kanker paru-paru. Tim menemukan bahwa ketika tumor berkembang, saraf sensorik nosiseptif di sekitar kanker menjadi lebih aktif dan melepaskan molekul bernama calcitonin gene-related peptide (CGRP).
Biasanya, saraf nosiseptif berfungsi mendeteksi bahaya dan membantu tubuh memberikan respons perlindungan, seperti memicu batuk saat terkena asap. Namun, pada kanker paru-paru, aktivitas saraf tersebut justru dapat dimanfaatkan tumor.
Pelepasan CGRP diketahui menghambat pembentukan struktur limfoid tersier atau tertiary lymphoid structures (TLS), yaitu tempat berkumpulnya sel imun yang membantu tubuh menyerang sel kanker. Padahal, keberadaan TLS berkaitan dengan respons imun yang lebih kuat dan hasil pengobatan yang lebih baik pada pasien kanker paru-paru.
Dalam percobaan terhadap tikus, peneliti menemukan bahwa pemblokiran jalur CGRP dapat memulihkan pembentukan TLS, meningkatkan aktivitas imun melawan tumor, dan memperlambat pertumbuhan kanker.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa paparan asap rokok dapat mengaktifkan jalur saraf yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa merokok tidak hanya meningkatkan risiko kanker melalui kerusakan genetik, tetapi juga dapat memengaruhi lingkungan imun di sekitar tumor.
Pada tikus yang terpapar asap rokok, obat yang menargetkan jalur CGRP membuat tumor lebih responsif terhadap imunoterapi dan meningkatkan kelangsungan hidup.
Meski menjanjikan, terapi berdasarkan mekanisme baru ini belum memasuki tahap uji klinis pada manusia. Para peneliti masih melakukan diskusi untuk mengembangkan penelitian lanjutan.
Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa kanker paru-paru tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan genetik, tetapi juga oleh interaksi kompleks antara tumor, saraf, dan sistem kekebalan tubuh.
Sumber: Focus Taiwan



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)














