Jakarta (ANTARA) - Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah aktivitas vulkaniknya pada awal September 2026 menghasilkan kolom abu yang menyebar ke sejumlah wilayah. Abu vulkanik bahkan terdeteksi hingga wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat karena terbawa angin. Dampaknya cukup luas, mulai dari gangguan penerbangan hingga aktivitas masyarakat di sejumlah daerah. Badan Geologi juga masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Kondisi tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, setelah erupsi berhenti dan abu tidak lagi turun, sebenarnya berapa lama abu vulkanik bisa bertahan di lingkungan?
Jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dalam hitungan hari. Abu vulkanik dapat bertahan di lingkungan selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan lebih lama, tergantung kondisi wilayah dan seberapa banyak abu yang jatuh.
Abu vulkanik merupakan material berukuran sangat kecil yang terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik lain saat terjadi erupsi. Karena ukurannya ringan, sebagian partikel dapat terbawa angin cukup jauh sebelum akhirnya mengendap.
Setelah berada di permukaan tanah, jalan, atap, kendaraan, atau perabot rumah, abu tersebut juga tidak otomatis hilang ketika aktivitas erupsi berakhir.
Angin dan aktivitas manusia, misalnya kendaraan yang melintas, dapat membuat abu yang sudah mengendap kembali beterbangan. International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) menjelaskan bahwa kondisi kering membuat abu lebih mudah terangkat kembali oleh angin maupun lalu lintas. Hujan dapat membantu mengendapkan abu, tetapi dalam jumlah besar proses pembersihannya tetap membutuhkan waktu.
Baca juga: Dokter: Abu vulkanik masuk ke pernapasan sebabkan peradangan paru
Berapa lama abu vulkanik bertahan?
Tidak ada batas waktu yang sama untuk semua wilayah. Abu tipis yang jatuh di permukaan terbuka bisa berkurang secara alami setelah terkena angin dan hujan. Namun, abu yang menumpuk di sudut bangunan, saluran air, halaman, atap, atau permukaan lain bisa bertahan lebih lama.
Menurut U.S. Geological Survey (USGS), proses pembersihan abu vulkanik dapat berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, terutama ketika wilayah yang terdampak luas dan endapan abu cukup banyak. Lama proses tersebut juga dipengaruhi ketersediaan alat serta luas area yang harus dibersihkan.
Artinya, meskipun langit sudah kembali terlihat normal beberapa hari setelah erupsi, bukan berarti seluruh abu vulkanik sudah hilang dari lingkungan.
Angin bisa membuat abu kembali beterbangan
Salah satu alasan abu vulkanik dapat bertahan lebih lama adalah proses yang disebut remobilisasi. Sederhananya, abu yang sebelumnya sudah mengendap bisa kembali terangkat ke udara.
Abu dengan ukuran sangat halus lebih mudah mengalami proses ini. Kendaraan yang melintas di jalan yang masih tertutup abu, misalnya, dapat membuat partikel kembali beterbangan. Angin kencang juga bisa membawa abu dari satu lokasi ke lokasi lain. USGS menyebut angin dapat menyebarkan kembali abu ke area yang sebelumnya sudah dibersihkan.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya tidak menganggap kondisi sudah sepenuhnya aman hanya karena hujan sudah turun atau abu tidak lagi terlihat tebal.
Hujan memang dapat membantu membersihkan abu dari permukaan tertentu. Namun, air dalam jumlah besar juga bisa membawa abu masuk ke saluran drainase dan menumpuk di area rendah.
Abu yang basah kemudian dapat mengeras ketika mengering. Kondisi ini justru bisa membuat proses pembersihan menjadi lebih sulit. USGS mencatat hujan dapat membantu membersihkan atap, tetapi juga berpotensi menyebabkan saluran air tersumbat dan membuat endapan abu mengeras.
Jadi, hujan bukan berarti abu vulkanik langsung lenyap. Sebagian memang terbawa air, tetapi sebagian lainnya dapat berpindah dan mengendap di tempat lain.
Baca juga: Lima langkah aman berkendara saat terpapar abu vulkanik
Apakah abu vulkanik masih berbahaya setelah erupsi selesai?
Risiko tidak otomatis berakhir ketika erupsi berhenti. USGS mencatat dampak aktivitas vulkanik dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah erupsi berakhir, tergantung jenis material dan dampak yang ditimbulkan. Karena itu, pemantauan kondisi gunung dan lingkungan tetap diperlukan.
Untuk abu vulkanik, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan partikel kembali masuk ke udara. Masyarakat sebaiknya tetap menggunakan masker yang sesuai ketika membersihkan endapan abu, terutama jika abu masih mudah beterbangan.
Kapan lingkungan bisa kembali normal?
Tidak ada satu patokan waktu yang berlaku untuk semua daerah. Wilayah dengan abu tipis dan segera mendapat hujan mungkin bisa kembali relatif bersih dalam waktu lebih singkat. Sebaliknya, daerah yang menerima endapan abu cukup tebal dapat membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk benar-benar membersihkannya.
Dalam kondisi seperti erupsi Gunung Anak Krakatau, faktor arah angin juga sangat penting. Abu dapat menyebar jauh dari sumber erupsi dan kemudian kembali beterbangan ketika kondisi kering atau ada aktivitas kendaraan.
Karena itu, setelah erupsi, masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dari Badan Geologi/PVMBG, pemerintah daerah, dan instansi terkait. Jangan terburu-buru menganggap lingkungan sudah bebas dari abu hanya karena erupsi telah berhenti.
Pada akhirnya, lama abu vulkanik bertahan bukan hanya ditentukan oleh kapan gunung berhenti erupsi, tetapi juga oleh apa yang terjadi setelahnya. Angin, hujan, ketebalan abu, kondisi permukaan, serta aktivitas manusia semuanya ikut menentukan berapa lama material tersebut masih berada di lingkungan.
Baca juga: Pemprov Lampung: OMC dilakukan urai abu vulkanik dan turunkan hujan
Baca juga: BPBD Lampung: Sebaran abu vulkanik GAK ke arah barat laut
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)











