LIBANON mengumumkan hari berkabung menyusul gelombang serangan Israel yang menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang dalam satu hari pada Rabu. Ledakan keras terdengar dan asap mengepul di wilayah Dahiyeh, sebelah selatan Beirut.
Seperti dilansir Antara, militer Israel sebelumnya menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di lokasi serangan udara terbesar di Beirut, beberapa jam kemudian, para pekerja darurat masih mencari korban selamat maupun korban tewas di antara bangunan-bangunan yang rusak.
Di antara reruntuhan, ditemukan sekilas gambaran kehidupan yang terputus: foto-foto keluarga yang tersenyum, potongan-potongan pakaian, hingga pekerjaan rumah sekolah yang belum selesai.
Abdelkader Mahfouz sedang mengunjungi saudaranya yang terluka.
"Ada banyak potongan tubuh di sini. Hanya manusia yang terluka. Apa yang harus dilakukan orang-orang? Kami tidak bisa berbuat apa-apa," kata dia.
Serangan pada Rabu tercatat sebagai "gelombang terbesar" sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, pada 2 Maret lalu. Jumlah korban tewas akibat serangan Israel sedikitnya dilaporkan 254, termasuk 92 di Beirut.
“Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan," kata Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine.
Seperti dilansir Al Jazeera, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan sedang memobilisasi “seluruh sumber daya politik dan diplomatik Libanon untuk menghentikan mesin pembunuh Israel”.
Gencatan Senjata AS-Iran
Gelombang serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran mengkonfirmasi kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan ke depan. Gencatan senjata ini untuk membuka jalan bagi kesepakatan akhir mengakhiri perang yang dilancarkan oleh Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran sejak akhir Februari lalu.
Salah satu poin kesepakatan tersebut seperti diumumkan mediator dari Pakistan adalah menghentikan perang di Libanon.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Libanon tidak termasuk dalam gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini diamini Wakil Presiden AS JD Vance. “Kami tidak pernah membuat janji itu.”
Hal ini membuat para pejabat Iran murka dan mengatakan AS-Israel mengingkari kesepakatan yang telah disetujui dengan mengklaim Libanon tidak termasuk dalam jeda pertempuran.
JD Vance, yang akan memimpin para negosiator AS di Pakistan, mengatakan bahwa akan menjadi "pilihan" Iran untuk membiarkan negosiasi "gagal" karena Libanon.
Hizbollah, yang belum mengklaim serangan apa pun sejak kesepakatan itu diumumkan, mengatakan bahwa kelompok tersebut berhak untuk membalas dendam. Mereka memperingatkan keluarga pengungsi untuk menunggu pengumuman gencatan senjata resmi sebelum mencoba kembali ke rumah.
Eskalasi terbaru dalam konflik puluhan tahun antara Hizbullah dan Israel meletus ketika kelompok tersebut menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada tahap awal perang.
Ini juga sebagai tanggapan atas serangan Israel yang hampir setiap hari terhadap Libanon yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata yang disepakati pada November 2024.
Lebih dari 1.700 orang telah tewas, termasuk setidaknya 130 anak-anak, sejauh ini akibat perang tersebut, menurut kementerian kesehatan Libanon, tanpa membedakan antara kombatan dan warga sipil.
Israel mengklaim membunuh sekitar 1.100 pejuang Hizbullah.
Lebih dari 1,2 juta orang telah mengungsi, atau satu dari lima penduduk Libanon, sebagian besar dari mereka berasal dari komunitas Muslim Syiah.
Konflik terbaru di Asia Barat (Timur Tengah) itu tidak hanya menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga berakibat pada gangguan penerbangan internasional. Perang juga memicu krisis energi global dengan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, yang dikendalikan oleh Iran sebagai tindakan balasan atas serangan AS-Israel.









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)







