Kilas Balik Rivalitas Inggris vs Argentina : Trik Diego Simeone dan Kartu Merah David Beckham

3 hours ago 3
 Trik Diego Simeone dan Kartu Merah David Beckham David Beckham(GLYN KIRK - AFP)

JELANG laga Inggris vs Argentina di babak semifinal Piala Dunia 2026, memori publik sepak bola dunia itarik kembali pada lembaran sejarah penuh drama. Hubungan kedua negara tidak pernah sederhana. 

Di balik balutan tensi politik geopolitik pasca-1806, Perang Malvinas (Falklands), hingga kontroversi 'Tangan Tuhan' 1986, tersimpan sebuah pengakuan mutlak, Inggris dan Argentina adalah rival sekaligus mitra tanding sepak bola yang paling sempurna di planet bumi.

Para pandit sering menyebut duel ini sebagai satu-satunya "Derbi Antarbenua", sebuah panggung di mana benturan kultur sepak bola Eropa yang taktis dan disiplin bertemu langsung dengan indigenismo sepak bola Amerika Latin yang sarat trik, kelincahan, dan kecerdikan.

Bagi publik Inggris, luka paling ikonik di era modern terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Saint-Etienne. Diego Simeone, yang kini manajer Atletico Madrid, menjadi aktor utama di balik kartu merah David Beckham pada menit ke-47.

"Saya sangat menyukai atmosfer bertanding melawan Inggris. Sepak bola mereka agresif dan penuh gairah. Namun, di atas lapangan, Anda terkadang harus sedikit cerdik (cunning) atau berpura-pura bodoh. Malam itu, kebetulan saya menjadi orang yang bertindak cerdas. Beckham sebenarnya tidak melakukan sentuhan fatal, tetapi itulah seni memenangkan laga," kenang Simeone.

Akibat provokasi tersebut, Beckham muda menjadi musuh nomor satu publik Inggris, bahkan patungnya sempat digantung di luar sebuah pub di London sebagai simbol kekecewaan nasional menyusul kekalahan Inggris lewat adu penalti 4-3.

Kejutan Michael Owen dan Pembalasan Sapporo

Namun, malam kelam di Saint-Etienne itu juga melahirkan salah satu mahakarya terbesar sepak bola Inggris melalui aksi solo fenomenal Michael Owen yang saat itu baru menginjak usia 18 tahun. Menerima umpan dari Beckham, Owen melakukan akselerasi vertikal yang menghancurkan lini pertahanan Argentina sebelum menaklukkan Roberto Ayala.

"Kami sama sekali tidak memiliki cetak biru taktis tentang Owen saat itu. Dia adalah kejutan yang sangat menyenangkan bagi penonton netral, namun menjadi mimpi buruk yang tidak terduga bagi kami," tambah Simeone.

Glenn Hoddle, manajer Inggris pada 1998, mengingat laga itu sebagai trauma yang mendalam, terutama ketika gol sundulan Sol Campbell dianulir wasit Denmark Kim Milton Nielsen di menit-menit akhir babak kedua, disusul serangan balik kilat Argentina saat para pemain Inggris masih larut merayakan gol yang tidak sah.

Siklus takdir sepak bola akhirnya memberikan ruang bagi Inggris untuk membalas dendam secara elegan empat tahun kemudian pada Piala Dunia 2002 di Sapporo, Jepang. Lewat skenario penalti yang dieksekusi sempurna oleh David Beckham, menyusul pelanggaran Mauricio Pochettino terhadap Michael Owen, Inggris menang 1-0 dan berhasil memulihkan harga diri mereka di panggung internasional.

Simeone menegaskan, esensi mendasar dari keindahan sepak bola Argentina yang sering kali mengecoh kedisiplinan Inggris berakar dari filosofi jalanan masa kecil. Di Buenos Aires, sepak bola jalanan tidak disebut futbol, melainkan jugar a la pelota (bermain dengan bola). Sebuah filosofi estetika yang mengagungkan keahlian individu untuk melewati tiga hingga empat pemain lawan demi kesenangan murni.

Ketika Diego Maradona meliuk-liuk melewati separuh skuad Inggris di Meksiko 1986 untuk mencetak gol terbaik sepanjang masa, di mata masyarakat Argentina, itu bukanlah taktik sepak bola modern. Itu adalah perwujudan tertinggi dari jugar a la pelota. Kini, atmosfer magis dan penuh dendam sejarah itu siap kembali meledak di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Kamis (16/7) dini hari WIB nanti.

(Theguardian/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |