7 jenis letusan gunung api dan karakteristiknya

1 day ago 2

Jakarta (ANTARA) - Gunung api tidak selalu meletus dengan cara yang sama. Ada gunung yang mengeluarkan lava secara perlahan, ada yang menyemburkan material vulkanik secara berkala, dan ada pula yang menghasilkan ledakan besar hingga abu vulkanik membumbung tinggi ke atmosfer.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti sifat magma, kandungan gas, tingkat kekentalan magma, serta kondisi saluran di dalam gunung. Karena itu, para ahli mengenal beberapa gaya atau tipe letusan gunung api dengan karakteristik yang berbeda.

Fenomena ini kembali menarik perhatian seiring aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami erupsi dan menghasilkan material vulkanik. Aktivitas tersebut juga menunjukkan bahwa satu gunung api dapat mengalami perubahan gaya erupsi dari waktu ke waktu.

Lantas, apa saja jenis-jenis letusan gunung api?

1. Letusan Hawaiian

Sesuai namanya, tipe letusan ini banyak dikaitkan dengan gunung api di Hawaii. Karakteristik utamanya adalah magma yang relatif cair sehingga lebih mudah mengalir keluar dari kawah atau rekahan.

Letusan Hawaiian umumnya tidak didominasi ledakan besar. Material yang paling banyak keluar berupa aliran lava dan dapat membentuk semburan atau pancuran lava yang disebut lava fountain.

Karena lavanya sangat cair, material tersebut dapat mengalir cukup jauh dari sumber erupsi. US Geological Survey (USGS) menyebut letusan Hawaiian biasanya bersifat lemah hingga hampir tidak eksplosif dibandingkan beberapa tipe letusan lainnya.

Baca juga: Wisatawan diimbau utamakan keselamatan saat erupsi Anak Krakatau

2. Letusan Strombolian

Tipe Strombolian bisa dibilang lebih eksplosif dibandingkan Hawaiian, tetapi umumnya masih berada pada tingkat rendah hingga sedang.

Ciri khasnya adalah ledakan-ledakan yang terjadi secara berkala. Gas yang terkumpul di dalam magma kemudian pecah dan mendorong gumpalan lava pijar, lapili, serta material vulkanik lainnya ke udara.

Letusan seperti ini dapat terlihat seperti lontaran material pijar yang muncul berulang kali dari kawah. Material yang jatuh di sekitar kawah juga dapat membentuk kerucut atau menambah timbunan material vulkanik.

USGS menjelaskan bahwa letusan Strombolian dicirikan oleh ledakan gas yang melemparkan gumpalan lava pijar ke udara.

3. Letusan Vulcanian

Kalau Strombolian berupa letusan-letusan yang relatif berulang, tipe Vulcanian biasanya menghasilkan ledakan yang lebih kuat dan singkat.

Magma pada tipe ini cenderung lebih kental. Gas lebih sulit keluar sehingga tekanan dapat terakumulasi sebelum akhirnya dilepaskan melalui ledakan.

Hasilnya berupa semburan abu, batuan, dan gas yang dapat membentuk kolom erupsi di atas kawah. Awan erupsi Vulcanian sering kali tampak padat dan menyerupai bentuk bunga kol atau jamur.

Menurut USGS, letusan Vulcanian umumnya melibatkan magma yang relatif dingin, kental, dan kaya gas.

Baca juga: Apa yang terjadi di dalam gunung sebelum erupsi? Ini prosesnya

4. Letusan Plinian

Plinian termasuk salah satu tipe letusan eksplosif yang sangat kuat. Nama ini merujuk pada pengamatan Plinius Muda terhadap erupsi Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.

Ciri utamanya adalah terbentuknya kolom erupsi yang sangat tinggi akibat lontaran abu, batu apung, gas, dan material vulkanik dalam jumlah besar.

Abu yang terbawa angin dapat menyebar hingga wilayah yang sangat luas. Letusan Plinian juga dapat disertai aliran piroklastik yang bergerak cepat di sekitar gunung.

USGS mencatat letusan Plinian dapat melontarkan abu dan gas hingga ketinggian yang sangat besar serta menghasilkan dampak luas di wilayah yang berada di arah angin.

5. Letusan Pelean

Tipe Pelean memiliki karakteristik yang berkaitan dengan magma sangat kental dan pembentukan kubah lava.

Karena magma sulit mengalir, material dapat menumpuk di sekitar kawah dan membentuk kubah. Jika kubah tersebut runtuh, material panas berupa abu, gas, dan pecahan batuan dapat bergerak menuruni lereng sebagai aliran piroklastik.

Tipe ini dikenal berbahaya karena aliran piroklastik dapat bergerak cepat dan membawa material bersuhu sangat tinggi.

6. Letusan Freatik

Berbeda dari beberapa tipe sebelumnya, letusan freatik tidak harus melibatkan keluarnya magma baru ke permukaan.

Letusan ini terjadi ketika air di dalam atau sekitar sistem gunung api bersentuhan dengan material yang sangat panas. Air kemudian berubah menjadi uap dan mengalami ekspansi secara cepat sehingga menghasilkan ledakan.

Material yang terlontar terutama berasal dari batuan yang sudah ada di sekitar saluran gunung api, bukan magma baru.

Karena itu, letusan freatik bisa terjadi bahkan ketika tanda keluarnya magma belum terlihat jelas di permukaan.

Baca juga: Kenapa abu vulkanik bisa menyuburkan tanah? Ini penjelasannya

7. Letusan Surtseyan

Tipe Surtseyan termasuk letusan yang terjadi ketika magma berinteraksi dengan air dalam jumlah besar, terutama pada lingkungan laut atau perairan dangkal.

Pertemuan magma dengan air dapat menghasilkan ledakan uap yang kuat dan memecah magma menjadi material vulkanik berukuran kecil.

Letusan semacam ini juga dapat membentuk pulau vulkanik baru jika material yang dikeluarkan terus menumpuk hingga muncul di atas permukaan laut.

Tidak semua gunung hanya punya satu tipe letusan

Hal yang perlu dipahami, klasifikasi tersebut bukan berarti satu gunung api akan selamanya memiliki satu jenis letusan.

USGS menjelaskan bahwa selama satu periode aktivitas, gunung api dapat menunjukkan lebih dari satu gaya erupsi. Perubahan tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi magma, kandungan gas, tingkat kekentalan, serta proses yang berlangsung di dalam sistem vulkanik.

Itulah sebabnya aktivitas gunung api perlu terus dipantau. Perubahan jumlah gempa, kondisi kawah, gas vulkanik, deformasi tubuh gunung, hingga karakter material yang dikeluarkan dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan aktivitasnya.

Pada akhirnya, jenis letusan gunung api bukan sekadar soal seberapa besar ledakannya. Cara magma bergerak, kandungan gas, kekentalan magma, serta interaksinya dengan air juga ikut menentukan seperti apa sebuah erupsi berlangsung.

Memahami karakteristik tersebut penting agar masyarakat tidak menganggap semua letusan gunung api memiliki pola dan potensi bahaya yang sama, demikian mengutip USGS.

Baca juga: 11 gunung api di Indonesia yang erupsi sepanjang 2026

Baca juga: Abu vulkanik bisa bertahan berapa lama setelah erupsi gunung?

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |