PEMADAMAN listrik bergilir yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sejak pekan lalu, juga diikuti pemadaman air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). PDAM menyebut gangguan terjadi karena perawatan darurat pipa jaringan distribusi utama yang rusak akibat listrik byar pet.
Tujuh kecamatan di Kota Medan menjadi wilayah paling terdampak pemadaman air adalah Delitua, Medan Amplas, Medan Kota, Medan Area, Medan Perjuangan, Medan Maimun dan sebagian Percutseituan. Semuanya masuk ke dalam lima cabang layanan PDAM Tirtanadi, yaitu Cabang Delitua, Medan Kota, Medan Denai, HM Yamin dan Cabang Tuasan sekitarnya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Direktur Utama PDAM Tirtanadi Medan Ardian Surbakti pada akun resmi @tirtanadiprovsu menyebut perbaikan dijadwalkan mulai Selasa malam, 9 Juni 2026 sampai selesai. Akibatnya, aliran air di wilayah terdampak akan mengecil dan mati total.
“Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara atas gangguan pelayanan air bersih akibat kerusakan mesin operasional yang terjadi karena pemadaman listrik,” kata Ardian.
Wakil Ketua Bidang Politik Dewan Perwakilan Daerah PDI Perjuangan Sumut Sutrisno Pangaribuan menilai pemadaman listrik hanya alasan. Akibat pemadaman air, ribuan pelanggan tidak dapat melakukan aktivitas mandi, cuci dan kakus. Sementara air yang disalurkan mobil tanki hanya cukup untuk kebutuhan memasak warga.
"Alasan kerusakan pompa akibat pemadaman listrik adalah kambing hitam. Gubernur harus muncul karena memilih direksi dan dewan pengawas PDAM Tirtanadi yang tidak becus. Atau kapan Bobby Nasution mendatangi Perumda Tirtanadi seperti yang dilakukannya kepada PLN? Apa kompensasi yang akan diperjuangkannya untuk pelaku usaha yang merugi?" kata Sutrisno, Rabu, 10 Juni 2026.
Dia meminta Gubernur Sumut Bobby Nasution segera merealisasikan kompensasi untuk ribuan pelanggan PDAM yang dirugikan. "Lampu mati, air mati, kami minta kompensasi!" katanya.
Mengantisipasi keluhan warga yang kehilangan sumber air bersih, Wali Kota Medan Rico Waas menginstruksikan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) menyuplai air bersih langsung ke pemukiman. Lima armada dikerahkan untuk menyisir wilayah yang terdampak krisis air. Salah satu titik penyaluran di Jalan DC Barito, Kecamatan Medan Polonia.
"Kami minta seluruh jajaran kecamatan memantau dan mengawal penyaluran air bersih ini. Pastikan semua warga yang membutuhkan mendapat pasokan tanpa terkecuali," kata Rico.
Kepala Dinas Damkarmat Kota Medan Wandro Abadi Agnellus Malau menambahkan, ada 24 personel yang turun khusus untuk membantu pendistribusian air bersih kepada warga. Pihaknya terus berkomunikasi dengan kecamatan agar proses distribusi berjalan efektif dan tepat sasaran.
"Begitu ada laporan wilayah yang kekurangan air, armada langsung kami luncurkan ke lokasi agar penanganan bisa secepat mungkin," ucapnya.
Warga sempat protes saat mobil tanki air Damkarmat mengisi air ke rumah Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan Benny Sinomba Siregar, yang tak lain adalah paman Gubernur Sumut Bobby Nasution. Puluhan warga Jalan STM Gang Suka Cita, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, protes.
Warga yang didominasi emak-emak itu menuding pemberian air tidak adil karena mereka tidak mendapat bantuan serupa. “Kami sudah tidak ada air sejak malam. Mobil Damkar malah mengisi air ke rumah pejabat. Masyarakat tidak dilayani,” ucap Marni kecewa.
Ketegangan sempat terjadi ketika warga meminta pemerintah memberikan penjelasan terkait mekanisme penyaluran bantuan air bersih serta alasan rumah pejabat menjadi prioritas. Mobil tanki air akhirnya memilih meninggalkan lokasi.
Fadli, salah seorang pemilik usaha di Jalan Utama, Kota Medan, bercerita kalau air mati di rumahnya sejak Selasa malam sampai Rabu. Kondisi semakin parah karena listrik juga padam. "Semuanya mati! Percuma buat call center, dihubungi tidak bisa. Padahal, cuma mau nanya di mana ada penyaluran air bersih," ucapnya.
Di Kota Binjai, kota tetangga Medan dan Kabupaten Deliserdang, pemadaman listrik dan mati air juga dirasakan Dinda. Ibu dua anak ini merasa dirugikan karena tidak bisa bekerja tanpa listrik dan harus membeli air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari. "Pantaslah kami meminta kompensasi, terlalu banyak ruginya masyarakat ini," katanya.






































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)











