Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang usai karena kemampuan militer Iran sudah lumpuh.
Kendati begitu, CNN mengungkap fakta bahwa kekuatan Iran sama sekali tidak kolaps, bahkan mungkin lebih besar dari yang dibayangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CNN menganalisis berbagai data mulai dari statistik resmi negara-negara Arab hingga data lembaga-lembaga think tank untuk memahami mengapa kampanye militer Iran tidak pernah berhenti dan bagaimana pola serangan Iran menunjukkan kemampuan dan strategi militernya.
Dari hasil analisis tersebut, disimpulkan bahwa Iran menggunakan strategi perang asimetris, yakni taktik yang dirancang untuk membuat perang timpang melalui biaya ekonomi dan politik yang tinggi, alih-alih konfrontasi militer secara langsung.
Di awal perang, Iran habis-habisan meluncurkan rudal dan drone ke tujuh negara Teluk tetangganya secara bersamaan. Kelompok milisi proksinya di sisi lain ikut menyerang negara-negara lain.
"Para pengamat mengatakan ini kemungkinan besar taktik saturasi massal untuk memaksa AS menggunakan seluruh kemampuan pertahanan udaranya," demikian laporan CNN.
"Menurut sejumlah sumber, persediaan rudal AS secara signifikan berkurang selama perang."
Beberapa hari setelah bombardir besar-besaran AS-Israel terhadap rudal Iran, Teheran mengubah strategi perang mereka. Iran beralih dari serangan rudal ke pembuatan dan serangan drone, "yang lebih murah dan lebih lincah, yang menjadi inti kampanye mereka."
"Bisa dilihat bahwa serangan drone Iran secara konsisten digunakan di Uni Emirat Arab (UEA). Iran juga beralih ke senjata yang lebih mematikan, seperti bom klaster, yang menargetkan Israel dan memaksimalkan lokasi ledakan," demikian laporan CNN.
Penggunaan bom klaster yang kontroversial ini telah mengakibatkan kerugian besar di Israel, khususnya terhadap warga sipil. Bom klaster seringkali memberi dampak merusak dan tidak pandang bulu.
Pola serangan Iran hari demi hari juga terlihat semakin strategis. Sebagai contoh, ketika Trump mengancam akan meledakkan ladang gas Iran apabila terus menyerang infrastruktur Qatar, Teheran mengalihkan serangannya ke Bahrain.
Iran saat ini juga tengah meningkatkan produksi senjata mereka, bersamaan dengan kendali penuhnya terhadap Selat Hormuz.
"Itulah keunggulan strategis terbesar mereka," lapor CNN.
"Tidak ada tanda-tanda goyah di Iran. Justru sebaliknya. Dan yang tidak biasa dilihat orang adalah, sebuah negara yang menimbulkan biaya yang sangat besar, dan berjuang lebih keras, bukan lebih lemah," kata Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago Robert Pape.
Meskipun militer Iran memang mulai melemah, data dan fakta di lapangan menunjukkan adanya daya tahan dan fleksibilitas, serta kemampuan Iran untuk bersikap strategis secara politik.
"Hal ini yang membuat beberapa analis mengatakan jika perang kembali berkobar, Iran tidak akan tinggal diam," tutup CNN.
(blq/rds)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
3






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)











