MENTERI Luar Negeri (menlu) Belgia Maxime Prévot tengah berada di kedutaan Belgia di Beirut, Libanon pada Rabu, saat militer Israel melakukan serangan udara hanya beberapa ratus meter dari lokasinya.
Seperti dilansir Belgia News Agency, Prévot mengatakan "sangat terkejut" oleh "salah satu hari paling berdarah yang dialami Libanon dalam beberapa waktu terakhir". Sedikitnya 254 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam serangan Israel hanya dalam satu hari.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut otoritas setempat, tentara Israel menembakkan sekitar seratus rudal di seluruh negeri dalam waktu enam menit. Lima ledakan terdengar di ibu kota, diikuti oleh kepulan asap hitam yang besar, yang terlihat jelas dari istana presiden di perbukitan Beirut, tempat Menteri Prévot juga menjadi tamu.
Sirene segera berbunyi di seluruh kota.
"Ini adalah salah satu hari paling berdarah yang dialami Lebanon dalam beberapa waktu terakhir," kata Prévot setelah pembicaraannya dengan Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam. “Kami yakin bahwa perlu untuk datang ke sini untuk menyatakan dukungan kami. Kami sangat terkejut dan turut merasakan emosi negara dan rakyatnya.”
Media melaporkan kekacauan yang disebabkan oleh serangan di Beirut. Mereka menggambarkan bangunan yang terbakar, mobil yang hangus, anak-anak yang tewas, hingga orang-orang yang kehilangan anggota tubuh.
Israel mengklaim serangan itu sebagai "serangan terkoordinasi terbesar" terhadap kelompok pro-Iran Hizbullah sejak dimulainya perang pada awal Maret.
Israel menegaskan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat tidak berlaku untuk Libanon. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan hal yang sama kepada lembaga penyiaran publik PBS.
Namun, Pakistan, yang menjadi mediator selama negosiasi, menegaskan bahwa Amerika Serikat, Iran, dan sekutu mereka telah menerima gencatan senjata “di mana-mana”, termasuk di Libanon.
“Saya dengan sungguh-sungguh dan tulus mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua pekan, sebagaimana disepakati, sehingga diplomasi dapat memainkan peran utama menuju penyelesaian konflik secara damai,” kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Iran telah mengancam akan menarik diri dari perjanjian tersebut jika Israel terus menyerang Libanon.









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)







