Rahasia Ledakan Supernova Kuno Berusia Puluhan Juta Tahun Bersemayam di Debu Bulan

3 hours ago 1
Rahasia Ledakan Supernova Kuno Berusia Puluhan Juta Tahun Bersemayam di Debu Bulan Astronot NASA Harrison H. "Jack" Schmitt melakukan penelitian lapangan geologi di bulan selama misi Apollo 17 pada Desember 1972 (kiri); dan sisa supernova Nebula Kepiting (kanan).(NASA/ESA/G. Dubner (IAFE, CONICET-Universitas Buenos Aires) et al/A. Loll et al/T. Temim et al/F. Seward et al/VLA/NRAO/AUI/NSF/Chandra/CXC/Spitzer/JPL-Caltech/XMM-Newton/ESA/Hubble/STScI)

DEBU yang tersebar di permukaan Bulan ternyata menyimpan catatan rahasia mengenai sejarah ledakan bintang raksasa atau supernova. Melalui model matematika terbaru, para ilmuwan kini memiliki cara untuk mengurai sisa-sisa ledakan kosmik yang telah tercampur di dalam tanah Bulan.

Ketika bintang bermassa besar meledak sebagai supernova, peristiwa itu menyebarkan puing-puing radioaktif berkecepatan tinggi ke penjuru antariksa. Sebagian dari isotop radioaktif tersebut sampai ke tata surya dan jatuh di permukaan planet maupun satelit, termasuk Bumi dan Bulan.

Di Bumi, rekaman aktivitas supernova dapat ditemukan pada sedimen laut dalam. Namun, akibat proses erosi, cuaca, serta pergerakan lempeng tektonik, catatan supernova di Bumi yang tersisa hanya mampu bertahan hingga sekitar 10 juta tahun terakhir.

Bulan menawarkan kondisi yang sangat berbeda. Tanpa atmosfer, cuaca, atau lempeng tektonik, permukaan Bulan mampu menyimpan rekam jejak supernova jauh lebih lama, yakni mencapai 80 hingga 100 juta tahun, bahkan lebih.

Meski demikian, membaca sejarah kosmik di Bulan memiliki tantangan tersendiri. Hantaman meteorit berukuran mikro hingga asteroid besar secara terus-menerus membalikkan dan mencampur lapisan tanah Bulan (regolit). Fenomena yang dikenal sebagai impact gardening ini membuat debu dari ledakan supernova kuno bercampur aduk di berbagai kedalaman.

Untuk mengatasi kerumitan tersebut, tim ilmuwan yang dipimpin oleh ilmuwan keplanetan Emily Costello dari University of Hawaii at Manoa mengembangkan model matematika baru. Model ini menghitung proses pencampuran regolit sekaligus peluruhan radioaktif dari materi bintang untuk memetakan kapan dan di mana debu bintang tersebut diendapkan.

Model ilmiah ini telah divalidasi dengan membandingkan prediksinya terhadap data sedimen laut dalam Bumi serta sampel regolit yang dibawa oleh misi Apollo. Hasilnya, model tersebut berhasil memprediksi profil kedalaman dan konsentrasi isotop seperti besi-60 (Iron-60) serta elemen berat lainnya.

"Saya pikir sangat indah bahwa sisa-sisa bintang di masa lalu dapat digunakan untuk memandu sejarah panjang wilayah Bumi-Bulan kita, jika kita memiliki pengetahuan tentang cara membaca debu bintang tersebut," jelas ilmuwan keplanetan Emily Costello.

Costello menambahkan mengenai pentingnya pemahaman fisika pencampuran regolit untuk misi masa depan. "Memahami fisika pencampuran regolit memastikan bahwa ketika astronot masa depan membawa kembali sampel inti yang lebih dalam, kita dapat membaca lapisan yang teracak tersebut dengan benar untuk merekonstruksi sejarah perjalanan sistem tata surya kita melintasi galaksi."

Temuan ini membuka jalan bagi para peneliti untuk membaca lembaran sejarah kosmik yang sebelumnya tidak terakses, mendampingi misi eksplorasi Bulan yang akan datang. (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |