CANTIKA.COM, Jakarta - Ada masa ketika olahraga ditempatkan sebagai satu agenda tersendiri dalam keseharian. Setelah jam kerja, misalnya, seseorang pergi ke pusat kebugaran. Akhir pekan menjadi waktu untuk bersepeda atau mengikuti kelas olahraga. Kini, batas tersebut semakin cair. Bagi perempuan urban, lari pagi bisa menjadi waktu untuk berolahraga sekaligus bertemu teman. Kelas pilates bukan hanya tentang menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi ruang untuk bersosialisasi dan sejenak memberi waktu bagi diri sendiri.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana gaya hidup masyarakat urban ikut bergerak mengikuti ritme kehidupan yang semakin dinamis. Ketika pekerjaan, kehidupan sosial, kesehatan, dan kebutuhan personal sama-sama membutuhkan ruang, perempuan tidak selalu mencari cara untuk membagi waktu secara rata. Sebaliknya, mereka mulai memilih aktivitas yang bisa memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus.
Hal itu turut diamati oleh Djohan Sutanto, CEO Erajaya Active Lifestyle. Melalui momen 30 Tahun Erajaya Group, menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir batas antara pekerjaan, aktivitas fisik, kehidupan sosial, dan kebutuhan personal semakin menipis.
“Perempuan urban Indonesia tidak lagi berusaha membagi waktu secara merata, melainkan mencari kegiatan yang bisa menjawab beberapa kebutuhan sekaligus,” ujar Djohan.
Lari menjadi salah satu contoh paling sederhana. Aktivitas yang relatif mudah dilakukan tanpa persiapan rumit itu dapat dilakukan sebelum memulai hari, sepulang bekerja, maupun pada akhir pekan bersama teman. Sementara pilates atau kelas olahraga lainnya dapat menjadi kesempatan untuk menjaga kebugaran sekaligus bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa.
Pola tersebut sejalan dengan survei Populix pada 2024 yang disebut Djohan. Sekitar 94 persen responden mengaku berolahraga setidaknya satu kali dalam seminggu. Namun, 67 persen di antaranya masih menghadapi kendala waktu. Lari menjadi salah satu olahraga yang paling banyak dipilih, yang salah satunya karena aktivitas tersebut relatif minim persiapan dan dapat langsung dilakukan ketika seseorang keluar rumah.
Angka tersebut memperlihatkan satu hal menarik yakni keinginan untuk hidup lebih aktif sebenarnya cukup besar, tetapi waktu menjadi salah satu tantangan utama masyarakat urban. Karena itu, aktivitas yang fleksibel dan mudah diselipkan ke dalam rutinitas sehari-hari menjadi semakin relevan.
Ketika Olahraga Menjadi Bagian dari Identitas
Ilustrasi lari (pixabay.com)
Meningkatnya popularitas running club, komunitas pilates, cycling, hingga berbagai komunitas kreatif juga memperlihatkan bahwa aktivitas lifestyle kini tidak berhenti pada kegiatan itu sendiri.
Seseorang mungkin awalnya bergabung dengan komunitas karena ingin mulai rutin berlari. Namun, setelah beberapa kali mengikuti kegiatan, ia menemukan teman baru, mendapatkan rekomendasi tempat makan, bertukar pengalaman, bahkan membuka kesempatan untuk berjejaring.
“Menurut kami ketiganya bisa berjalan beriringan,” kata Djohan ketika ditanya mengenai apa yang sebenarnya dicari perempuan urban dari sebuah komunitas, apakah kesehatan, networking, atau rasa memiliki.
Kesamaan minat menjadi pintu masuk, tetapi hubungan yang terbentuk di dalamnya dapat berkembang lebih jauh. Komunitas kemudian menjadi ruang untuk bertemu, bertukar pengalaman, mendapatkan inspirasi, dan berbagi cerita.
Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, pengalaman tersebut menjadi semakin berarti. Sebab, gaya hidup tidak lagi hanya berbicara mengenai apa yang dilakukan, tetapi juga dengan siapa pengalaman tersebut dibagikan.
Tidak mengherankan jika olahraga kini kerap hadir berdampingan dengan aspek sosial. Running club, misalnya, tidak hanya mengajak anggotanya menyelesaikan jarak tertentu, tetapi juga menciptakan ritual bersama sebelum dan sesudah berlari. Begitu pula dengan kelas olahraga yang menjadi ruang bertemu dengan orang-orang baru.
Dengan demikian, active lifestyle perlahan menjadi bagian dari cara seseorang membentuk identitas. Pilihan olahraga, komunitas yang diikuti, hingga aktivitas yang dilakukan di waktu luang dapat menjadi cara untuk mengekspresikan diri sekaligus menunjukkan nilai-nilai yang dianggap penting.
Teknologi Bukan Lagi Sekadar Alat untuk Bekerja
Perubahan gaya hidup tersebut juga berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Jika sebelumnya perangkat teknologi lebih banyak diasosiasikan dengan pekerjaan, produktivitas, dan komunikasi, kini penggunaannya semakin dekat dengan wellness dan self-care.
Smartwatch atau wearable, misalnya, tidak hanya digunakan untuk melihat notifikasi. Perangkat tersebut dapat membantu pengguna memantau aktivitas harian, kualitas tidur, tingkat stres, hingga berbagai indikator kebugaran.
Menurut Djohan, bagi perempuan, kebutuhan terhadap perangkat seperti ini juga semakin spesifik. Teknologi dapat membantu pengguna memahami kebiasaan dan kondisi dirinya dengan lebih baik, meskipun tetap tidak menggantikan pemeriksaan kesehatan secara profesional.
“Teknologi kini bukan lagi sekadar perangkat penunjang, tetapi semakin menjadi bagian dari keseharian yang membantu masyarakat menjalani gaya hidup yang lebih aktif, sehat, dan seimbang,” tutur Djohan.
Menariknya, perangkat teknologi juga mulai dituntut untuk mengikuti kehidupan penggunanya, bukan sebaliknya. Satu perangkat dapat menemani seseorang ketika bekerja, berolahraga, bepergian, hingga menikmati waktu personal.
Hal serupa terlihat pada perangkat audio. Earphone, misalnya, dapat digunakan untuk mengikuti rapat virtual pada pagi hari, mendengarkan podcast dalam perjalanan, menemani sesi olahraga, atau sekadar mendengarkan musik ketika membutuhkan waktu sendiri.
Karena itu, pilihan konsumen terhadap produk lifestyle pun mulai berubah. Produk tidak hanya dinilai berdasarkan fungsi utamanya, tetapi juga berdasarkan seberapa mudah produk tersebut beradaptasi dengan berbagai aktivitas.
Sepatu yang awalnya dibeli untuk lari pagi, misalnya, bisa saja menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari. Perangkat audio yang digunakan untuk berolahraga dapat kembali menemani aktivitas pekerjaan. Batas antara produk olahraga, teknologi, dan lifestyle pun menjadi semakin tipis.
Mencari Produk yang Bisa Mengikuti Ritme Hidup
Ilustrasi wanita lari di atas tangga. Unsplash.com/EV
Perubahan perilaku tersebut pada akhirnya turut memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah produk. Konsumen urban cenderung membutuhkan sesuatu yang praktis, nyaman, dan mudah digunakan dalam berbagai situasi.
“Relevansi sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh spesifikasinya dan performanya, tetapi juga sejauh mana produk tersebut dapat memberikan kenyamanan dan mendukung gaya hidup penggunanya,” ujar Djohan.
Hal ini juga menjelaskan mengapa desain dan kenyamanan menjadi pertimbangan penting, terutama untuk perangkat yang digunakan sepanjang hari. Sebagus apa pun fitur yang ditawarkan, perangkat tersebut tetap harus terasa nyaman ketika menjadi bagian dari rutinitas.
Pada titik ini, teknologi dan active lifestyle bertemu. Teknologi membantu seseorang memahami aktivitas dan membangun kebiasaan, sementara aktivitas fisik dan komunitas memberikan ruang untuk menjalani pengalaman tersebut secara lebih nyata. Keduanya bukan lagi dua dunia yang terpisah.
Menuju gaya hidup yang lebih personal
Ke depan, perubahan ini kemungkinan akan membuat gaya hidup perempuan urban semakin personal. Tidak ada lagi satu definisi tentang bagaimana seseorang harus terlihat aktif, sehat, atau produktif.
Ada yang memilih berlari sebelum bekerja. Ada yang merasa lebih nyaman mengikuti kelas pilates setelah menyelesaikan pekerjaan. Ada pula yang menemukan kebahagiaan lewat bersepeda bersama komunitas pada akhir pekan atau sekadar berjalan kaki sambil mendengarkan musik. Yang berubah bukan hanya aktivitasnya, tetapi cara perempuan menentukan apa yang sesuai dengan kehidupannya.
Djohan melihat perempuan urban Indonesia ke depan akan memiliki mobilitas dan kebutuhan yang semakin beragam. Teknologi pun diperkirakan semakin terintegrasi dengan keseharian, membantu aktivitas menjadi lebih praktis, nyaman, sekaligus personal. Bagi Erajaya Active Lifestyle, perubahan tersebut tercermin dalam portofolio yang mencakup smart technologies, athleisure, dan lifestyle.
Namun, di luar produk dan teknologi, perubahan yang lebih menarik sebenarnya terjadi pada perilaku penggunanya. Gaya hidup urban kini semakin sulit dimasukkan ke dalam satu kategori. Olahraga dapat menjadi ruang sosial. Komunitas dapat menjadi bagian dari wellness. Teknologi dapat menjadi teman untuk membangun kebiasaan.
Kelak, perempuan urban tidak hanya sedang mencari cara untuk menjadi lebih aktif. Mereka sedang mencari cara hidup yang bisa mengikuti ritme mereka sendiri agar tetap sehat, tetap terhubung, tetap produktif, tetapi juga memiliki ruang untuk menikmati waktu bagi diri sendiri.
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.








































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9300188/original/036780100_1784309060-16__1_.jpg)









