Ilustrasi(Dok. Houthi Media Center)
INDONESIA bersama Turki dan 10 negara lainnya menyatakan kecaman keras atas serangan Israel terhadap pangkalan militer Abu Al-Duhur di Suriah. Serangan tersebut dinilai sebagai "eskalasi ekstrem" dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan serta keutuhan wilayah Suriah.
Pernyataan bersama yang diterbitkan pada Jumat (21/8) ini disampaikan oleh para menteri luar negeri dari Indonesia, Turki, Aljazair, Yordania, Lebanon, Malaysia, Mauritania, Pakistan, Palestina, Qatar, Arab Saudi, dan Somalia. Mereka menegaskan bahwa tindakan tersebut merusak persatuan politik di Suriah.
Para menlu menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap berlanjutnya degradasi infrastruktur di Suriah akibat serangan militer. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menggagalkan upaya pemulihan keamanan, pembangunan kembali institusi nasional, serta penanganan bencana kemanusiaan yang telah berlangsung selama belasan tahun akibat konflik.
Dalam pernyataan tersebut, para diplomat memperingatkan bahwa pelanggaran terus-menerus oleh Israel hanya akan meningkatkan ketegangan di kawasan. Selain melemahkan stabilitas, tindakan tersebut dianggap mengikis martabat hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Komunitas internasional kini didesak untuk mengambil "sikap yang tegas, jelas, dan berprinsip" dalam menanggapi agresi terhadap Suriah. Para menlu meminta adanya langkah konkret yang sesuai dengan hukum internasional guna menghentikan eskalasi lebih lanjut.
Selain itu, mereka mendesak kepatuhan terhadap kesepakatan antara Israel dan Suriah tahun 1974, termasuk penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki. Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Pernyataan bersama ini ditutup dengan penekanan pada pentingnya menghargai kemerdekaan dan keutuhan wilayah Suriah. Seluruh negara penandatangan menolak segala upaya yang bertujuan menodai kedaulatan politik negara tersebut. (Anadolu/Ant/I-1)


















































