Ilustrasi negosiasi AS-Iran.(X)
PEMERINTAH Iran menyatakan tidak akan memenuhi kewajibannya dalam nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat (AS) yang dimediasi Pakistan selama Washington masih dianggap melanggar komitmen yang telah disepakati bersama. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan posisi Teheran tetap didasarkan pada prinsip timbal balik dalam pelaksanaan kesepakatan.
"Sejak awal kami telah mengatakan bahwa ini adalah persoalan komitmen dibalas komitmen. Jika pihak lain (AS) memenuhi komitmennya, kami juga akan memenuhi komitmen kami," kata Baqaei dalam konferensi pers yang dikutip kantor berita Tasnim, Senin (13/7).
Baqaei menegaskan Iran tidak dapat dituduh sebagai pihak yang melanggar perjanjian. "Tidak seorang pun dapat menuduh Republik Islam Iran melanggar perjanjian. Dalam setiap kasus, kewajiban kami dan pihak lain jelas serta dapat dibuktikan," ujarnya.
Menurut Baqaei, Amerika Serikat telah melanggar sejumlah ketentuan dalam nota kesepahaman dengan berbagai alasan. Karena itu, Iran menilai tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan isi kesepakatan selama pelanggaran tersebut terus berlangsung. "Selama pihak lain terus melanggar komitmennya, Republik Islam Iran juga tidak akan memenuhi kewajiban yang telah diembannya," ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa nota kesepahaman tersebut kini telah memasuki fase krisis. Meski demikian, Baqaei menegaskan jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama bagi Iran di tengah meningkatnya eskalasi militer. "Diplomasi adalah instrumen yang tidak pernah berhenti. Kami akan menggunakan segala cara untuk melindungi kepentingan nasional kami," lanjutnya.
Ia menambahkan para mediator diharapkan terus berupaya mencegah konflik semakin meluas. Dalam beberapa hari terakhir, Iran disebut telah menggelar pertemuan dengan pejabat Qatar dan Oman serta tetap menjaga komunikasi dengan Pakistan.
Baqaei juga menepis anggapan bahwa Iran menyerang negara-negara tetangganya. "Kami tidak menyerang negara mana pun di kawasan dan kami tidak akan menyerang mereka," katanya.
Ia menjelaskan bahwa operasi militer Iran hanya diarahkan kepada pangkalan, fasilitas, dan lokasi yang digunakan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk instalasi logistik dan fasilitas pendukung.
"Setiap wilayah atau bagian dari negara mana pun yang digunakan untuk menyerang Republik Islam Iran, pada prinsipnya akan menjadi sasaran langkah-langkah pertahanan Iran," ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat. Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer dan infrastruktur di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Teheran menuduh Washington berulang kali melanggar nota kesepahaman yang disepakati pada 17 Juni. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut sudah tidak lagi berlaku. (Fer/P-3)


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)















