Logam-logam Di Tangan Lima Seniman

2 hours ago 1

Lima seniman kriya di Yogyakarta menghidupkan logam-logam membentuk berbagai citraan yang sarat kritik sosial dan lingkungan. Pameran berjudul “Metal In Flux Crafting Tradition and Innovation” yang berlangsung pada 9 Mei-9 Juni 2026 di Omah Budoyo di Mergangsan, Yogyakarta. Kelima seniman menampilkan 33 karya yang mengeksplorasi bahan perunggu, kuningan, baja hingga knalpot bekas.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Lima seniman itu Alvi Lufiani, Budi Hartono, Dhyani W. Hendranto, Titiana Irawani, dan Timbul Raharjo datang dari berbagai latar belakang, di antaranya mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kreativitas mereka menjadikan benda mati itu seperti hidup dengan membentuk benda-benda yang tampak lucu seperti mainan, figur manusia, dan pernak pernik perhiasan.

Titiana Irawani mengeksplorasi knalpot dan gir bekas dalam karyanya. Kehidupan masa kecil Titiana yang dekat dengan kendaraan bermotor mempengaruhinya menciptakan karya itu. Ayahnya memiliki bengkel  dan adiknya suka mengutak-atik kendaraan bermotor.

Titiana berburu lima knalpot dan gir bekas ke sejumlah kios loak di Kecamatan Pleret, Bantul. Dia juga menggunakan batu dari Pacitan dan kayu sonokeling sebagai bahan karyanya. Pada karya berjudul Art Jewelry II berukuran 33x18 sentimeter. Titiana membuat dua manekin dari kayu membentuk tubuh perempuan berkalung perhiasan dari gir bekas. Melalui karya itu, dia ingin memberikan pesan tentang penghargaan terhadap perempuan. “Terinspirasi dari ibu dan seluruh perempuan yang menyimpan kekuatan,” kata Titiana dihubungi pada Kamis, 5 Juni 2026.

Karya seniman Titiana Irawania berjudul "Ngolet" dalam pameran bertajuk "Metal In Flux Crafting Tradition and Innovation" yang berlangsung pada 9 Mei-9 Juni 2026 di Omah Budoyo Yogyakarta, 3 Juni 2026. Tempo/Shinta Maharani

Pada karya berjudul Ngolet berukuran 85x70 sentimeter , dia menyambung knalpot yang membentuk citraan tubuh manusia yang menggeliat. Dia menggunakan limbah knalpot dan gir. Titiana tidak mengubah bentuk knalpot itu sebagai bagian dari pertimbangan estetika.

Budi Hartono, dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta menciptakan lima karya yang membentuk karakter lucu seperti maina. Lihatlah pada karya berjudul Where is May Son II” berupa benda yang menonjolkan sosok berperut buncit sedang terbalik. Kakinya menopang gelas dan bola. Karya yang menggunakan tembaga dan kuningan itu mengadopsi karakter Bawor, atau Bagong tokoh Punakawan dalam wayang Banyumasan.

Karakter Bawor dikenal dalam wayang Bentuk bulat atau perut buncit itu menggambarkan karakter Bawor yang jenaka. “Menghibur kstaria ketika mengalami berbagai persoalan. Bawor menjadi teman yang menyenangkan,” kata dia.

Budi menggunakan teknik tempa atau manual atau kenteng dan penerapan patina sulfida natrium. Dia memakai lembaran tipis tembaga dan kuningan dengan tingkat kecekungan tertentu. Dia memanfaatkan alat-alat manual yakni palu logam dan palu karet. Ketika membentuk isi logam tersebut, dia menggunakan campuran batu bata, marsalo, minyak goreng bekas, oli bekas, dan getah pohon pinus. Bahan campuran itu dimasak dalam satu kuali sampai semua adonan merata. Lalu dia menyambungkan logam.

Karya seniman Budi Hartono berjudul "Sorry I’m not a Clown" dalam pameran bertajuk "Metal In Flux Crafting Tradition and Innovation" yang berlangsung pada 9 Mei-9 Juni 2026 di Omah Budoyo, 3 Juni 2026 Tempo/Shinta Maharani

 Memori Masa Kecil Hingga Politik Lingkungan

Kurator pameran, Sujud Dartanto mengatakan lima seniman membuktikan bahwa tradisi seni kriya logam tidaklah mandek, melainkan terus hidup, mengalir, dan merespons patahan sejarah. Pameran ini menghidupkan kembali material buangan industri menjadi monumen ingatan dan menjadikan logam sebagai subyek aktif untuk melontarkan kritik sosial. Logam melampaui kekakuan fisiknya. Ia memuai, bernapas, mencair, dan bermetamorfosis menjadi saksi yang tajam bagi ketahanan budaya dan menolak untuk dibungkam oleh zaman. 

Ia mencontohkan karya kuningan dan tembaga Titiana Irawani mengambil material limbah pasca-industri berupa knalpot dan gir motor buatan 1968. Ia merakitnya dengan batu alam Pacitan untuk mengekskavasi masa lalunya terhadap lingkungan bengkel.

Proses membawa bentuk pikiran tertentu ke luar menuju dunia obyek benda-benda agar manusia bisa melihat dan merenungkannya. Pada karya bervolume seperti Senden, Ngolet, dan seri Art Jewellery, memori personal yang abstrak dikonversi menjadi monumen fisik yang nyata. Pecahan batuan alam Pacitan pada karya Titiana menyimbolkan kerentanan dan kerapuhan perempuan yang hancur berkeping-keping.

Kerapuhan itu ditopang oleh kokohnya gir logam berkarat agar ia tetap tampil tegar. Melalui peleburan antara benda buangan dan elemen alam, Titiana membuktikan bahwa logam mampu merangkum sejarah, mengawetkan luka trauma, dan memanifestasikan ketegaran yang estetis.

Dari ranah perhiasan kontemporer, Alvi Lufiani dan Dhyani Widiyanti Hendranto mengeksplorasi sejarah perhiasan kontemporer, mencatat pergeseran radikal di mana sifat yang menggugah dari material tertentu menjadi  sangat penting terkait  nilai-nilai yang mendasari perhiasan itu. Lebih dari sekadar ornamen pemanis tubuh, perhiasan kini menggunakan prinsip perakitan benda untuk menyuarakan komentar kritis terhadap budaya pop dan politik lingkungan.

Alvi menggunakan sifat logam yang keras dalam skala yang melebih-lebihkan seperti pada karya Grateful To Wire, Ring Vocabulary, dan Uncountable Holes. Ia menyuarakan kritik ekologis terhadap krisis keberlanjutan dan deforestasi yang mengerikan. Alvi secara sengaja menolak material organik yang mudah terurai atau memilih fabrikasi logam yang kokoh. “Justru untuk menegaskan bahwa penyelamatan bumi harus terus digaungkan secara permanen dan tak tergerus zaman,” kata Sujud.

Agar Karya Logam Tak Karatan

Budi memberikan tips supaya karya seni logam tidak mudah karatan. Supaya awet hingga puluhan tahun, dia melapisi karyanya dengan cairan khusus yang biasa dipakai untuk melapisi batu batuan candi dan logam untuk arsitektur. Selain itu, manusia hendaknya tidak sering menyentuh logam itu. “Bisa awet puluhan tahun. Paling hanya permukaannya saja yang kusam,” kata dia.

Titiana yang juga Dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta sengaja membiarkan korosi pada knalpot tersebut. Hanya saja, dia melapisi knalpot dan gir tersebut dengan cairan untuk mempertahankan warna. Lapisan itu juga berfungsi mencegah penyebaran racun ke udara. Caranya mirip dengan proses perawatan mobil dengan memberikan lapisan cat.

Pilihan editor:

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |